Never click suspicious links
Reminder: Wattpad will never ask for passwords, payment information, or other sensitive account security details.

RETAK - 1

1K 82 15
                                        

01 - Pemakaman

.

.

Langit di atas Konoha tampak mendung, seperti menyesuaikan diri dengan suasana hati orang-orang yang berkumpul di sana.

Angin musim gugur bertiup pelan, membawa aroma basah tanah dan dedaunan kering yang berserakan di tanah.

Di tengah lapangan yang tenang, sebuah batu nisan baru berdiri, masih basah oleh ukiran nama yang baru saja diukir: Hyuga Neji.

Ratusan orang hadir hari itu. Warga desa, shinobi dari berbagai klan, bahkan anak-anak kecil yang belum sepenuhnya mengerti makna dari kehilangan.

Mereka semua berdiri dalam diam, memandangi pusara yang bertuliskan nama Hyuga Neji, dikelilingi oleh bunga-bunga putih dan dupa yang terus menyala.

Naruto berdiri paling belakang. Tubuhnya tegap, satu-satunya tangan yang dia miliki terkepal di samping tubuhnya yang gemetar.

Matanya menatap lurus ke depan, tetapi pandangannya kosong. Ia tak bisa mendengar suara burung, desahan angin, atau bisik-bisik di sekitarnya. Yang ia dengar hanya gema dari suara terakhir Neji ... saat tubuh temannya itu rebah di pelukannya.

"Hidupmu berharga, Naruto. Lindungilah dia."

Hinata.

Matanya bergerak perlahan, dan akhirnya menemukan sosok gadis itu di antara kerumunan. Hinata berdiri tepat dihadapan makam Neji, mengenakan pakaian serba hitam, rambut panjangnya tergerai ditiup angin. Wajahnya pucat bahkan terlalu pucat.

Naruto melihat bahunya bergetar, kemudian tubuhnya berguncang pelan. Firasatnya buruk. Satu langkah Naruto ambil tanpa dia sadari. Namun sebelum ia sempat bergerak maju untuk berdiri di sampingnya, tubuh Hinata ambruk.

Naruto berhenti melangkah.

"Hinata-nee sama!"

Jeritan itu datang dari Hanabi yang berdiri tidak jauh di belakangnya. Orang-orang segera berlari, mengerumuni gadis itu. Shikamaru bergegas memanggil medis. Kiba mencoba menahan kepala Hinata agar tak membentur tanah.

Naruto ... tidak bergerak.

Ia hanya berdiri, membeku di tempatnya. Tubuhnya tak merespons, bahkan ketika Sakura berlari melewatinya. Pandangannya tak lepas dari tubuh Hinata yang kini terbaring tak sadarkan diri di tengah kerumunan.

"Neji-nii rela mati untukmu, karena hidupmu tak lagi milik dirimu sendiri, Naruto-kun."

"Jika kamu seperti ini artinya kamu tidak menghargai kematiannya."

"Bangunlah Naruto-kun, berdirilah bersamaku."

Bahkan orang yang terlihat paling kuat saat itu pun sebenarnya hancur. Hinata hanya berpura-pura kuat dihadapannya.

Tangan Naruto terkepal erat.

Sakit itu kembali. Perasaan bersalah yang menggerogoti dirinya dari dalam. Bukan hanya karena Neji mati untuk menyelamatkan dirinya. Tapi karena Hinata, gadis yang selalu tersenyum lembut padanya, seolah dia baik-baik saja, sekarang ikut hancur.

Naruto meremas bajunya sendiri, dadanya terasa sesak. Ia ingin menangis, tapi air matanya menolak keluar. Yang ada hanya lubang kosong yang makin membesar di dalam dirinya.

Lubang yang dulu sempat diisi oleh tawa, semangat, dan janji untuk melindungi orang-orang tercinta. Tapi hari itu, semuanya terasa seperti omong kosong.

✧・゚: *✧・゚:* ✧・゚:*✧・゚: *

Seusai upacara pemakaman, satu per satu pelayat mulai meninggalkan pemakaman desa, langkah mereka berat namun pasti menjauh dari liang kubur yang masih basah itu.

[13] RETAK.Stories to obsess over. Discover now