H-7
Arca meminum kopinya dalam diam. Kepulan asap rokoknya melayang lesu, tak sanggup menembus udara siang yang berat dan mati. Warung itu dibungkus oleh cahaya yang terlalu terang. Cahaya yang tidak menghangatkan, hanya menyengat, membakar, dan menghakimi.
Sudah setahun matahari bersinar dengan keganasan yang aneh, seakan menatap dunia dengan mata api yang penuh dendam, seolah dipaksakan menembus atmosfer yang retak, menyulut setiap permukaan bumi dengan panas yang menyimpan amarah bisu.
Di kejauhan, suara serangga bersahutan. Namun alih-alih alami, dengungnya berulang dan serempak, seperti piringan rusak yang terus memutar rekaman dunia yang salah.
Warung langganannya, warung Bu Dewi, berdiri setia di tepi jalan. Penjaganya bukan manusia, melainkan droida model lama dengan pelat kode D-3WY99, yang oleh pelanggan tetap disapa dengan nama yang nyaris manusiawi: Dewi. Di dadanya, sebuah layar kecil terus-menerus memutar siaran berita.
"Terjadi lagi gempa bumi dengan magnitudo 4.1 di wilayah Sukabumi. Meski tergolong ringan, beberapa rumah warga dan infrastruktur publik dilaporkan mengalami kerusakan ringan." Laporan itu dibacakan dengan suara monoton, hampir tanpa infleksi. Seperti dibacakan oleh makhluk yang tidak tahu apa itu gentar.
Di sebelah Arca, dua sopir taksi duduk menyulut rokok. Percakapan mereka berderak pelan.
"Wah, gila. Udah tiga kali gempa minggu ini," ujar yang satu, menatap kopi tanpa minat. "Kecil sih, tapi kayak... ada yang gak beres."
Yang lain mengangguk, menurunkan suaranya. "Lo tau gak? Malem sebelum gempa di Sukabumi, katanya ada cahaya aneh ngambang di sawah. Kayak api, tapi bukan. Terbangnya diem aja."
Sopir pertama mengerutkan alis. "Serius? Sepupu gue juga cerita aneh. Katanya ngeliat adiknya ilang begitu aja di depan mata, pas mau ke dapur. Terus suaranya... muncul dari taman belakang. Kayak dia masih di sana. Cuma... gak kelihatan."
Sunyi mengendap sebentar sebelum suara tawa gugup menutupinya. "Negara ini makin aneh. Apa jangan-jangan beneran mau kiamat ya?"
Arca hanya diam. Di wajahnya, tak ada tanda keterkejutan. Percakapan seperti ini sudah terlalu sering ia dengar belakangan ini.
Jawa Barat memang tak asing dengan cerita ganjil. Dari cerita hantu, santet, dedemit, hingga politisi busuk. Tapi semua itu dulu hanyalah cerita untuk menakuti anak-anak. Sekarang? Cerita-cerita itu terasa... terlalu nyata. Terlalu dekat.
Arca menatap kopinya yang hampir habis. Kenangan lama menyentak pelan; tumpukan jurnal astrofisika, malam-malam penuh diagram bintang, dan mimpi tentang teleskop mahal seharga beberapa ratus juta rupiah. Tapi semua itu telah ia simpan rapi dalam laci hidupnya yang tak lagi dibuka.
Sekarang? Yang ia pikirkan hanya harga bensin yang terus naik dan spion motornya yang longgar entah keberapa kalinya minggu ini.
Ia menghela napas, lalu melirik ponselnya. "Error lagi." Aplikasi ojeknya kembali macet, seperti biasa. Masalah itu sudah menjadi rutinitas sejak setahun terakhir. Perusahaan bersikeras semuanya baik-baik saja, meski ribuan pengemudi mengalami error yang sama. Demo besar sempat pecah minggu lalu. Tapi seperti semua suara rakyat, ia menguap begitu saja.
Arca berdiri, menyisakan cangkir kopi yang masih hangat. Ia meninggalkan warung itu dengan langkah pelan, berharap jaringan aplikasi akan kembali normal di tengah jalan.
H-5
Setelah seharian membelah jalanan kota yang pengap dan gaduh, Arca duduk bersandar di teras kostannya, ditemani secangkir kopi hitam dan sebatang kretek yang mulai menyusut di ujung jarinya. Malam di Bogor tampak biasa, mendung menggantung tanpa niat hujan, dan suara jangkrik berbaur dengan deru jauh dari rel kereta. Namun dunia, diam-diam, sedang berubah.
YOU ARE READING
Sunfall
Science FictionArca, seorang pemuda lulusan astrofisika yang kini bekerja sebagai pengemudi ojek, menyaksikan dunia mulai berderak. Tak ada yang tahu pasti kapan semuanya mulai berubah. Mungkin ketika cahaya berhenti mengikuti aturan. Mungkin ketika gema terdengar...
