1

1.1K 4 0
                                        

WARNING,
CERITA INI MENGANDUNG ADEGAN DEWASA 18+.
MOHON BIJAK DALAM MEMILIH CERITA YANG SESUAI USIA.

SEBELUM MEMBACA TOLONG VOTE,
1 VOTE DARI PEMBACA SANGAT MENDUKUNG AUTHOR MENERUSKAN CERITA INI..

...

*Pukul 10.37 Malam,

"Kira, jangan buka pintu kalau ada yang nakal gangguin kamu, ya? Telepon aku atau Alaric."

Pesan terakhir Tante Irma sebelum berangkat ke bandung masih terngiang di kepala Kirana. Dua bulan. Dua bulan tanpa sosok wanita yang selama ini menjadi guardian-nya. Dua bulan… hanya berdua dengan si Playboy itu. 

Alaric

Kakak angkatnya. Tapi bukan saudara sedarah. 
Dan itu yang bikin bahaya. 

...
*15 Menit yang Lalu


Kirana menekuk tubuh mungilnya di sofa, laptop terbuka di pangkuannya. Tugas kuliah numpuk, tapi pikirannya melayang ke suara langkah kaki di lantai atas.

Alaric baru pulang, Lagi. 

Dia tahu persis apa yang biasa dilakukan pria itu sepulang kerja. Entah dari klub, entah dari apartemen salah satu ceweknya. Bau parfum mahal dan alcohol selalu menempel di bajunya. 

"Dasar playboy."

Tiba-tiba, langkah itu mendekat. 

"Ngapain begadang?" 

Suara berat itu menggelitik telinganya sebelum Alaric muncul di balik sofa. Badan tinggi, kemeja putih tergulung sampai siku, memperlihatkan tato yang bikin Kirana.. ugh, stop staring. 

"Ngerjain tugas," jawabnya singkat.

Alaric menghela napas, lalu tanpa permisi, ngambil tempat di sebelahnya. Terlalu dekat.

"Kamu harus tidur. Besok kan kuliah."

"Aku gak ngantuk."

"Bikin ngantuk, nggak?"

Sebelum Kirana bereaksi, tangan panas itu sudah menyentuh lehernya, Dia nyaris melompat. 

"Rileks. Kamu tegang banget."

Alaric tersenyum, that damn smirk.. sementara jemarinya dengan perlahan mengusap otot kaku di pundak Kirana. 

"Jangan… aku gak perlu pijet," batin Kirana, tapi tubuhnya berkata lain.

Dia mendesah, Dan itu fatal. 

Alaric berhenti. Udara mendadak tegang. 

"Kira…"
S

uaranya rendah,

Kirana menoleh dan oh God, matanya gelap.
That look, Dia pernah liat Alaric memandangi cewek-ceweknya seperti ini. 

Tapi bukan ke dia. Bukan ke Kirana.

"Kamu harus masuk kamar. Sekarang." 

Kalimat itu lebih mirip peringatan. 

Tapi Kirana gak mau menang. "Kenapa? Takut nggak bisa kontrol diri?"

Alaric mengerutkan kening, lalu tiba-tiba menyandarkan badan ke arahnya, tangan menahan sandaran sofa di kedua sisi kepala Kirana. 

Im Your'sWo Geschichten leben. Entdecke jetzt