[18+] Versi eksklusif e-book "Wanna Play?" sudah tersedia! 💫
Mulai dari bab 9 dan seterusnya, dikemas ulang dengan tambahan scene di tiap babnya, disertai berbagi bonus chapter yang belum pernah di up di platform manapun💌
Untuk pembelian, silakan...
Renata melangkah masuk tanpa ragu. Empat tahun berlalu, tapi tempat itu seperti mesin waktu—membawanya kembali pada versi dirinya yang dulu.
Sebelum semuanya rusak.
Ruang tengah menyambutnya dengan keheningan dan kemewahan yang tak berubah. Lantai marmer putih. Sofa kelabu kecoklatan yang dulu ia pilih sendiri. Jendela besar membingkai cakrawala Surabaya—semua masih sama. Terlalu sama.
Sejenak Renata diam, lalu meletakkan tas kulit dan mantelnya ke sofa secara asal.
Tanpa menyalakan lampu, ia melangkah ke kamar utama. Bahkan ruang itu tak banyak berubah. Sprei biru pucat, seperti yang selalu ia sukai.
Dia tertawa kecil. Kelelahan. Tak ada energi tersisa untuk peduli.
Dalam hitungan menit, pakaian yang menempel di tubuhnya sudah tercerai. Hanya sisa bralette dan celana dalam tipis saat tubuhnya membenam ke atas kasur.
Renata tidur seperti biasa—setengah telanjang, setengah hancur.
***
Pagi datang lebih cepat dari yang ia harapkan. Bukan sinar matahari yang membangunkannya, tapi suara mesin kopi dari dapur.
Alisnya mengernyit.
Siapa yang... Menyalakan mesin kopi jam segini? Di apartemen miliknya?
Masih setengah sadar, dia bangkit dari tempat tidur. Langkahnya malas, tubuh hanya terbalut kaus kebesaran yang tak menutupi paha.
Tapi, Renata terhenti di ambang ruang tengah.
Di sana—di dapur— seorang pria berdiri.
Tegap. Berseragam loreng. Fokus. Tenang. Sedang menyeduh kopi seperti pemilik tempat ini.
Renata membelalak. “Hei! Lo siapa?!”
Pria itu menoleh pelan. Tatapannya tajam. Dingin. Menghitung.
“Seharusnya saya yang tanya,” jawabnya singkat. “Anda siapa?”
Renata memindai seluruh ruangan dengan mata—cepat. Sofa. Meja. Dinding. Tidak salah. Ini apartemennya. Dia tidak salah masuk.
Dia mendekat. Suaranya meninggi. “Excuse me?! Ini apartemen gue! Gue yang punya tempat ini! Lo siapa?!”
Pria itu tetap tak bergeming. “Saya Jayasena, penyewa tempat ini. Baru tiga hari.”
Dengan santai, ia menyesap kopi dari mug putih—yang Renata tahu betul adalah miliknya.
Renata memijit pelipis. “Tunggu. Lo sewa dari siapa?”
“Teman Bunda saya,” sahut pria itu. “Katanya ini apartemen anak temannya yang lagi di luar negeri. Saya butuh tempat cepat, jadi saya ambil.”
Keduanya saling diam. Hanya suara timer microwave yang berbunyi, seperti mempertegas absurditas situasi.
“…Anak temannya?” gumam Renata, separuh tak percaya.
Pria itu menatap. “Iya. Namanya... Renata Adhikara.”
Deg.
Itu bukan nama acak. Itu namanya sendiri.
Dan hanya satu orang yang akan berani melakukan ini tanpa konfirmasi: Sofia Halim Adhikara, Mama-nya.
***
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Renata Adhikara, M.Psi., Psikolog (29 tahun) – Dua tahun menjalani praktik sebagai psikolog. – Kini aktif sebagai model—pelarian yang tampak glamor, but a way to heal herself.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Kapten Inf. Jayasena Atmadja (30 tahun) Perwira TNI AD – Ditugaskan selama 6 bulan di KOREM Surabaya. – Memilih tinggal di apartemen: lebih tenang, dan memberi ruang privat. – Sampai kehadiran Renata mengusik privasi dan ketenangan yang ia anggap mutlak.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.