"Ziya Almeera: Luka dan Takdir"
Ziya Almeera memiliki nama seindah cahaya, tetapi hidupnya justru dipenuhi kegelapan. Sejak lahir, ia kehilangan ibunya, sementara sang ayah memilih menikah lagi, meninggalkannya dalam kehidupan yang sepi.
Hingga suat...
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Bab 1: Lahir Tanpa Pelukan
Ziya Almeera lahir di tengah hujan deras yang membasahi bumi, seperti dunia tahu bahwa ada seorang gadis yang akan dilahirkan dengan takdir berbeda. Tangisannya menggema di ruang bersalin, nyaring dan menuntut perhatian, tetapi hanya disambut oleh keheningan yang mencekam. Ibunya meninggal beberapa jam setelah melahirkannya, meninggalkan dunia yang begitu sunyi tanpa pelukan hangat seorang ibu.
Ayahnya tampak terguncang oleh kepergian sang istri. Ia hanya duduk di pojok ruangan, dengan mata kosong menatap ke luar jendela rumah sakit, seolah berusaha mencari jawaban di luar sana—jawaban tentang kehilangan yang ia rasakan, atau mungkin jawaban tentang mengapa ia harus tetap bertahan. Ziya kecil dibawa ke dalam dunia yang sama sunyi dan kosong. Ia diserahkan kepada ayah yang tidak tahu bagaimana cara menjadi orang tua, apalagi seorang ayah.
Meskipun ayahnya berusaha memberikan segala kebutuhan materi—rumah, makanan, dan pakaian yang layak—ia tak pernah memberikan sesuatu yang lebih penting: perhatian. Tidak ada pelukan ketika Ziya demam. Tidak ada cerita pengantar tidur. Tidak ada kata-kata penghiburan yang menenangkan. Ayahnya adalah pria yang hadir secara fisik, tetapi jiwanya selalu jauh. Hati Ziya merasa kosong, seolah-olah dunia ini hanya tentang bertahan hidup tanpa benar-benar hidup.
Ziya tumbuh dengan segala kemandiriannya. Di usia lima tahun, ia mulai menyiapkan sarapannya sendiri, mencuci piring, dan merapikan tempat tidurnya tanpa banyak bantuan. Tak ada suara tawa atau kebahagiaan di rumah itu, hanya rutinitas yang membosankan. Ayahnya selalu pulang larut malam, terlarut dalam pekerjaan atau dunia pikirannya yang jauh. Jika Ziya ingin berbicara tentang hari-harinya di sekolah, ayahnya hanya memberikan senyum tipis, lebih sering melamun daripada mendengarkan.
Namun Ziya tidak pernah membenci ayahnya. Ia tahu ayahnya juga terluka. Ia hanya merasa... kosong. Seperti ada yang hilang, dan ia tak tahu bagaimana cara mengisi ruang itu.
Saat usia Ziya menginjak sepuluh tahun, ia mulai menyadari ada banyak hal yang tidak ia miliki. Teman-teman di sekolah punya orang tua yang hadir dalam hidup mereka. Mereka memiliki tawa, kebahagiaan, dan cinta yang Ziya hanya bisa lihat dari kejauhan. Ziya belajar untuk tidak berharap lagi. Dia tidak mengharapkan pelukan atau perhatian. Ia cukup belajar untuk bertahan dalam keheningan itu.
Namun, suatu hari, saat Ziya berusia 13 tahun, segalanya berubah.
Ayahnya datang ke rumah dengan seorang wanita. Wanita itu cantik, dengan rambut panjang yang tergerai indah, dan senyum yang ramah. Suaranya lembut, dan ia berbicara dengan penuh perhatian. Ziya tidak tahu siapa wanita itu, tetapi ia merasa bahwa wanita itu akan merusak keheningan yang selama ini menjadi bagian dari hidupnya. Wanita itu bernama Liana.
"Ayah akan menikah lagi," ujar ayahnya suatu malam, saat Ziya sedang duduk di ruang tamu, menonton televisi. Suaranya datar, seolah mengumumkan berita biasa. Ziya tidak tahu harus berkata apa. Seperti ada sesuatu yang tajam mengiris dada kecilnya. Ia merasa seolah-olah ia digantikan. Tidak ada lagi ruang untuknya, tidak ada lagi kasih sayang yang bisa ia harapkan.
"Kenapa?" Ziya akhirnya mampu bertanya, meskipun suaranya terdengar seperti bisikan. Ayahnya hanya mengangkat bahu.
"Ayah juga butuh teman, Ziya," jawabnya tanpa menatap Ziya, seperti biasa. Jawaban itu membuat Ziya merasa seperti benda yang tidak penting—seperti bagian yang terlewatkan dalam hidup sang ayah. Mungkin ia hanya pengingat bahwa sang ibu sudah tiada. Ziya merasa, untuk pertama kalinya, terbuang dari rumah yang ia anggap sebagai tempat perlindungan.
Ziya tidak marah. Tidak ada air mata yang keluar. Ia hanya diam, menundukkan kepala, merasa terperangkap dalam kehidupan yang tidak ia pilih. Ia tidak tahu bagaimana harus menghadapinya. Namun, malam itu, di bawah selimut tebal di kamarnya, Ziya terbangun. Ia merasa tidak bisa bernapas. Hati kecilnya hancur, dan semua dinding yang ia bangun untuk melindungi dirinya sendiri mulai runtuh perlahan. Ia tahu, dalam hatinya, bahwa dunia yang dulu begitu sunyi kini akan semakin sepi.
Keesokan harinya, Liana datang lagi, kali ini dengan senyuman lebar dan pembicaraan yang hangat. Ziya merasa cemas, bingung, dan sedikit takut. Liana mencoba berusaha dekat dengannya, tetapi Ziya hanya tersenyum tipis. Ia tidak tahu harus berbuat apa.
“Ayo, Ziya, kita makan malam bersama,” ajak Liana dengan suara lembut.
Ziya hanya mengangguk, walaupun hatinya penuh keraguan. Dia tahu, meskipun Liana mencoba masuk ke dalam hidupnya, hati Ziya tetap kosong. Karena di dalamnya, tak ada tempat untuk Liana. Tak ada ruang untuk seseorang yang mencoba menggantikan posisi ibunya.
Sunyi itu kini menjadi lebih terasa. Tidak hanya karena ketidakhadiran ibunya, tetapi juga karena Ziya merasa bahwa ia sedang diperkenalkan pada dunia yang sama sekali tidak ia kenal. Dunia yang bukan untuknya. Dunia yang harus dipenuhi dengan senyuman palsu dan percakapan kosong.
Ziya menyadari, ia tidak hanya kehilangan ibunya, tetapi kini, ia sedang kehilangan dirinya sendiri.