It happened so fast. Lebih cepat daripada jantungku yang meriuh sekarang. Kedua mataku sudah melebar terkejut, dan tanganku reflek sempurna mencengkram bahu lebar Han. Entah memberi jarak atau menyalurkan perasaan campur aduk nggak jelas itu.
Berada di bawah kungkungan Han secara nggak sengaja, tangan kirinya menahan bobot tubuhnya di sandaran sofa, dan sebelah kanan dibuat menumpu di sebelah kepalaku persis. Surai depan hitamnya jatuh, terlihat lembut. Mau aku sisir ke belakang... Eh?
“Maaf... ini harus gimana,” cicit Han, nggak mengubah posisi sama sekali. Lekat menatapku bergantian dari iris coklatku, turun ke bibirku, dan kembali lagi ke mata.
“Aku gatau,” jawabku jujur. Enggan mendorong tubuh besarnya, entahlah. Pikiranku sedang nggak berjalan sesuai keadaan.
Aku bisa mendengar Han menghela nafas pendek. Tiba-tiba tangan kanannya yang awalnya bertumpu, sekarang berada di bawah leherku. Lalu laki-laki itu berucap, “Permisi ya.” Setelahnya tubuhku ditarik dengan bantuan tangan kirinya juga untuk duduk.
Duduknya bukan aku duduk menempel sofa coklat milik Han. Kepalaku mau pecah rasanya ketika diposisikan laki-laki itu untuk duduk di atas pahanya sendiri. Gila.
Sebagai respon pertama, aku menaruh kedua tanganku di depan dadanya. Memberikan jarak aman, kurang lebih. Namun, sia-sia juga akhirnya. Toh, sekarang kedua tangan Han sudah melingkar di pinggangku. Pelan-pelan menarik aku maju buat lebih dekat kepadanya. Sampai-sampai aku harus menoleh ke samping, pokoknya nggak mau lihat muka Han dengan jarak yang super dekat ini.
“Liat aku,” titah Han. Aku menggeleng. Nggak berani, sumpah.
Tangan kiri Han meraih daguku, memalingkan wajahku agar lurus menatapnya. meski wajahku sudah berseberangan dengannya, mataku masih ke mana-mana. Yang penting nggak langsung menatap Han.
“Kayaknya aku mending turun—”
Sangat amat klise. Aku bahkan nggak pernah kepikiran bakal mengalami hal konyol bikin perut melilit seperti ini; kalimatku dipotong sepihak oleh Han dengan cara membungkam bibirku dengan miliknya sendiri; kita berciuman—Han menciumku, sih.
Baru setelah Han menarik jauh wajahnya, akhirnya aku menatapnya; terkejut, malu, dan marah. Kalau bisa tersalurkan, pipiku mungkin sudah merah. antara marah dan malu bercampur menjadi satu.
Satu tamparan cukup kuat mendarat di pipi kirinya. aku belum siap, Han belum meminta perizinanku.
“Nggak sopan.”
Baru setelah aku mengatakan dua kata itu, sekarang Han yang terkejut. Aneh, sumpah.
“Maaf. Astaga, aku minta maaf.” Mata maaf terus terucap dari belah bibir Han, kedua tangannya mulai merenggang pada pinggangku.
Aku menghela nafas gusar. Kedua tanganku lantas terangkat untuk menutupi seluruh wajahku. Frustrasi sendiri. “Itu ciuman pertamaku, Han.” Aku melirih, kesal setengah mati. Kupikir ciuman pertamaku akan diambil oleh entah siapapun itu—aku juga berharap itu Han—dan situasinya sangat manis, tidak seperti ini. Terburu-buru dan sangat acak.
Bibir bawahku ku gigit pelan, menyalurkan semua gelisah dan kecewa. Lalu, aku bisa merasakan sentuhan lembut dari Han di atas telapak tanganku, membawa mereka untuk menjauhi wajahku. Aku berjengit saat ibu jari Han mengusap bagian bawah bibirku, otomatis gigitan pada bibir bawahku terlepas. Meninggalkan bekas kemerahan yang samar.
“It was my first too...”
Suara Han terdengar berbisik, jarak wajahnya kembali mendekat hingga aku bisa melihat jelas warna matanya. Cokelat gelap yang kurasa aku bisa hilang di dalam sana. Mendengar jawaban yang nggak sama sekali membantu, yang ada malah jantungku berdebar kencang. Kalau bisa, ia melompat dari tempatnya.
