Malam turun pelan di langit Solo. Hujan rintik-rintik membasahi jalanan kota, memantulkan lampu oranye dari tiang-tiang jalan yang berjajar rapi. Di dalam kamar sederhana bercat putih pucat, Radit bersandar pada kursi kayu yang sudah agak berderit. Lampu meja belajar menyala redup, menerangi wajahnya yang tenang-wajah yang jarang menunjukkan ekspresi.
Di tangannya, ponsel dengan layar Twitter terbuka. Jempolnya bergerak lambat, menggulir timeline yang berisi keluhan tugas sekolah, meme receh, dan thread-thread panjang tentang percintaan yang rumit.
Hingga matanya tertumbuk pada sebuah tweet sederhana.
"Hujan malam ini seperti biasa, datang membawa rindu."
Akun bernama @anishaitsme. Foto profilnya seorang gadis tersenyum manis, memakai seragam SMA dengan pita kecil di kerahnya. Radit tak tahu siapa dia. Tapi entah kenapa, tweet itu membuatnya berhenti scroll.
"Hujan memang kadang cuma datang buat bikin rindu makin nyakitin," balas Radit tanpa pikir panjang.
Beberapa menit kemudian, balasan muncul. Anisha me-retweet dan menambahkan komentar:
"Tapi kadang hujan juga yang bikin kita merasa ditemani."
Radit tersenyum. Bukan senyum lebar, hanya lengkungan tipis di sudut bibir-tapi cukup langka untuk seseorang seperti dia.
Obrolan kecil itu menjadi awal dari sebuah cerita yang tak disangka.
Mereka lanjut ke DM. Awalnya basa-basi: lagu favorit, band yang sedang didengar, film yang baru ditonton. Anisha ternyata penggemar berat Sheila on 7 dan Fiersa Besari. Radit sendiri lebih suka instrumentals, kadang jazz, kadang post-rock-jenis musik yang katanya "membiarkan pikiran mengembara."
"Aku nggak ngerti gimana bisa nyaman ngobrol sama orang yang bahkan belum pernah aku temui," tulis Anisha di malam ketiga mereka bertukar pesan.
Radit mengetik, lalu menghapus. Mengetik lagi, dan menghapus lagi. Akhirnya ia hanya mengirimkan:
"Kadang, rasa nyaman nggak perlu alasan."
Sejak malam itu, mereka jadi rutin saling sapa. Pagi dimulai dengan "udah sarapan?" dan malam ditutup dengan "jangan tidur kemaleman ya." Radit mulai hafal gaya ketikan Anisha. Kalau lagi semangat, Anisha sering pakai emoji. Kalau lagi badmood, pesannya jadi pendek dan hambar.
Lalu suatu malam, Anisha mengaku sesuatu.
"Kamu baik banget, Dit. Tapi aku harus jujur..."
Radit membaca perlahan.
"Aku udah punya pacar."
Kalimat itu seperti tetesan air dingin di tengah kopi hangat. Tidak membuatnya terkejut, tapi cukup untuk mengubah rasa.
Ia mengetik tanpa ragu.
"Aku tau dari awal."
"Hah? Tau dari mana?"
"Insting. Atau mungkin karena kamu terlalu jujur dari caramu cerita."
"Terus kenapa masih mau ngobrol sama aku?"
Radit diam sejenak. Pikirannya mengembara. Ia tahu ini rumit. Tapi juga tahu, perasaan bukan sesuatu yang bisa diatur.
"Karena aku nyaman. Karena kamu bikin aku ngerasa... hidup."
Lalu senyap.
Beberapa menit tidak ada balasan.
Lalu akhirnya, muncul satu pesan:
"Maaf ya..."
"Aku juga nyaman, Radit. Tapi ini salah, ya?"
"Mungkin salah. Tapi nyaman ini nyata."
Dari situ, hubungan mereka terus berjalan di antara rasa bersalah dan kebahagiaan kecil. Tak ada status, tak ada janji. Tapi ada perasaan yang terus tumbuh-pelan, tapi dalam.
Radit mulai memeriksa notifikasi HP-nya lebih sering. Menunggu balasan Anisha jadi rutinitas yang tak disadari. Anisha pun mulai mengandalkan Radit, terutama saat dia sedang bertengkar dengan pacarnya.
Hujan kembali turun malam itu. Lebih deras dari biasanya.
Di layar ponsel Radit, satu pesan masuk:
"Kalau waktu bisa diputar... kamu mau ketemu aku lebih awal?"
Radit menatap pesan itu lama, lalu menjawab:
"Aku nggak butuh waktu diputar. Aku cuma butuh waktu kita nggak cepat selesai."
YOU ARE READING
Datang di waktu yang salah
RomanceSemua berawal dari sebuah tweet tentang hujan dan rindu. Radit, siswa SMK yang pendiam dan introvert, tak pernah menyangka satu balasan iseng di Twitter membawanya pada Anisha-siswi SMA yang ceria, manja, dan penuh warna. Obrolan mereka yang awalnya...
