Gisella

36 5 36
                                        

Gisel duduk di sebelah Ningsih, kali ini dia akan serius menceritakan perihal bertemu cowok ganteng kemarin. Gadis itu menyibak rambutnya, dia melihat sekilas jam tangannya, masih ada setengah jam lagi menjelang memasuki sesi kedua perkuliahan. Kali ini terpaksa dia bercerita dengan Ningsih. Sebelumnya gadis itu hanya terbuka kepada Ryan saja yang dia anggap sahabat.

"Ning, lo sibuk?" tanya Gisel pelan.

Ningsih menoleh kepada Gisel yang duduk di sebelahnya. " Tugas gue udah selesai kenapa, Sel?"

"Enggak sih lu janji ya jangan cerita ke siapa-siapa ntar."

"Enggak, gue janji. Emang kenapa sih kayaknya penting banget."

Gisel menoleh ke kiri dan ke kanan memastikan tidak ada yang menguping pembicaraan mereka. "Termasuk sama Ian kamu jangan cerita, ya, Ning?"

Ningsih mengangguk cepat.

"Kemarin di perpustakaan gue ketemu cowok, ganteng banget. Kayaknya gue naksir. Gila aja sih, gue udah sering pacaran tapi sama cowok ini lah gue deg-degan. Sampai sekarang gue tuh susah ngilangin bayangan cowok itu dari kepala gue," cerita Gisel.

"Hi hi hi, yang lagi jatuh cinta. Gue kira lo tuh pacaran sama Ian," ledek Ningsih.

"Enggak, tau. Gue sama Ian itu murni sahabatan. Gak mungkin ada perasaan," protes Gisel.

"Ih, perasaan orang siapa yang tau. Dia tuh tatapannya beda ke elo kali," komentar Ningsih.

"Perasaan lo aja kali. Kami tuh emang sahabatan, dan udah janji gak bakalan suka satu sama lain," pungkas Gisel sembari melihat jam di pergelangan tangannya.

"Kalau emang iya, ya gak apa-apa kali. Kalian sama-sama single," ledek Ningsih.

"Ck, kok jadi ngomongin Ian sih. Kita balik lagi ke cerita gue tadi. Gimana cara kenalan sama cowok itu ya?" ucap Gisel.

"Minta tolong kenalin ke orang yang kenal sama dia," jawab Ningsih bersemangat.

"Ke Karina?" tanya Gisel dengan wajah malas.

"Loh, Karina kenal?" tanya Ningsih kembali.

Gisel mengangguk. Gadis itu tampak malas kalau harus minta tolong pada Karina. Baik Gisel maupun Ian agak malas dengan Karina. Menurutnya Karina enggak lebih dari mahasiswa pemalas lainnya. Datang terlambat, sering ambil jatah, dan sering menyalin tugas teman. Entah mengapa Karina dan beberapa temannya begitu. Namun, kelebihan Karina dia kenal dengan banyak cowok termasuk cowok yang disukai Gisel kemarin.

"Karina kan emang kenal sama cowok-cowok. Dia tuh pinter banget deketin cowok. Kemarin Husna nggebet cowok, dih ternyata Karina kenal. Y udah Husna langsung tuh minta comblangin sama Karina," papar Ningsih.

"Lo serius?" Tanya Gisel mendelik.

"Serius, Husna yang cerita. Cowok itu Kenal karena satu organisasi sama Karina."

"Oh...." timpal Gisel.

"Lo coba deketin Karina dulu, gih. Pasti dia mau kenalin," saran Ningsih.

Gisel mengembuskan napas. Gadis itu seperti malas jika harus berurusan dengan Karina. Padahal secara pribadi, Karina tidak pernah menggagu dirinya, ataupun membuat masalah. Hanya saja, personal dia yang tidak menyukai Karina tanpa sebab. Berpikir sejenak sepertinya yang diucapkan Ningsih ada benarnya. Mengapa dirinya tidak minta tolong pada Karina saja, dan mengesampingkan rasa tidak suka tanpa alasan itu. Obrolan berakhir dan perkuliahan sesi dua dimulai.

Gisel tampaknya mulai tidak berkonsentrasi. Memang jatuh cinta bisa membuat seseorang menjadi tidak konsentrasi. Pikiran Gisel kembali kepada cowok yang dia temui beberapa hari yang lalu. Magnet pesonanya sangat kuat sekali sampai hatinya sangat ingin menemuinya dan berkenalan. Syukur-syukur cowok itu belum punya pacar.

Menemani dari NolWhere stories live. Discover now