⚜️
Langit siang di atas kampus Universitas Mahardika terlihat biasa-biasa saja. Tapi di dalam kantin utama, suasananya selalu hiruk-pikuk. Sorak tawa, suara gesekan baki, dan aroma ayam geprek bercampur kopi mengisi udara.
Di meja tengah yang paling mencolok, duduklah Leonard Evian-senior hukum dengan segalanya: ketampanan, kekayaan, dan kekuasaan sosial. Dikelilingi teman-temannya yang sama-sama elite, dia terlihat santai dengan kemeja putih tergulung dan senyum miring khas cowok yang tahu dirinya diinginkan.
Clarissa duduk di sebelahnya, menyuapinya sesendok kecil es krim sambil berceloteh soal acara kampus mendatang.
"Acaranya sih bakal elite banget," katanya dengan suara manja. "Asal enggak ada sampah-sampah dari jurusan sebelah yang ikut-ikutan."
Leonard terkekeh. "Gue yang ngurus, sayang. Gak akan gue biarin mahasiswa nggak jelas numpang eksis."
Suara langkah cepat memotong pembicaraan mereka. Beberapa orang menoleh, penasaran. Seorang mahasiswa dengan hoodie hitam dan ransel lusuh mendekat ke arah meja Leonard. Tatapannya gugup tapi penuh tekad.
Rei Ayaka.
Beberapa teman Leonard sudah mulai berbisik. "Eh itu si Ayaka, anak sastra."
"Ngapain ke meja sini?"
"Dia kira dia siapa?"
Rei menatap Leonard lurus-lurus. Napasnya bergetar. Tapi ia tetap berdiri di sana, di depan meja kekuasaan sosial kampus itu, dengan suara yang akhirnya keluar-pelan tapi jelas.
"Leonard... gue suka lo."
Hening. Semua mata memandang mereka.
Clarissa mengangkat alis, mulutnya sedikit terbuka. Salah satu teman Leonard hampir tersedak.
Leonard sendiri hanya menatap Rei tanpa ekspresi selama beberapa detik. Lalu dia tertawa. Kencang. Meja itu ikut tertawa bersamanya, seperti dirancang untuk menjadi panggung penghinaan.
"Lo... suka gue?" Leonard berdiri, menepuk pundak Rei seperti menghibur anak kecil yang bodoh. "Lo pikir gue gay?"
Rei tidak menjawab. Matanya masih menatap Leonard dengan penuh harap dan ketakutan.
"Denger ya," suara Leonard meninggi, cukup nyaring untuk seluruh kantin mendengar. "Gue gak doyan cowok. Apalagi lo." Dia mendekat, suaranya kini tajam seperti pisau. "Ngaca dulu sebelum berani suka sama orang kayak gue."
Tawa meledak. Clarissa menutup mulutnya sambil menahan senyum puas.
Rei berdiri membeku. Dunia yang sempit itu seperti menjepitnya. Wajahnya panas, tapi bukan karena marah-karena malu. Karena hancur. Dia memutar badan, melangkah pergi tanpa sepatah kata pun.
Namun saat dia berbalik, dia tidak melihat senyum Leonard-dia tidak melihat kebencian. Yang dia lihat adalah sesuatu yang lebih berbahaya: rasa tertarik yang berusaha disangkal.
Hari itu kampus kembali seperti biasa. Tawa di koridor, suara alas kaki terburu-buru, dan tugas yang menumpuk di kepala para mahasiswa. Tapi untuk Rei Ayaka, hari itu seperti berjalan dengan luka terbuka.
Setelah kejadian di kantin kemarin, dia jadi bahan bisik-bisik. Beberapa teman sekelas menatapnya iba, yang lain menertawakannya diam-diam. Tapi Rei tetap berjalan, kepalanya menunduk, berniat menghindari semua yang bisa memicu ingatannya soal pengakuan kemarin.
Sampai langkahnya terhenti.
Di depan lorong gedung sastra, berdiri sosok yang tidak asing-Leonard Evian, bersandar santai di dinding dengan tangan di saku, seolah sedang menunggu seseorang.
Rei panik. Ia menoleh, ingin kabur. Tapi suara Leonard menghentikannya.
"Rei."
Satu kata. Satu nada datar. Tapi cukup untuk membuat Rei membeku.
YOU ARE READING
Sebelah Luka
RomanceRei Ayaka, mahasiswa tingkat dua yang pendiam dan cerdas, diam-diam menyukai seniornya, Leonard Evian - mahasiswa hukum populer, tampan, dan berasal dari keluarga terpandang. Tapi rasa itu malah berujung petaka. Saat Leonard tahu perasaan Rei, dia m...
