- 🅢 🅔 🅝 🅟 🅐 🅘 -
Tak ada yang tahu siapa [Name] sebenarnya──asal, klan, atau masa lalunya. Hanya bayangan dalam senyap, dikenal sebagai Hantu Anbu. Atas perintah Hokage Keempat, ia ditugaskan mengawasi Hatake Kakashi, shinobi jenius yang nyar...
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
TERBANGUN karena mimpi buruk sudah cukup mengguncang, tetapi terjaga oleh bayangan maut adalah kengerian yang tak terlukiskan.
[Name] terduduk dengan napas memburu, keringat dingin mengalir membasahi tubuh. Ia membisu, membiarkan pikirannya berperang dengan bayang-bayang yang masih mengendap di benaknya. Lama ia terdiam, sebelum akhirnya mengusir sisa-sisa mimpi buruk itu dan bangkit, memulai hari lebih awal dari siapa pun.
Saat melipat selimut dan merapikan tempat tidur, pandangannya sekilas jatuh pada jendela. Tirainya selalu terbuka, membiarkan cahaya luar masuk tanpa penghalang, sebab rumahnya berdiri di puncak gedung tertinggi, jauh dari jangkauan mata-mata yang penasaran.
Ia mengerjap pelan. Kelopak matanya terasa perih, digerogoti kurang tidur dan kelelahan yang terus menumpuk itu sebuah kombinasi melelahkan yang, entah sejak kapan, telah menjadi bagian dari dirinya. Letih itu ada, tetapi samar, tak lebih dari dengungan latar belakang yang tak lagi ia hiraukan.
"Bisakah aku tidur seperti manusia normal, sekali saja?"
Tawa miris pun keluar, menyadari kemustahilan.
Dari jendela, langit masih berselimut gelita, hanya dihiasi bintang-bintang redup yang berjuang bertahan sebelum fajar merebut tahtanya. Desa di bawahnya terlelap dalam kesunyian, membangun ilusi kedamaian yang sejatinya rapuh, seperti cermin yang retaknya tak kasatmata, menunggu pecah oleh kenyataan.
[Name] menarik napas panjang, membiarkan udara dingin menusuk paru-parunya sebelum akhirnya bergerak. Hari ini tak akan berbeda dari kemarin, pikirnya, sama seperti hari-hari sebelumnya yang berlalu tanpa ampun.
Namun, langkahnya terhenti saat melihat secarik kertas yang tergeletak di meja. Surat pengunduran diri yang telah ia tulis sepenuh hati kini tak lagi berarti. Ia meremasnya, melemparnya ke tungku, membiarkannya tertelan api tanpa ragu, seperti semua keraguan yang seharusnya sudah ia bakar sejak lama.
Nyala jingga itu melahap kertas dengan rakus, mengubahnya menjadi abu yang beterbangan ringan, seolah mengejek niat yang tak pernah benar-benar bisa diwujudkan.
[Name] menghela napas, menatap bara yang meredup sebelum akhirnya berbalik. Tugasnya belum usai. Pengunduran diri hanyalah sebuah ilusi. Sebuah kebohongan yang tak akan pernah menjadi kenyataan di dunia tempatnya berpijak.
"Yah... hari ini dan seterusnya jelas akan berbeda."
🅢🅔🅝🅟🅐🅘
[Name] mengunci pintu tepat saat pintu sebelah terbuka, memperlihatkan seorang Chunin dengan ikat dahi yang menutupi rambut. Tatapan mereka bersirobok sesaat sebelum [Name] menarik sudut bibirnya. Bersikap ramah adalah bagian dari bertahan hidup di dunia ninja yang kejam.
"Selamat pagi."
"Oh, selamat pagi," balas Genma, menunduk singkat. Matanya meneliti sosok tetangganya yang jarang terlihat di rumah. Ada secercah ketertarikan di sana, kekaguman samar atas penampilan gadis itu yang tampak lebih anggun dari biasanya. "Apa kau akan keluar hari ini?"