Little Miss Perfect

33 2 0
                                        

Astrid Haze bisa melakukan apapun sendirian.

Kecerdasan, kuliah di salah satu universitas ternama, apartemen layak huni, makanan sehat, hingga badan yang layak disebut ideal, Astrid sebetulnya memiliki semua yang diidamkan banyak orang. Orang-orang melihatnya sebagai sosok yang rendah hati, tipikal the girl next door dengan GPA paling tinggi seangkatan.

Satu hal tentang Astrid adalah dia selalu berharap terlahir dengan wajah yang lebih dewasa. Mungkin dengan jembatan hidung yang lurus dan tinggi atau bibir penuh alih-alih bibir tipis klasiknya sendiri. Lalu mata yang jernih dan besar seperti rusa... atau sepasang mata yang tajam, bukan mata anak anjing yang membuatnya terlihat memelas dan murung.

Tidak setiap saat Astrid depresi menatap pantulan wajahnya di cermin. Cheyenne sahabatnya berkali-kali menyakinkan kalau dia punya bentuk bibir yang indah, bahwa gadis itu tidak keberatan menukarkan bibirnya yang penuh dan berbentuk hati dengan milik Astrid kapan saja. Itu sedikit membuatnya merasa lebih baik.

Astrid mempunyai sepasang mata keabu-abuan cantik yang seakan mampu menenggelamkan siapa saja apabila seseorang menatapnya terlalu lama. Warna matanya sering berubah antara biru cerah yang hidup dan biru pucat tergantung pada pencahayaan, mirip batu glacier blue topaz. Yang pasti, matanya seperti pantulan bintang di permukaan danau malam hari.

Itu satu-satunya bagian wajah yang dia sukai.

Tetapi kembali lagi, seumpamanya dia punya wajah yang beberapa tahun lebih tua. Mungkin orang-orang akan berhenti mengira dia masih remaja. Secara teknis Astrid memang masih remaja, tetapi dia sudah cukup umur dan Astrid benci ketika orang asing tak dikenal memperlakukannya seperti anak berusia lima belas tahun. Jika mukanya terlihat dewasa, bisa jadi Astrid tak akan sedepresi ini sewaktu berkaca.

Astrid memiliki seorang saudara laki-laki dan Mom yang tinggal seorang diri. Dia rutin menelepon Mom di akhir pekan untuk saling bertanya kabar, namun Mom hanya akan menceritakan kehidupan adiknya di sekolah asrama dengan intonasi bangga.

Katanya: "Semester ini Jason bergabung klub sepak bola. Konselor sempat mewanti-wanti Mama karena prestasi akademis dia kacau tapi beruntungnya turnamen kemarin klub mereka meraih posisi ketiga."

Astrid akan menahan diri agar tidak melemparkan sarkasme. Hanya posisi ketiga, pikirnya dengan getir, selama high school aku selalu mendapatkan nilai tertinggi tapi Mom tidak pernah memujiku seperti ini.

Mom tidak jahat, Astrid mengerti Mom melakukan ini supaya dia lebih termotivasi, apalagi dia mendapatkan pendidikannya dari beasiswa. Sudah menjadi kewajibannya untuk meraih banyak prestasi. Astrid tahu kalau dia bertingkah kekanak-kanakan tanpa alasan. Sebagai anak perempuan teladan dan sosok saudara yang baik, seharusnya dia ikut bangga atas pencapaian yang diraih saudara laki-lakinya.

Berhubung Astrid bukanlah anak perempuan teladan dan sosok saudara yang baik, maka dia mencebik sesuka hati ketika mendengarkan Mom di seberang telepon berbusa-busa memuji Jason dengan rasa iri.

Dari sini Astrid menyadari Mom jauh lebih peduli pada adiknya yang bodoh dan berandalan daripada dirinya.

Kemudian setiap Minggu tanpa lupa sehari pun dia akan menelepon Dad, berbasa-basi menanyakan kabar. Barangkali dia adalah anak yang sudah tidak terlalu diinginkan, jadi Dad enggan mengobrol panjang lebar. Dad sengaja berlama-lama mengangkat telepon dan menyudahi panggilan secepat yang dia bisa.

"Jangan sering-sering menelepon ke rumah," tutur Dad suatu hari, "Janine sebentar lagi melahirkan. Aku mulai sibuk mempersiapkan diri menjadi seorang ayah. Akhirnya kami dikaruniai anak sendiri."

Oh. "Selamat Dad. Semoga persalinannya lancar."

Astrid mengatakan kalimat itu sambil menggigit bibir, apakah selama ini dia bukan anaknya? Mengapa Dad tidak bisa menjadi ayahnya juga? Bukannya dia lahir ketika Mom dan Dad masih saling cinta?

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jun 03 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

ANNOTATIONSStories to obsess over. Discover now