Suara nyaring dari kertas yang terbuka mengelilingi ruangan yang senyap, dibawah lampu tidurnya. Nixo, Jendral I Abyss menatap kosong kearah tulisan yang terasa asing, namun juga familiar baginya.
Jari jemari lentik lelaki bersurai putih terus menerus membuka buku yang berada di genggamannya itu, sorot matanya yang semakin kosong dari masa ke masa. Kerutan lembut muncul di alis lelaki itu. Tapi-
Mengapa ia merasa tidak akrab dengan semua tulisan ini? Lupakan soal isinya, dari tulisannya saja itu adalah miliknya. Apa yang salah?
" .. "
Nixo mendesah.
Lelaki itu meletakan buku bersampul kuning pucat keatas meja kecil disampingnya, suara deretan kasur terdengar saat ia bangkit dan berjalan kearah teras.
Langit malam Abyss terbentang luas, bintang-bintang bertebaran bagai serpihan cahaya yang menggantung di kegelapan. Nixo menggenggam erat tepian benteng teras, jemarinya sedikit mengerat seiring dengan sesak yang merayapi dadanya.
Hampa. Bingung. Pasrah.
Mata emasnya menatap kosong ke arah bintang-bintang yang bersinar terang, seakan menawarkan secercah harapan bagi siapa pun yang melihatnya. Namun bagi Nixo, cahaya itu justru semakin menegaskan kehampaan di dalam dirinya.
Sebuah perasaan aneh menggelitik benaknya—seolah-olah, dengan satu gerakan tangan, ia bisa menghapus gemerlap bintang-bintang itu, mencabut harapan dari langit seperti debu yang tertiup angin.
Namun, itu bukanlah yang terpenting sekarang.
Ia memiliki tugas yang harus diselesaikan.
Ia harus tetap profesional.
———
Nampak siluet seseorang dibawah cahaya bulan yang remang-remang, cahaya rembulan itu menyinari ruangan yang mirip dengan sebuah kantor daripada kamar. Dengan beberapa interior kuno serta sebuah kristal kecil dan kristal berwarna merah yang berada di tengah-tengah.
" Saya memberi salam kepada Tuan The Madness."
Suara hum pelan terdengar, sosok itu, The Madness. Membalik, menatap Nixo dari belakang meja kerjanya, The Madness. Ia adalah seorang pemimpin di Abyss. Dan Nixo ingat jelas tentang hal itu.
Bagaimana tidak? jika kamu mencari seseorang dengan ciri-ciri, lelaki berambut putih panjang yang lembut, dengan mata merah darah dan juga tahi lalat di bibir kanan bawahnya? Serta ekspreksi lembutnya itu?
Jelas hanya ada satu di Abyss maunpun di Neraka ini. Yaitu The Madness.
" Astaga.. tidak perlu sungkan begitu, bagaimana perasaanmu. Nixo?"
Ucapan lembut The Madness membuat Nixo mengepalkan erat tangan kirinya, suasana diruangan itu seketika menjadi berat.
" Perasaanku?" Gumam Nixo dengan pelan, The Madness hanya tersenyum. Tetap berada ditempatnya, sinar rembulan perlahan-lahan kembali, menampilkan fitur wajah lelaki bermanik merah itu.
" Hmm, sepertinya berjalan dengan lancar." Ucapan The Madness. Jelas bukan untuk Nixo, tapi untuk dirinya sendiri , fitur wajah The Madness mulai semakin melembut.
" Kamu melakukan yang terbaik, aku mengapresiasinya."
"..."
Sesuatu berkabut dipikirannya, antara mempercayai atau. . . Curiga.
Apa yang Nixo lakukan selama ini?
Apa yang patut diapresiasi darinya?
Apa... Yang sebenarnya terjadi?
YOU ARE READING
Bisikan Melati : Nafas Di Ujung Senja
ActionJendral pertama kita, Nixo. Mempunyai banyak julukan atas prestasinya di Abyss. Sebuah lantai ketujuh di Neraka. Namun sayangnya, dibalik semua hal itu. Ia mempunyai kelemahan. Reset ingatan. Nixo tidak mempedulikannya, sebelum sesuatu hal yang ja...
