Prolog

35 2 0
                                        

Aku pernah percaya bahwa jika seseorang datang membawa senyum, perhatian, dan janji-janji kecil yang terdengar manis,
maka dia layak diberi ruang di hati.

Bahwa cinta itu soal keberanian membuka pintu dan membiarkan seseorang masuk—
meski belum tahu apakah ia akan tinggal...
atau hanya sekadar mampir lalu pergi.

Tapi nyatanya,
tidak semua kedatangan berarti untuk tinggal.
Ada yang hanya datang untuk mengajari kita bagaimana rasanya kehilangan.

Dan aku kehilangan.

Bukan hanya seseorang,
tapi juga kepercayaan.

Pada cinta.
Pada janji.
Pada kata-kata yang dulu kubaca berulang-ulang,
yang kini hanya jadi kalimat hampa.

Aku belajar,
bahwa yang paling menyakitkan dari cinta bukanlah perpisahan—
tapi harapan yang tidak pernah sampai.

Mereka bilang,
cinta pertama selalu indah.

Tapi bagiku,
cinta pertamaku datang dengan luka paling dalam.
Ia pergi,
meninggalkan banyak pertanyaan yang tidak akan pernah dijawab.

Namun waktu berjalan.

Dan pelan-pelan,
aku mulai percaya lagi—

Bahwa setelah patah hati yang paling dalam,
akan ada seseorang yang datang…

Membawa cinta yang jauh lebih besar.
Cinta yang tak banyak janji,
tapi terasa tulus.
Cinta yang datang dari arah yang tak terduga,
dari seseorang yang begitu berbeda…
namun entah kenapa,
hatiku merasa aman bersamanya.

Dan di situlah ceritaku kembali dimulai.

Namaku Evangeline.
Tapi semua orang memanggilku Eva.

Aku siswi kelas dua belas—
yang baru merasakan cinta saat masa putih abu-abu hampir berakhir.

Aku bukan tipe yang mudah jatuh hati.
Selama dua tahun di SMA,
aku lebih banyak menghabiskan waktu untuk organisasi,
rapat, lomba,
dan semua hal yang membuatku lupa bahwa hatiku juga butuh ruang untuk merasa.

Tapi ketika akhirnya aku jatuh cinta,
aku jatuh terlalu dalam.
Dan ketika cinta itu gagal…
aku hancur terlalu diam-diam.

Aku mungkin terlihat cuek.
Tapi sebenarnya, aku rapuh.
Aku menyimpan segalanya sendiri—
karena aku percaya,
tidak semua luka harus diceritakan dengan suara.

Aku mungkin terlihat tenang,
tapi di dalam kepalaku—semuanya riuh.
Ada pertanyaan-pertanyaan yang tidak pernah selesai,
ada harapan yang diam-diam kutumbuhkan meski tahu… mungkin tak akan berbunga.

Aku tidak banyak bicara,
tapi hatiku selalu penuh.

Dan mungkin,
itulah sebabnya aku jatuh cinta terlalu dalam…
dan diam-diam belajar menerima
bahwa tidak semua hal bisa dimiliki.

Aku belajar mempercayai waktu.
Bahwa Tuhan tidak pernah salah menempatkan siapa pun di hidup kita—
sekalipun hanya untuk singgah.

Bersambung...

SinggahWhere stories live. Discover now