1. "....Hancurkan mereka!"

733 4 3
                                        

APARTEMEN LILY...

Dua pria melangkahkan kaki mereka dengan postur gagah tegap dan bertato di lengan dan lehernya, mereka preman yang dipekerjakan sebagai pengawal seorang penyanyi   belia yang sedang naik daun

¡Ay! Esta imagen no sigue nuestras pautas de contenido. Para continuar la publicación, intente quitarla o subir otra.

Dua pria melangkahkan kaki mereka dengan postur gagah tegap dan bertato di lengan dan lehernya, mereka preman yang dipekerjakan sebagai pengawal seorang penyanyi belia yang sedang naik daun. Saat ini mereka mengawal majikannya yang berpenampilan modis mengikuti ala penyanyi K-Pop apalagi majikannya itu mempunyai paras ayu imut dengan kulitnya terawat putih, tanpa make-up pun wajahnya cerah sedap dipandang. Sang majikannya melangkah di depan mereka sambil membawa tart cake yang di bungkus kotak cake.

Tiba di lobby utama apartemen, sang majikan menghentikan langkahnya sebentar, membalikkan tubuhnya, menatap dua pengawalnya, "Kalian tunggu di sini aja. Aku ingin privasi." katanya.

Salah satu pengawalnya seakan keberatan, "Tapi nona Lea, apa gak sebaiknya kami nunggu aja di luar pintu apartemen tuan Rendra." ujarnya khawatir karena mereka berdua disuruh Viola mendampingi gadis ayu itu.

"Gak perlu, Pak Derry." ucap Alea tersenyum tipis, "Mbak Vio itu terlalu overthinking sama Rendra." ujar Alea.

Alea mendengar helaan napas dua pengawalnya itu, ingin mengatakan sesuatu namun mereka tidak berani

¡Ay! Esta imagen no sigue nuestras pautas de contenido. Para continuar la publicación, intente quitarla o subir otra.

Alea mendengar helaan napas dua pengawalnya itu, ingin mengatakan sesuatu namun mereka tidak berani. Akhirnya mereka mengangguk saja, "Baiklah, nona. Kami tunggu di lobby." jawab salah satu dari pria itu.

Mereka berdua mengamati majikannya yang melanjutkan langkahnya menuju unit apartemen yang ditempati Rendra, tunangan dari Alea Naura Ramadhani, seorang gadis berumur 22 tahun menempuh pendidikan dibidang desain interior selain mengembangkan hobby-nya di bidang tarik suara. Alea masuk ke dalam lift menekan tombol lantai yang mengarah ke unit apartemen Rendra setelah pintu lift menutup dan mulai bergerak naik.

Keluar dari lift, Alea bersenandung dalam hati dengan perasaan gembira karena ia lega bisa menyempatkan waktunya di hari istimewa malam ini.

"ARGH, lebih cepat, Ren!"

"Punyamu masih aja sempit, Gin. Sangat nikmat!"

"Lebih dalam, Ren. Aku mau sampe. Ahhh..."

"Tahan, Gin...Barengan..."

Deg!

Kaki Alea mendadak terasa kaku, ia baru saja berhasil memasukan kode pintu apartemen Rendra, Alea. Suara-suara itu, Alea mengenal keduanya. Suara Rendra dan Gina. Bukan sebuah percakapan tak bisa Alea pahami, meski tak melihat secara langsung, Alea tau apa yang sedang mereka lakukan berdua di dalam kamar yang pintunya tak tertutup sempurna itu.

MENJEBAK CAMERDonde viven las historias. Descúbrelo ahora