RHF : 00

25 0 0
                                        

•••••

"Membaca cerita memberi pelarian, tapi bagaimana jika ceritanya tak ingin melepaskanmu?"
Unknown

•••••

⚡️Happy Reading⚡️

00. Prolog

Zeiden Aldiano adalah tipe orang yang tidak banyak bicara. Dikenal dingin dan cuek, laki-laki berusia 25 tahun itu lebih suka menghabiskan waktunya sendirian, tenggelam dalam buku-buku atau game yang menjadi pelarian dari dunia yang menurutnya terlalu ribut. Teman-teman kuliahnya mungkin melihatnya sebagai sosok yang acuh tak acuh dan sulit didekati, tapi bagi Aldi, hal itu bukan masalah. Ia nyaman dalam kesendiriannya, dan lebih suka menghindari drama kehidupan sosial remaja.

Hari itu, hujan turun deras di luar jendela kamarnya. Aldi, yang baru selesai membaca sebuah novel, menarik napas panjang. Novel itu, 'Cinta untuk Rania', mengisahkan seorang gadis sempurna bernama 'Rania Mikaila' yang berjuang melewati berbagai cobaan hidup dengan ketabahan dan kecantikannya yang menawan. Semua orang menyukai Rania, sementara 'Carissa Fayne', sang antagonis wanita, ditampilkan sebagai sosok dingin, ambisius, dan kejam. Carissa tidak pernah mendapatkan cinta atau penghargaan dari siapa pun, bahkan dari keluarganya sendiri.

Namun, ada satu hal yang membuat Aldi merasa tidak nyaman setelah selesai membaca novel itu —akhir dari kisah Carissa. Meskipun ditampilkan sebagai antagonis, Aldi tidak bisa mengabaikan kenyataan bahwa Carissa tidak sepenuhnya jahat. Hidupnya dipenuhi dengan tekanan, pengkhianatan, dan kekecewaan, membuatnya menjadi sosok yang keras. Bahkan tunangannya lebih memilih Rania daripada dirinya, sementara orang tuanya tidak pernah benar-benar peduli padanya.

Aldi menutup novel itu dengan perasaan campur aduk. Ia menatap sampulnya, mengingat setiap detail cerita, terutama nasib Carissa yang terasa begitu tidak adil baginya. Meskipun ia bukan tipe orang yang emosional, ada sesuatu dalam cerita itu yang terus menghantuinya.

"Kenapa dia harus berakhir seperti itu?" gumam Aldi sambil menatap hujan yang masih turun deras di luar jendela. Pikirannya melayang, mempertanyakan keputusan penulis untuk membuat Carissa menderita hingga akhir.

Dalam hatinya, Aldi merasa ada keinginan untuk mengubah cerita itu. Namun, ia tahu betul itu hanyalah fantasi belaka. Bagaimana mungkin ia, seorang pembaca biasa, memiliki kendali atas kisah yang sudah selesai?

Lelah dengan pikirannya sendiri, Aldi meletakkan novel itu di meja samping tempat tidur. Ia meraih ponsel dan memasang headset, berniat menenggelamkan dirinya dalam musik. Namun, sebelum ia sempat memutar lagu favoritnya, rasa kantuk yang tiba-tiba menyerang membuatnya merebahkan diri di kasur.

"Besok juga lupa," pikirnya singkat sebelum memejamkan mata.

Namun, saat Aldi terbangun, dunia di sekitarnya sudah berubah.

Ia tidak lagi berada di kamar apartemennya yang sederhana. Ia mendapati dirinya di sebuah ruangan mewah dengan langit-langit tinggi, perabotan kayu mahoni yang berkilau, dan jendela besar yang memamerkan pemandangan kota metropolitan. Aldi panik, duduk tegak, dan menyadari tubuhnya terasa aneh —lebih berat, lebih besar, lebih kuat.

"Ini... di mana?" bisiknya, bingung.

Ia mengangkat tangannya, tapi yang terlihat adalah jari-jari panjang, kuat, dan kokoh —sama seperti tangannya dulu tapi bedanya ini lebih putih. Di cermin besar di sudut ruangan, pantulan seorang pria yang lebih tua darinya dengan setelan jas mahal memandangnya. Wajah pria itu tajam, dengan aura dingin dan otoritas yang luar biasa.

"Apa-apaan ini?! Siapa dia... atau siapa gue sekarang?"

Pikiran Aldi berputar-putar, mencoba memahami situasi yang mustahil ini. Lalu, ia mendengar suara langkah kaki mendekat.

Tok tok tok...

"Masuk!" Ucap Aldi.

"Selamat siang, Pak Leon. Setelah makan siang ini Anda ada jadwal menghadiri rapat komite di Starlight Internasional School," suara seorang pria —mungkin Sekretaris tubuh yang Aldi tempati.

Mendengar itu, Aldi hanya mengangguk dan pikirannya kembali bingung. Leon? Leon siapa? pikir Aldi panik. Ia mengingat-ingat nama itu, seketika matanya membulat. CEO sukses dalam novel, seorang pria berusia 42 tahun yang hanya tokoh tidak penting. Tokoh ini hanya muncul dua kali saat acara ulang tahun perusahaan dan SIS.

Seketika, Aldi sadar bahwa ia terjebak di dunia yang seharusnya hanya menjadi bahan bacaan. Dunia yang alur ceritanya ia tahu, tetapi kini, takdirnya tak lagi dapat ia hindari.

•••••
To Be Continued

Hai semua kembali lagi sama aku👋
Yang nungguin cerita baru aku maaf ya ngilang kelamaan😭🙏
Ini Prolog kepanjangan gak sih enggak kan ya? Oke deh sampai jumpa di part² berikutnya.. Aku bakal up hari sabtu, minggu atau keduanya kalo gak terlalu sibuk/banyak tugas dan untuk jamnya mungkin malem yaa...

Okey byee guys👋

Jumat, 31 Oktober 2025
tertanda,

Lalisty✨

Rewrite Her Fate (tidak diteruskan)Stories to obsess over. Discover now