We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

1.Playboy at the Academy

4 1 0
                                        

Langit sore menggantung indah di atas Skyler Academic, sekolah elite tempat anak-anak dari kalangan berkuasa menimba ilmu dan menebar pesona.

Di tengah lapangan basket, sorak-sorai terdengar memekakkan telinga saat satu nama disebut berulang-ulang.

"Zicho! Zicho!"

Tubuh tinggi dengan seragam olahraga yang basah oleh keringat itu tak hanya menarik perhatian karena skill-nya yang memukau.

Zicho Dravinson, pewaris tunggal Dravinson Group, adalah alasan gadis-gadis Skyler kehilangan fokus belajar.

Bola basket dilempar tinggi, lalu swish!—masuk sempurna ke dalam ring.

"Three points!" teriak komentator iseng dari tribun, disambut teriakan para penggemarnya.

Seolah-olah dunia berputar untuknya.

Selesai bermain, Zicho berjalan santai ke pinggir lapangan. Sekelompok gadis langsung mengerubunginya, menyodorkan minuman, handuk, bahkan nomor ponsel.

“Kamu keren banget, Chi!”

“Ajak aku makan malam, please~”

“Boleh nggak foto bareng? Sekali aja!”

Zicho hanya tersenyum malas. Ia tahu mereka tergila-gila, dan ia… membiarkan. Ia suka disukai. Ia hidup untuk jadi pusat perhatian.

Namun tak semua gadis Skyler bertekuk lutut padanya.

Dari kejauhan, Queen Guendella menyandarkan diri pada dinding lorong, kedua tangan melipat, alis sedikit terangkat. Mata tajamnya mengamati keramaian itu seperti menonton drama picisan.

Ilfil.

Di sekelilingnya, para pemuda juga tak kalah banyak mencoba peruntungan—mengajak bicara, menawarkan bantuan tugas, bahkan tiket konser. Tapi Queen tetap Queen. Dingin. Tak tersentuh.

"Maaf, saya bisa sendiri."

"Tak tertarik."

"Bisa minggir?"

Ia seperti salju di tengah musim panas, kontras tapi memesona.

Salah satu pemuda memberanikan diri, “Queen, kamu udah ada pasangan buat prom belum?”

Queen melirik sebentar. “Aku nggak buang waktu buat hal nggak penting.”

Zicho lewat tepat saat itu, mendengar sepatah kalimat Queen. Ia terkekeh kecil.

"Wow, dingin banget. Aku suka."

Queen menatapnya tajam. "Aku nggak butuh penggemar baru, Zicho."

Zicho menyender ke dinding, dekat sekali dengannya. “Tapi kamu penggemarku yang paling keras. Setiap hari kamu ngomentarin aku.”

“Aku hanya berpendapat. Sayang banget otak kamu nggak sepintar otot kamu.”

“Ouch,” Zicho tersenyum sinis. “Tapi nilai kita selalu bersaing, dan kamu nggak pernah menang.”

Queen mendekat sedikit, dengan nada pelan dan dingin. “Itu karena kamu belum tahu gimana caraku menghancurkan ego.”

Mereka berdiri sangat dekat, seperti dua medan magnet yang sama-sama kuat. Ketegangan itu terasa oleh siapa pun yang melihat—dan orang-orang di sekeliling pun otomatis mundur, memberi ruang pada dua tokoh paling dominan di Skyler: sang playboy arogan dan ratu es tak tersentuh.

Dan seperti biasa, kompetisi itu tak berakhir di lapangan… maupun di kelas.

Karena untuk mereka, hidup adalah arena, dan kemenangan adalah segalanya.


***
Gimana ceritanya seru mau dilanjutkan? Jangan lupa vote buat bab selanjutnya

What He Never WantedStories to obsess over. Discover now