BAB 1

6 1 0
                                        

*ding *dong *ding

Suara bel sekolah yang menandakan waktu pembelajaran akan segera dimulai berbunyi. Namun kali ini, pembelajaran ditunda karena murid-murid dikumpulkan di aula. Dengan cepat para murid berbaris di aula, hari ini akan ada pengumuman penting mengenai acara tahunan sekolah.

SMA Wanita Rose, sebuah sekolah bergengsi yang punya banyak koneksi dengan para konglomerat di seluruh Asia. Hampir 90% orang tua menyekolahkan putrinya disini untuk mencari koneksi dengan para konglomerat di seluruh Asia. Namun, bukan berarti sekolah ini hanya mementingkan koneksi mereka saja. Kecerdasan, dan prestasi lainnya seperti musik atau menari akan sangat diutamakan disini. Bahkan, bagi siswi yang berhasil mendapatkan juara 3 besar umum secara berturut-turut akan mendapatkan beasiswa penuh ke universitas manapun yang mereka inginkan. Dan dipastikan pula, namanya akan dicantumkan pada dinding alumni sekolah sebagai murid terbaik di angkatannya.

Tidak ada kecurangan, apalagi penindasan di sekolah ini. Kepala sekolah percaya, bahwa wanita harus bersikap anggun dan punya sopan santun. Bagi siswi yang tidak memenuhi etika tersebut akan mendapatkan pelatihan khusus dan penanganan psikolog. Kepala sekolah juga memastikan tidak ada yang menyukai sesama jenis di sekolahnya, bahkan berpacaran dengan guru selama status mereka masih guru dan murid di sekolah ini. Aturan ketat inilah yang membuat sekolah ini disanjung.

*prok.. *prok.. *prok..

Para murid menyambut kepala sekolah dengan antusias. Suara tepuk tangan terdengar sangat antusias bahkan sampai sang kepala sekolah sudah berdiri di podium.

"Sudah, cukup.. " ucapnya dengan anggun. Sontak murid-murid pun menghentikan tepuk tangan mereka.

"Para murid-murid ku tersayang.. " ia memulai kalimat pertamanya. "Di bulan Maret ini, para murid kelas 10 telah menyelesaikan satu tahun pertama mereka di SMA tercinta kita ini.. " para murid menegakkan badan mereka, rasa antusias terpancar di mata mereka.

"Untuk itu, saya ingin mengucapkan selamat bagi murid-murid kelas 10 yang sudah naik menjadi kelas 11, dengan presentase 100% ! " Serunya.

*prok.. *prok.. *prok..
Para murid kembali bertepuk tangan.

"Untuk itu, kami para guru, akan mengumumkan tiga bibit unggul pada angkatan kelas 11 dan 12 saat ini. "

"Woah.. "

"Aku yakin pasti 'dia'.. "

"Iya, pasti dia.. "

Para murid mulai menerka-nerka. Tak lama kemudian, seorang guru naik ke podium untuk memberikan map yang diduga berisi daftar nama-nama sang juara.

"Baik, akan saya bacakan mulai dari kelas 11 dahulu. " Ucapnya.

Situasi mulai tegang. Para murid yang berharap nama mereka dipanggil hanya bisa berdoa, beberapa mulai terlihat acuh karena yakin namanya tidak akan dipanggil, beberapa diantaranya bahkan ada yang tampak yakin namanya akan dipanggil, dan sebagian besar orang-orang itu justru memilih barisan paling depan.

"Juara 3, diraih oleh siswi kelas 10-E! Atas nama.. Minato Kana! "

*prok.. *prok.. *prok..

"Prestasinya dalam lomba bahasa, menulis cerpen dan puisi telah membawa juara sampai ke tingkat Internasional. Silahkan naik ke atas panggung, nak.. " sambungnya.

Kana naik ke atas panggung, disambut oleh seorang guru yang memberikan ucapan selamat padanya.

Minato Kana, putri tunggal dari Minatozaki Group. Memiliki bakat menulis dan menyusun kata-kata indah yang diwariskan oleh sang ibu. Meski sifatnya sedikit pemalu dan pendiam, perasaannya dapat tertuang jelas dalam sebuah karya sastra yang ia buat.

I Don't Want This Family Stories to obsess over. Discover now