...
"MASTER TELAH TIBA! "
"SELAMAT DATANG, MASTER! " Para anak buah sudah membungkukkan badan di sisi sang master.
Dizon Phantomhive, telah pulang dari perjalanan panjang nya di Eropa. Ia berjalan menaiki anak tangga, di hadapannya sudah disambut oleh menantu serta keempat cucu-cucunya.
Benar.. hari ini adalah perayaan kejayaan keluarga Phantomhive yang diadakan setiap setahun sekali di pertengahan bulan Maret.
"Selamat datang kembali, kek.. " sapa Rowein, si putra kedua.
"Kakek pasti lelah.. kami sudah menyiapkan arak kesukaan kakek di dalam. " Sambung Rudolf, anak ketiga.
"Hoho~ Kalian benar-benar menantikan kepulanganku ya~? Nah, ayo kita masuk~ "
Sementara pesta kepulangan dan kejayaan tengah diadakan di rumah tradisional campuran Cina dan Korea itu, disatu sisi, salah satu anggota keluarga yang pergi tengah mempersiapkan diri untuk pulang.
Sayo tengah mengganti pakaiannya. Ia mengatakan kasus putih polos, celana hitam panjang, dan jaket motif kotak-kotak berwarna merah. Rambutnya dikunci kuda, segera ia mengenakan sepatunya setelah ia lihat hari sudah semakin gelap. Dengan hanya membawa ponsel, dompet, dan juga map berisikan dokumen sekolah, ia siap untuk pergi. Sebelumnya, tak lupa ia mengunci kamarnya.
"Huh.. aku akan datang, minta tanda tangan, lalu pulang.. " gumamnya. "Oke, aku pasti bisa.. " ia meyakinkan dirinya.
Sebenarnya, ini adalah kali pertamanya ia diwajibkan untuk meminta tangan sang ayah secara langsung. Sekolahnya tidak bisa lagi membantunya untuk meminta tanda tangan ayahnya.
Bicara dengan sang ayah, setiap kali ia memikirkan itu hanya ada kekosongan dalam pikirannya. Selama lima belas tahun ia hidup, rasanya dia tidak pernah berbicara dengan ayahnya, bahkan saling bertegur sapa pun tidak pernah.
Jarak dari sekolah ke rumahnya cukup jauh, namun masih bisa ditempuh dengan mobil. Sayo memesan taxi online, dan menunggunya di trotoar. Ia berdiri sembari menghafal kalimat yang hendak ia ucapkan pada ayahnya nanti. Ia ingin sekali cepat-cepat menyelesaikan urusan ini.
"Oke.. aku pasti bisa.. " gumamnya. Ia menarik nafas panjang, kemudian menghembuskannya dengan lantang.
Kenapa tangan ku berkeringat? Ini sudah yang ketiga kalinya Sayo mengelap telapak tangannya yang berkeringat. Perasaan gugup ini bahkan tak pernah ia rasakan pada saat lomba bahkan saat menjawab pertanyaan lisan. Seperti menaburkan garam pada seekor siput, dan seperti mengajarkan seekor ikan memanjat pohon.
*Tin! *Tin!
"Atas nama Sayo P? " Tanya sang supir taxi.
"Iya, saya.. " Sayo bergegas masuk ke dalam taxi.
Ia sengaja menyingkat namanya, untuk mengurangi pembicaraan dengan orang lain.
Bagi Sayo, menjawab pertanyaan tentang keluarganya sendiri adalah sesuatu yang sulit, bahkan lebih sulit dari menjawab pertanyaan olimpiade. Hubungan yang penuh dengan jarak adalah keputusannya sendiri-yang tak ia sesali. Namun di saat-saat seperti ini, ia masih berharap keluarganya masih mau mengerti dengannya.
"Semoga saja mereka tidak menanyakan apapun.. " gumamnya.
**********
Sayo turun di depan gapura yang bertuliskan 'Selamat datang' yang ditulis menggunakan Hanzi. Benar, rumahnya berada di kawasan Pecinan di Singapura.
Ia berjalan kaki, melewati para pedagang yang tengah ramai pembeli. Memang, sekarang sudah jam makan malam. Aroma masakan berempah yang sudah lama tidak ia cium meninggalkan kesan nostalgia. Terakhir kali ia disini adalah lima tahun yang lalu. Ia sering diajak berkeliling membeli jajanan pasar oleh pamannya. Bukan paman dari pihak ayah maupun ibu, melainkan anak buah kakeknya. Bisa dibilang ia punya banyak paman, mengingat kakeknya punya lebih dari 200 anggota. Terlebih lagi sekarang sang ayah sudah memperluas jangkauan wilayahnya, tak dapat dihitung lagi berapa banyak orang yang akan ia panggil paman.
YOU ARE READING
I Don't Want This Family
Teen FictionSetelah sang ibu meninggal, ia lebih memilih menghabiskan masa-masa sekolahnya dengan tinggal di asrama sekolah, untuk menjaga jarak dengan ayah serta kakak-kakaknya. Namun suatu ketika, sang ayah mengambil alih sekolahnya, membuat asrama ditutup. P...
