Ini hari pertamaku- tunggu, kurang tepat. Ini malam pertamaku menjadi seorang VTuber.
Semuanya sudah siap. Dua monitor untuk mengawasi chat para penonton, webcam untuk merekam setiap gerakan wajah dan tubuhku, platform stream yang tinggal diaktifkan, dan tentu saja, model avatar-ku yang sudah terintegrasi dengan webcam dan dua kamera lainnya agar frame rate-nya lebih mulus.
Gugup? Itu sudah pasti. Apalagi ini baru pertama kalinya aku memberanikan diri membuat keputusan seperti ini. Berbicara di depan layar dengan diwakili oleh avatar-ku. Aku hanya bisa berharap, demi Tuhan, tolong agar livestream perdanaku ini dapat berjalan dengan lancar tanpa ada masalah berarti.
Aku masih punya waktu tiga puluh menit sebelum stream-aku masih harus memastikan bahwa model VTuber ini tidak patah-patah dan responsif.
Saat itulah aku mendengar seseorang membuka pintu. Perlahan, tapi aku langsung mengenalinya.
"Kakak, harusnya gak usah repot-repot."
"Lho, justru ini perlu tau, Tan. Setidaknya sih, lumayan buat ngisi perut."
Kakak yang benar-benar suportif. Itulah Edward.
Aku tersenyum perlahan, kacamataku ada di genggaman saat aku merasakan perih sebagai akibat dari serangan kecemasan non-lethal.
"Makasih banyak, Kak."
Dibalas dengan gumam pelan sambil berjalan keluar.
Aroma sup hangat dan roti panggang mengudara, memenuhi penjuru kamar dan juga hidungku. Meja kecil di sampingku kini terasa lebih hidup dengan kehadiran makanan itu, seolah mengingatkanku untuk bernapas, untuk tetap ada di dunia nyata, meski sebentar lagi aku akan masuk ke dunia lain-dunia maya, dunia avatar.
Kupandangi kembali layar monitorku. Modelku berdiri diam di tengah antarmuka software Luminova: LIVE!, menatap ke depan dengan mata biru berbinar dan senyuman yang entah kenapa terasa lebih percaya diri dari aku sendiri.
Kupakai lagi kacamataku. Sisa kabut di lensa akibat embusan napas tadi masih menempel, tapi aku biarkan. Tanganku meraih mouse, lalu dengan gerakan pelan, kuperiksa kembali sinkronisasi mulut dan gerakan mata.
"Testing... satu... dua... tiga..."
Modelku menirukan setiap gerakan dan suara dengan tepat. Tak ada jeda, tak ada lag. Seolah berkata padaku bahwa dia telah siap, dan aku juga harusnya siap.
Kubuka AstroVision Studio dan mulai menyusun urutan overlay dan musik pembuka.
Sembilan belas menit lagi, batinku sambil memperbaiki posisi kacamataku.
Jujur saja, aku tak pernah memiliki pengalaman menjadi seorang VTuber. Kebetulan saja AstroVision, agensi entertainment digital sekaligus cabang dari NexCorp, perusahaan dan pionir teknologi di Indonesia, yang mengundangku untuk menjadi talent mereka.
Bagaimana bisa aku, yang bahkan tidak bisa menjaga kontak mata dengan orang lain tanpa merasa malu, ditunjuk oleh salah satu staff AstroVision yang mencari bakat?
***
Semua berawal dari kakakku sendiri, yang juga merupakan seorang VTuber, dan juga email yang dikirim oleh agensi yang sekarang menampungku. Kebetulan beberapa bulan ini, aku sedang menganggur-itupun karena tidak ada mayat yang bisa kuotopsi belakangan ini dan tugas mengurus mortuary yang untuk sementara diserahkan ke asistenku, serta kasus-kasus kriminal yang menurut atasanku masih bisa diurus petugas lain selain diriku.
Aku menemukan Edward di kamarnya pada suatu malam, webcam miliknya mengikuti arah wajahnya saat dia menoleh ke arahku.
"Eh, Ethan. Sini sini."
ESTÁS LEYENDO
4Ø4: not found.
Terror[15+ | Gore/Horror/Techno-Thriller/Psychological] [Song: Transgender - Crystal Castles] [Kebijaksanaan pembaca disarankan.] "-3))0... 'Æ! 6Ø7 -3)P ?3‽" Ethan Miller, seorang koroner dan detektif kepolisian sekaligus VTuber yang baru saja debut di ba...
