Prolog

78 13 1
                                        

Ha? Y.


Di sebuah kota besar, terdapat salah satu perusahaan di antara padatnya kota.
Terlihat di sebuah ruangan di lantai teratas, terlihat seorang pria yang sedang sibuk dengan komputer dan berkasnya.

Jarinya menari-nari diatas keyboard, sambil matanya fokus kearah layar komputer.
Ia terlihat serius di kursi kebanggaannya.

Tok

Tok

Tok

"Permisi tuan, saya membawa berkas yang Anda minta. "

"Masuk."

Cklek...

Masuk seorang laki-laki tinggi nan gagah memasuki ruangan tersebut.

"Saya masuk. ", ucap laki-laki itu sambil membawa berkas di tangannya." Ini berkas keuangan bulan ini yang Anda minta tuan, sejauh ini masih baik-baik saja, tidak ada yang janggal. "

Ia memandangi iris mata yang kelam itu, seolah sedang menyelami lautan yang berisi ribuan rahasia.

"Bagus, pantau terus. "

"Siap tuan. "

"Apa kau lapar? " tanya laki-laki itu bertanya kepada Kai.

Atau sekretarisnya.

"Ehm, saya agak lapar, ada apa tuan? Apa anda lapar? "

"Ya, aku lapar ayo kita makan di cafe depan perusahaan. "

"Tap-"

"Tidak ada penolakan! " Ujarnya tegas tidak menerima penolakan.

"Baik tuan. "

.....

Disinilah mereka berdua, di cafe depan perusahaan, mereka sering kesana jika lapar saat kepepet, selain dekat makanan disini enak dan terjangkau.

Mereka duduk di samping jendela, yang langsung di hadapkan jalanan yang padat. Berbagai kendaraan berlalu-lalang.

Lalu mareka memesan makanan dan minuman, tak lama kemudian pesanan mereka pun sudah diantar di meja mereka.

"Permisi, maaf menunggu silahkan menikmati makanannya. "

"Terimakasih. " Jawab Kai.

"Sama-sama."

Mereka pun memakan makanan masing-masing dengan khidmat.

Tak lama setelah selesai makan saat akan membayar pesanan tiba-tiba terdengar suara handphone berbunyi keras, sampai membuat pengunjung lain menoleh kearah meja mereka.

Jangan salahkan paham ku kini, tertuju oh~

Siapa yang tau siapa yang mau, kau di sana aku di seberang mu~

Cerita kita sulit di cerna, tak lagi sama cara ber-

Pip

"Maaf saya angat dulu teleponnya. "

"Iya silahkan tuan. "

"Sial aku malu sekali, aku lupa mengecilkan volumenya. "

"Tuan Shine dari dulu tidak berubah ya. "

Si pemilik handphone atau Shine kini sedang mengangkat telepon dari seberang.

"Halo? "

"Halo Shine. "

Shine yang mendengar suara yang familiar tersebut ekspresinya langsung berubah masam.

"Ada apa tuan? "

"Besok datanglah ke mansion keluarga utama, besok adalah ulang tahun kakek, keluarga besar akan datang aku harap kau datang agar tidak mempermalukanku. "

"Oh, sungguh saya merasa tersanjung, seorang anak haram haram seperti saya, di undang keacara yang istimewa seperti itu. "

"Shi-"

"Baik, besok aku akan datang, tenang saja tuan saya tidak akan mempermalukan anda. "

Tut

Telepon di putus oleh sepihak.

Kai yang sejak tadi memperhatikan bos-nya pun ber celetuk, "Tuan, apakah itu... tuan Hans? "

"Hm."balasnya.

" Tuan sebaiknya anda tid-"

"Tidak Kai, aku harus datang. "

"Tap-"

"Tenanglah Kai, aku akan baik-baik saja"

Kai memandang iris kelam tuanya, yang menyimpan banyak beban dan kesedihan di dalamnya.

"Baiklah tuan, tapi jika sesuatu terjadi tolong, beritahu kepada saya! "

"Tentu." jawabnya setelah itu ia pun memandangi jalanan, pikirannya melayang, seolah sedang memikirkan kejadian apa yang akan terjadi esok hari.

TBC.

Rame gak ya, Target 100 + vote.

Daren nggak bisa update karena bab yang mau di publish ilang, males nulis lagi.

Você leu todos os capítulos publicados.

⏰ Última atualização: Jun 24, 2025 ⏰

Adicione esta história à sua Biblioteca e seja notificado quando novos capítulos chegarem!

ShineOnde histórias criam vida. Descubra agora