Mentari terbenam di ufuk barat
Cahayanya padam terkubur malam
Langkah kaki terasa ringan dan kuat
Di ujung senja bayangan tenggelam
---
Langkah Karin bergegas melewati sejumlah toko sekaligus pramusaji yang menyapanya. Dengan sopan namun terburu, Karin menolak brosur-brosur yang disodorkan oleh mereka. Karin sudah terlambat datang ke acara yang paling diinginkannya sejak lama. Sesekali Karin menoleh ke belakang, memastikan Kevin berada di dekatnya.
Berbeda dengan Karin yang berjalan cepat, Kevin melangkah santai sambil sesekali matanya menggoda para pramusaji itu. Khusus menghadiri acara penting ini, Karin meminta Kevin selaku pacarnya untuk menemani. Meskipun sepanjang perjalanan tadi Karin menggerutu, lantaran Kevin hampir lupa menjemputnya.
Terang saja Karin marah. Dari caranya berjalan, terpancar jelas kekesalan hatinya. Sekalipun Kevin sudah tertinggal agak jauh, Karin tidak mempedulikannya. Ia hanya menoleh ke belakang untuk memastikan Kevin tidak mangkir dari tugasnya. Meskipun dari jarak jauh, Karin dapat menangkap gerak-gerik pacarnya yang tengah menebar pesona. Karin mendengus kesal dan berusaha tidak ambil pusing.
Justru, derap langkahnya dipercepat kala ekor matanya menjumpai lokasi toko buku yang ditujunya. Tanpa berlama-lama, Karin seperti melayang menuju pusat semestanya. Ayunan kakinya terhenti, tepat di depan pintu masuk. Karin terperangah, mirip anak kecil yang baru pertama kali diajak ke toko buku. Di sinilah, acara yang sudah lama ia nantikan akan digelar. Berbekal informasi dari media sosial penyelenggara yang terus diikutinya, Karin cukup yakin untuk datang seorang diri. Anggaplah, Kevin hanya mengantarnya hari ini. Jadi ia tidak perlu menemani Karin mengikuti acara sampai selesai.
Dari pintu masuk, Karin mengintip ke dalam. Beberapa orang berlalu-lalang di sekitarnya. Di dalam toko, sudah terlihat keramaian peserta yang bergerombol memenuhi setiap ruang. Sayup-sayup terdengar suara lembut pembawa acara menyambut peserta. Sebelum melangkah masuk, Karin memastikan posisi Kevin agar tak terpencar jauh darinya.
Keberadaan Kevin sudah terlihat di antara kerumunan pengunjung mal. Baguslah, kali ini Kevin selamat dari omelannya. Perlahan, ketegangan di wajah Karin memudar. Amarahnya surut. Kedua alisnya tak lagi saling bertaut. Kevin muncul di hadapannya setelah melewati keramaian, lalu melongok ke dalam toko. Dari luar, terlihat pembawa acara sudah berdiri di atas mini-stage sembari mengarahkan peserta yang baru datang. Kemudian perhatian Kevin teralihkan pada Karin yang sibuk memoles riasan di wajahnya.
"Nah kan, acaranya juga belum mulai," seloroh Kevin dengan wajah sinis.
"Itu tandanya aku masih beruntung," sahut Karin sambil menyelipkan bedak dan gincu ke dalam tas. Setelah itu, ia mengeluarkan buku yang sudah disiapkannya.
"Ya sudah masuk sana," kata Kevin sembari mengeluarkan ponsel kemudian posisinya dimiringkan. "Aku tungguin di luar sampai kamu kelar."
Lagian siapa juga yang mau ngajakin? Karin menyindir dalam hati. Ia hafal betul tabiat Kevin yang gampang bosan dan membenci keramaian. Lagipula, Karin sudah memberi rundown acara, jadi pacarnya bisa menghibur diri sampai kegiatan yang diikutinya berakhir.
Sesaat sebelum bergabung dengan keramaian di dalam toko, terlebih dulu Karin memastikan posisi Kevin. Kalau ponselnya sudah miring, itu artinya Kevin tak akan menggubris panggilan telepon dari Karin. Saking hafal betul dengan kelakuan pacarnya, Karin bisa menemukan Kevin yang tengah asyik terduduk di pelataran toko menatap gawainya.
Setelah cukup tenang, Karin bisa merasakan otot-ototnya mulai mengendur. Pergulatan emosi dengan Kevin terasa melelahkan. Karin menghembuskan napas lalu menyemangati dirinya sendiri. Ayo Karin, kamu pasti bisa!
YOU ARE READING
Psyche: Memento Mori Memento Vivere
FantasyIni kisah Karin Marinka, penulis amatir yang karyanya tak banyak dikenal orang. Perjuangan membangun citra diri selama tiga tahun tak jua membuahkan hasil. Hingga suatu ketika, garis waktu mempertemukannya dengan Tiffany Prameswari, penulis novel Ke...
