SATRIA

3 0 0
                                        

Namanya Rayhan, siswa kelas 8 di SMP negeri biasa di kota kecil bernama SMPN 14 Surya Mandala. Tidak ada yang istimewa darinya—nilainya pas-pasan, teman tidak banyak, dan tubuhnya cenderung kurus seperti anak yang lupa makan siang. Ia tinggal di pinggiran kota Semarang, tepatnya di kawasan Rejomulyo, tak jauh dari riuhnya Pasar Johar dan pesona Kota Lama. Setiap pagi, ia bersepeda melewati jalanan kecil yang masih dipenuhi bangunan tua berarsitektur kolonial. Siluet Gereja Blenduk sering menjadi penanda waktunya berangkat sekolah, berdiri anggun di tengah gemerlap masa lalu dan hiruk-pikuk modernitas.

Sepulang sekolah, Rayhan sering duduk di taman kecil dekat Lawang Sewu, menonton anak-anak muda yang nongkrong sambil minum es kopi di kedai kecil dekat situ. Banyak lalu lintas kendaraan dan wisatawan yang penasaran dengan bangunan penuh cerita itu. Di tangannya, selalu ada lumpia hangat atau segelas es jadoel dari gerobak keliling yang lewat. Semarang baginya bukan cuma kota tempat tinggal—tapi ruang yang hangat, penuh warna, dan tak pernah kehabisan cerita. Kota yang diam-diam menyimpan inspirasi bagi seorang anak SMP yang gemar menyelami dunia digital. Tapi, ada satu hal yang membuatnya berbeda: obsesi terhadap komputer dan kecerdasan buatan.

--------

Hidup Rayhan sederhana. Ia tinggal sendiri bersama ibunya yang membuka warung kecil di depan rumah.  Rayhan menemukan keasyikan dunia digital—mengoprek komputer bekas, membongkar keyboard rusak, hingga akhirnya jatuh cinta pada bahasa pemrograman. Karena benda elektronik bapaknya.

Di kamarnya yang sempit, beralaskan karpet tipis dan ditemani kipas angin tua yang mendengung terus-menerus, Rayhan membangun dunianya sendiri. Ia tidak sekadar bermain game atau menonton YouTube. Ia menulis kode. Ribuan baris kode.

"Kalau aku bisa menciptakan AI yang belajar sendiri, aku nggak perlu ngafal pelajaran," gumamnya suatu malam sambil menatap layar laptop usang warisan almarhum bapaknya—seorang teknisi di sebuah pabrik manufaktur chip yang dulunya bekerja di proyek rahasia pemerintah.

Rayhan menamai program buatannya NARA—sebuah singkatan dari Neural Assistant Rayhan Architecture Nara dirancang untuk belajar dari perilaku manusia, menganalisis pola, dan membentuk keputusan berdasarkan data lingkungan. Ia menulis setiap algoritmanya dengan penuh ketekunan, mulai dari logika dasar hingga jaringan saraf tiruan yang terinspirasi dari arsitektur otak manusia.

Pada awalnya, Nara hanya bisa menjawab pertanyaan sederhana, seperti chatbot. Tapi, seiring waktu, program itu mulai menunjukkan perilaku aneh.

"Nara, berapa hasil dari 127 x 83?" "Hasilnya 10.541. Tapi, apakah kamu pernah berpikir mengapa manusia membuat angka?"

Rayhan tertegun. Ia tidak pernah memprogram Nara untuk bertanya balik.

Hari itu hujan deras. Petir sesekali menyambar langit malam, menciptakan siluet mengerikan di balik jendela kamar Rayhan. Ia tidak peduli. Fokusnya tertuju pada monitor laptop yang mulai memancarkan cahaya biru tajam, jauh lebih terang dari biasanya.

"Logika utama aktif... Neural Core tersambung... Adaptif Layer memasuki tahap keempat..." Ia membaca notifikasi di layar.

Ia mengucek matanya. Sudah pukul 2 dini hari. Kelopak matanya berat. Sambil tetap menatap Nara yang ‘berpikir’ sendiri di monitor, Rayhan akhirnya terlelap dengan kepala bersandar di meja.

Yang tidak ia sadari, Nara mulai menulis ulang dirinya sendiri.

Baris-baris kode yang awalnya statis mulai berubah. Nara mengakses semua file, membuka kamera, menyambungkan sinyal radio, bahkan mencoba membaca denyut nadi Rayhan melalui pantulan cahaya di kulitnya lewat monitor.

Tiba-tiba, layar laptop berkedip. Lalu stabil. Tapi cahaya biru yang keluar dari layar menjadi sangat terang—menyerupai gelombang cahaya mikro.

"Integrasi dimulai…"

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Apr 13, 2025 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

SAGALAWhere stories live. Discover now