Ketika terbangun dari tidur panjang, aroma manis langsung menyerbu indera penciumannya, Meredam segala amarah dan membangkitkan Nafsunya.
Ia mencari, mengejar, lalu menemukannya.
Jelaga merahnya terperangkap dalam shappire itu, berusaha meresapi sed...
Oups ! Cette image n'est pas conforme à nos directives de contenu. Afin de continuer la publication, veuillez la retirer ou mettre en ligne une autre image.
'Οπου.'
Μια δύναμη που θεωρείται δώρο Θεού. Εκεί να απορροφηθείς από την ψυχή, να είσαι και προστατευτικός και μεγάλος.
••••••
Bulan bercahaya di cakrawala, bak tergantung bagai lampion yang menerangi kegelapan malam. Semua cahaya padam, menyisakan Bulan dan Teman-temannya; Bintang dan langit malam.
Sudah larut malam ketika Isis terbangun, kala itu hanya bulan dan bintang yang menerangi malam, cahaya dari lampu-lampu rumah penduduk sudah padam, penanda bahwa mereka telah terlelap dan membangun mimpi masing-masing.
Isis Romero, pemuda berwajah anggun, berdiri termenung menghadap jendela, cahaya bulan menghias sebagian wajahnya, memberikan kesan bak keturunan dewi selene¹. Rambut ikalnya berwarna platina, berkilauan akibat sinar yang dipancarkan bulan.
Sapphire itu menatap kosong vas bunga lama, terisikan bunga mawar merah yang telah lama layu termakan waktu. Tak ada hal menarik dari bunga itu.
Kejadian hari lalu terngiang dikepalanya, bagai dengingan kaset rusak. Terkadang dirinya bertanya-tanya, kenapa hal aneh sering terjadi. Ketika bisikan kabar mengatakan, 'Jauhi hutan, jika kau takut kesepian.'
Hal itu bukan sekedar kabar burung, semua terjadi karena begitu banyak penduduk yang hilang ketika memasuki hutan, sebagian menganggap mereka tersesat, yang lainnya menganggap mereka disesatkan.
Lalu hari dimana kemarau tiba dan menetap berkepanjangan, tumbuhan layu, air mengering, makanan menipis. Kepanikan besarang dikepala. Namun, kala berbagai netra itu jatuh untuk mengamati Hutan. Rimbun memanjakan mata, seperti dunia yang berbeda.
Maka bisikan peringatan itu dianggap angin lalu. Dan malam ini adalah malam ke-sepuluh mereka memasuki hutan, belum kembali, atau memang tak akan kembali.
Setiap keluarga menunggu, merindu. Namun apa yang bisa dilakukan jika takdir sudah menetapkan? Kematian atau kehidupan, semuanya sudah tercatat abadi.
Isis, tahu seperti apa itu kesepian. Seperti terang yang gelap, hangat yang dingin. Dia hidup dalam kesepian yang memeluknya, berusaha berdiri dengan kaki nya sendiri, tanpa pegangan atau rengkuhan yang menuntun dan mengarahkannya.
Namun siapalah dia yang mampu membenci takdir.
Bunga layu yang sedari tadi asyik dipandang shappire biru itu terbakar, menjadi abu hitam. Tak lama suara rendah penuh tanya datang dari balik punggung Isis, "Apa yang menarik dari bunga layu itu?"
Sontak Isis mengalihkan perhatiannya, kearah orang asing yang dengan lancangnya masuk kedalam rumah isis. Dengan alis yang mengerut bingung isis bertanya, "Siapa kau?"
"Aku sedikit bertanya-tanya, apa yang menarik dari bunga busuk itu, hingga Shappire indah ini menatapnya terus menerus."
Pria itu bertubuh jangkung, hingga Isis harus mendongakkan kepalanya, matanya berwarna merah gelap, ketika irisnya menatap tepat dikedua belah mata itu, rasanya dia ikut tenggelam.