Bab 1

25 2 0
                                        

---

Langit Amsterdam masih kelabu saat Noah membuka mata.

Jam digital di samping tempat tidurnya menunjukkan pukul 05.00. Tepat waktu. Selalu tepat waktu. Di dalam mansion besar yang sepi itu, jam adalah satu-satunya suara yang konsisten: klik, klik, klik. Denting kecil yang tak pernah lalai.

Ia duduk, merapikan selimutnya, lalu melangkah ke kamar mandi. Air dingin membasuh wajahnya tanpa rasa. Tak ada suara ketukan pintu. Tak ada "selamat pagi" atau sapaan hangat dari balik dinding. Hanya derap langkahnya sendiri, dan bayangan pucatnya di cermin.

Di meja makan, sarapan sudah disusun rapi: roti panggang gandum, telur rebus setengah matang, segelas susu almond. Semuanya ditakar sesuai instruksi pelatih gizi. Tidak terlalu banyak, tidak terlalu sedikit. Tepat, seperti biasa.

Di samping piringnya, tergeletak secarik kertas:

“Latihan skating pukul 06.00. Pelatih baru akan datang. Ingat jaga performa. – Mom”

Tulisannya halus, tapi tak berjiwa. Noah menatapnya beberapa detik sebelum melipatnya rapi dan menyelipkannya ke saku. Ia bahkan tak tahu kenapa ia selalu menyimpan kertas-kertas itu. Mungkin karena hanya itu yang ia punya dari Emily.

Suster rumah lewat di belakangnya. “Selamat pagi, Tuan Muda,” ucapnya kaku.

Noah mengangguk sopan, tapi tak menjawab. Ia sudah terbiasa dengan sapaan formal dari orang-orang yang bekerja di rumah ini. Mereka baik, tentu. Tapi bukan... keluarga.

Setelah sarapan, Noah mengenakan jaket hitamnya, mengambil tas olahraga, dan berjalan keluar menuju mobil hitam yang sudah menunggunya. Sopir membuka pintu tanpa banyak bicara.

Perjalanan menuju arena latihan hanya sepuluh menit, tapi rasanya seperti ruang kosong yang panjang. Noah memandang ke luar jendela, ke jalanan kota yang masih sunyi. Ia melihat seorang anak bersepeda, tertawa bersama ayahnya yang berlari mengejar di belakang.

Noah menoleh cepat. Lalu menunduk. Tangannya mengepal di atas lutut.

Bukan iri—ia tidak diajarkan untuk iri. Hanya... heran. Apakah semua anak memang seperti itu? Tertawa di pagi hari? Disapa? Dicarikan sarapan?

Pelatih baru sudah menunggunya di arena. Laki-laki tinggi dengan jaket tebal, wajah serius, dan clipboard di tangan. “Noah van Vries?” tanyanya.

Noah mengangguk. “Ya, sir.”

“Baik. Kita mulai pemanasan.”

Noah meluncur ke atas es dengan gerakan ringan, seolah tubuhnya tak berbobot. Ia melompat, memutar, mendarat sempurna. Semua gerakan terlihat nyaris seperti tarian. Seindah dan seteratur jadwal hariannya.

Namun, tak seorang pun bertepuk tangan. Tak seorang pun memanggil namanya dengan penuh semangat dari tepi arena.

Hanya pelatih, stopwatch-nya, dan es yang dingin. Dan seorang anak, yang hari-harinya sempurna—
kecuali karena ia tak pernah dicari.

Arena latihan perlahan terisi oleh cahaya pagi. Pantulan lampu dari permukaan es membuat segalanya terlihat tenang—nyaris indah. Tapi Noah tahu, es selalu menyimpan bahaya di bawah ketenangannya.

“Formasi jumping spin-mu terlalu kaku. Lenganmu tegang.” Suara pelatih baru itu terdengar tajam tapi netral. Tidak membentak, tidak juga memuji.

Noah mengangguk. “Saya akan ulangi.”

Ia kembali ke tengah arena. Fokus. Tarikan napas. Lompatan. Putaran. Mendarat. Masih terlalu kaku. Ia mengulang. Lagi. Dan lagi. Sampai lututnya nyeri dan jarinya membeku.

a ChildWhere stories live. Discover now