PROLOG

100 5 8
                                        

Hello, Happy Reading Everyone

***

Namaku Sendy.
Aku menulis kisah ini bukan untuk mencari simpati, bukan pula untuk membuka luka lama yang telah berusaha kututup rapat selama bertahun-tahun. Aku menulis karena ada suara dalam diriku yang terus berteriak, memohon untuk didengar.

Tahun 2015 adalah awal dari segalanya—ketika aku duduk di bangku kelas 7 SMP, dengan harapan sederhana bahwa memiliki teman, belajar, dan menjalani masa remaja seperti anak-anak lainnya. Tapi kenyataan jauh dari itu. Yang datang justru pengkhianatan, fitnah, dan rasa sakit yang tak terlihat oleh mata.

Hari-hari yang kujalani dipenuhi oleh kesepian, hinaan, dan perlakuan tidak adil. Buku gambarku, satu-satunya tempat aku menumpahkan perasaan, dibuang begitu saja. Kata-kataku dipelintir, keberadaanku dikucilkan. Aku mencoba tersenyum di depan orang-orang yang telah menyakitiku, berharap mereka akan berhenti. Tapi mereka tidak pernah benar-benar melihatku—kecuali sebagai sasaran.

Aku pernah duduk sendirian di pojok kelas, menahan tangis yang tak pernah keluar. Aku pernah merasa dunia ini terlalu berat untuk dijalani. Dan pada satu titik, aku menyerah. Aku mencoba pergi selamanya. Namun Tuhan memberiku satu kesempatan lagi untuk bertahan.

Sekarang aku menulis ini untuk siapa pun yang pernah merasa sendirian. Untuk mereka yang pernah menjadi korban, yang suaranya dibungkam, yang rasa sakitnya dianggap lelucon. Aku menulis ini untuk diriku sendiri—agar aku tahu, meski luka itu masih ada, aku tidak diam. Aku melawan.

Dan inilah kisahku.
Sebuah kisah tentang luka yang tak terlihat, suara yang tak terdengar, dan perjuangan untuk bangkit dari kegelapan yang dalam.

Mati Tanpa Rasa (Short Story)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang