We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

Prolog

5 0 0
                                        

Ada banyak hal yang bisa dilupakan manusia.
Ulang tahun. Nomor antrian. Waktu pulang sekolah.
Tapi tidak dengan satu hal:
orang yang membuatmu merasa dilihat di saat kamu bahkan tidak tahu caranya melihat diri sendiri.

Aku pernah bertemu seseorang seperti itu.
Dan kehilangan dia, adalah luka yang tidak berdarah tapi terasa di setiap denyut.

Namanya Raka Mahendra.

Kami tidak sekelas, tapi satu jurusan.
Dia selalu yang pertama. Paling pintar.
Sementara aku—Alya Kirana—selalu jadi nomor dua,
bukan karena tak mampu,
tapi karena aku terlalu sibuk membangun draf-draf cerita di kepalaku
agar hidup terasa lebih bisa dikendalikan.

Dan Raka?
Entah kenapa, dia masuk ke dalam salah satu cerita itu.

Kami sering bersama .
Proyek, belajar, saling menunggu di kolam depan ruang komputer.
Sampai suatu hari aku sadar:
aku tidak hanya mencintai dia. Aku mencintai versi dirinya yang kubentuk sendiri.

Itulah awal dari segalanya.
Draf pertama—manis dan penuh harapan.
Draf kedua—retak, tapi hangat.
Draf ketiga—penuh kebingungan dan air mata.
Dan draf keempat...
Satu draf yang tak pernah selesai karena aku sendiri tidak tahu mana akhir yang layak ditulis.

Sampai hari ini, aku masih duduk di meja kayu lama di ujung koridor sekolah.
Meja itu saksi ketika aku jatuh cinta.
Dan juga saat aku kehilangan.
Aku datang bukan untuk menulis ulang,
tapi untuk menutup lembar yang terlalu lama kubiarkan terbuka.

Jika kamu membaca ini, Raka...
Aku hanya ingin bilang:
"Terima kasih karena pernah menjadi bagian dari cerita yang membuatku belajar mencintai diriku sendiri."

Dan untuk kamu yang membaca kisah ini dari luar,
ingatlah:
Cinta yang paling tulus tak selalu selesai dengan memiliki,
tapi dengan melepaskan, lalu tetap mengenangnya dengan jujur.


Draft ke empat yang tak pernah selesaiStories to obsess over. Discover now