"AKU INGIN SEPERTI BULAN,
TETAP BERSINAR
MESKI GELAP GULITA"
Halo aku Beril! Sebut namaku seperti itu saja sebab aku bukan orang besar. Mungkin ketika bermimpi saja aku tersenyum senang ketika namaku dipanggil, baru seperti orang besar. Tak seperti saat ini, aku biasa saja saat namaku dipanggil oleh orang-orang yang hanya memerlukan diriku saat dibutuhkan.
"Beril ayo! Pelatih kita sudah menunggu".
Dia Emily, orang-orang biasa memanggilnya Emi si gadis idol Korea. Gadis berparas cantik yang dikagumi oleh banyak laki-laki maupun perempuan. Emi memiliki kulit putih halus dan sehat, serta tubuhnya yang ideal seperti para idol korea. Parasnya itu bisa membuat iri siapapun yang terobsesi akan kecantikan. Lalu tiba-tiba melintas pertanyaan dibenakku, apakah ada orang yang mengagumi diriku secara diam-diam? Tetapi pikiran itu segera buyar saat tangan cantik Emi menarik tanganku. Benar, halus sekali.
Musik kencang di ruang latihan menemaniku sore itu. Instrumen musik seirama dengan tubuhku yang bergerak lincah. Pelatih menatap kami satu-persatu memerhatikan setiap detail yang telah diajarkannya. Selang tiga menit berlalu, musik berhenti. Disusul diriku yang terengah-engah sedikit merasa lelah. Aku kemudian duduk bersama teman-teman yang lain. Emi dipanggil oleh pelatih, aku hanya melihat sekilas.
"Baik latihan hari ini dicukupkan, ingat satu bulan lagi kita semua akan bersaing. Jangan menyerah, apapun hasilnya yang penting kita sudah berusaha!".
Begitu latihan diakhiri, semua penari berpamitan kepada pelatih. Sekolah sudah mulai sepi dan gelap. Hanya kami, beberapa guru, dan satpam yang masih tinggal. Aku ingin segera pergi, namun Emi tiba-tiba memanggilku. Dia menyamakan langkahnya dengan langkahku. Keringat bercucuran dipelipisnya, rambutnya yang diikat rapih sebelumnya menjuntai jatuh menjadi berantakan. Tetapi Emi tetap cantik.
"Beril mau isi ulang botol minum dan pergi ke arah gerbang bareng tidak?".
Sebetulnya aku ingin menolak karena ingin cepat sampai ke rumah. Tapi tenggorokanku berkata lain, kering sekali. Airku habis diminum selama latihan tadi. Pada akhirnya aku mengangguk, menerima tawarannya. Kami segera berjalan beriringan karena lorong sekolah sudah sangat gelap saat itu. Sedangkan tempat isi ulang air cukup jauh dari ruang latihan. Ini alasan kenapa aku malas mengisi ulang botolku, sekolah SMA ASTRONESIA itu terlalu luas. Keadaan gelap gulita mengurangi indera penglihatan. Emi segera mengeluarkan Handphone-nya, menyalakan senter agar kami bisa berjalan dengan mudah.
"Ayo buruan". Aku berkata tak sabaran.
Kami akhirnya sampai di tempat isi ulang air. Aku mengisi botolku terlebih dahulu kemudian Emi. Kami menunggu satu sama lain. Kemudian diam sebentar untuk minum. Setelah merasa segar, kami segera jalan menuju gerbang. Namun setelah setengah jalan menuju kesana Handphone Emi berdering. Gadis itu sedikit menjauh dariku untuk mengangkat panggilan. Dia menatapku isyarat tolong tunggu sebentar. Aku mengangguk dan diam menunggu Emi mengakhiri panggilan. Tetapi belum sampai panggilan dimatikan, suara kencang motor menggerung terdengar semakin dekat.
Aku dan Emi menoleh melihat lelaki jangkung mengenakan pakaian serba hitamnya berhenti tepat di depan kami dengan motor besarnya. Emi tahu siapa lelaki itu, aku hanya diam. Sampai akhirnya kaca helm full face lelaki itu ia buka, aku bisa melihat sedikit parasnya. Sepertinya tampan, aku hanya bisa menerka. Tak lama lelaki itu menoleh menatapku, tetapi hanya sebentar.
"Naik".
Tanpa basa-basi lelaki itu menyuruh Emi naik ke motornya. Emi menatapku merasa tak enak, sebab dia yang mengajakku pulang bersama sebelumnya. Tetapi aku mencoba mencerna keadaan. Akupun tak ambil pusing segera menyuruh Emi pulang bersama lelaki yang memakai pakaian serba hitam itu. Sedikit kujelaskan, lelaki itu terlihat sangat maco dengan jaket kulit hitam dan jeans hitamnya. Kulihat tubuh kekar dan kaki jenjangnya sangat cocok dengan pakaian tersebut. Aku menyembunyikan rasa kagum yang kurasakan sebisa mungkin.
"Dia Rivano, pacarku".
Emi mencoba memperkenalkan lelaki itu secara tidak langsung padaku. Aku mengangguk dan tersenyum tipis. Begitupun aku dikenalkan kepada lelaki bernama Rivano itu secara tidak langsung oleh Emi.
"Dia Beril, teman komunitas menariku".
Motor itu melesat kencang begitu aku dikenalkan secara singkat oleh Emi. Gadis itu melambaikan tangannya padaku. Akhirnya aku sendirian ditengah kegelapan saat itu. Aku segera melangkah berjalan dengan cepat. Bulan mengikuti kemana aku pergi.
Begitulah bulan bersinar melihat pantulannya di depanku. Siapapun yang melihat Emily dan Rivano saat itu pasti akan merasakan dirinya tak beruntung hidup di dunia ini. Mereka adalah dua manusia sempurna yang diciptakan oleh Tuhan. Tampan dan Cantik, sangat bersinar seperti Bulan.
DU LIEST GERADE
RIVABEL
JugendliteraturRivano adalah sosok lelaki tampan yang sempurna. Dia dicintai oleh banyak orang. Memiliki teman dimana-mana, serta hidup dengan harta yang lebih dari kata cukup. Tak luput dengan keberuntungan lain, dia memiliki kekasih yang sangat cantik. Gadis yan...
