Di balik Paviliun Rubah Putih, Dazai Osamu memerintah dunia siluman dengan senyum penuh rahasia. Nakahara Chuuya, manusia berdarah naga, dikirim sebagai tebusan oleh klannya-dan kini menjadi tangan kanan Dazai.
Setahun berlalu. Ia kira sudah memaha...
Wilayah siluman yang berada di antara langit dan bumi, dikuasai oleh Dazai Osamu, siluman rubah putih berekor sembilan—licik, memikat, penguasa Baihu Lou "Paviliun Rubah Putih".
Sekitar setahun lalu, klan manusia berdarah naga, Klan Ryuuren, tak sengaja membuka segel tempat terlarang milik Dazai dan membangkitkan kekuatan lama yang membuatnya murka.
Untuk menghindari kehancuran, mereka mengirim satu keturunan terkuat mereka—Nakahara Chuuya, yang sejak kecil mengandung darah naga paling murni—untuk mengabdi langsung kepada Dazai seumur hidup, menjadi wakil dan pelindung kehormatan klan. Sejak itu, ia menjadi Tangan Kanan Dazai.
Chuuya sudah hampir satu tahun mengabdi. Ia sudah terbiasa dengan tabiat Dazai yang misterius, suka mempermainkan bawahannya, dan sering tiba-tiba menyentuh atau menggoda Chuuya dengan kalimat ambigu. Tapi ia tak pernah tahu seperti apa ulang tahun Dazai.
.
.
.
¡Ay! Esta imagen no sigue nuestras pautas de contenido. Para continuar la publicación, intente quitarla o subir otra.
📌 Inspirasi Utama
Begitu Harukawa-sensei merilis official art bertema Chinese (budaya Tiongkok) ini, aku langsung: "Oke. Ini bukan art biasa. Ini undangan menulis fanfic supernatural dengan bumbu siluman, darah naga, dan... ya, ritual pengikatan roh lewat ranjang."
✨Lihat sendiri:
Dazai muncul elegan dan licin banget—duduk sambil main kipas, lengkap dengan sembilan ekor rubah yang mewah. Ini bukan manusia biasa. Ini Tuan Rubah yang butuh disembuhkan (dan dimanjakan).
Chuuya? Smoking hot. Literally. Duduk santai dengan pipa dan aura "aku bisa ngebakar dunia tapi masih sempat tampil kece". Di official art-nya, memang dia lebih ke simbol ular—aku sadar kok. Dan sejujurnya, interpretasi itu sah. Tapi saat aku menatap gambar itu lama-lama, melihat cara asap melilit tubuhnya, pakaian merah-hitamnya yang menguar panas, dan tatapan yang seolah menyimpan darah kuno... nggak tahu kenapa, di kepala dan hati ini langsung terjemah: "Dia naga. Manusia berdarah naga. Titik."
Bukan karena aku abai pada detail, tapi karena di dunia yang kutulis sendiri—aku berhak memilih siapa jadi makhluk apa.
Dan hey—ular sama naga tuh sebelas dua belas, kan? Sama-sama bersisik, sama-sama melata... bedanya cuma sayap dan kepercayaan masyarakat. Jadi ya, untuk fanfic ini: Chuuya adalah manusia berdarah naga. Yang denial, keras kepala, tapi tetap hot dalam suhu magma. 🐍→🐉✨
Yang lain? Mereka aesthetic banget juga sih (halo, Akutagawa sang jimat kelam (?), Ranpo si panda eksorsis, dan Atsushi si macan putih yang menggemaskan). Tapi jujur... aku fokus ke dua makhluk keras kepala ini aja. ✨🦊🐉
Dan dari sinilah semua bermula— Sebuah cerita persembahan, kutukan, dan pengikatan roh di bawah malam kesembilan belas.
Selamat membaca. Semoga kau temukan kehangatan, sihir, dan sedikit desahan di tiap lembarnya 🌸🦊🐉
.
.
.
📌 Informasi Tambahan: Fanfic ini adalah fanfic ketiga dalam rangka edisi spesial ulang tahun husbu kesayangan kita semua, Dazai Osamu 🥳🖤
Kalau kamu baru mampir atau ingin membaca dua fanfic sebelumnya, kamu bisa temukan di Book:Melodious Soukoku, tepatnya di: 🎼 Chapter 6: Blue in June 🎼 Chapter 7: Happy Birthday Dazai Osamu [Senja di Langit Sembilan Belas]
Terima kasih sudah membaca dan semoga kamu menikmati edisi kali ini juga! 💌✨