Langit sore berwarna kelabu nampak murung dan lesu persis seperti wajahku setelah berulang kali mendapat cukup banyak revisi soal tugas akhir. Begitu kata temanku sherly yang kini tengah duduk menemaniku di halte menunggu kedatangan bus berikutnya.
"udah lah Ann, kamu masih mending punya aji yang pinter bisa bantuin kamu masalah ginian, lah aku?" katanya adu nasib seperti biasa.
Mendengarku hanya bergumam, sherly kembali menatapku, sorot matanya seperti menimbang nimbang sesuatu yang ingin ia lontarkan.
"apasih? Ga usah sok gaenakan gitu deh" ketusku.
"masih belum baikan sama aji?" akhirnya pertanyaan itu keluar.
"siapa yang berantem?" bukannya menjawab aku malah balik bertanya, membuat sherly menghela nafas besar.
"Ann, hubungan kalian udah sejauh ini, dan aji? Cowo sedatar itu mau aneh aneh apa sih? Kalo emang ada yang ganjel coba diomongin baik-baik gih" nasehat sherly hanya kubalas senyum tipis dengan tatapan sendu.
Bus yang ditunggu sudah tiba dihadapan, aku berdiri menggendong tas ku bersiap pergi, namun sebelum itu aku berbalik untuk membalas nasehat sherly.
"tapi mempertahankan hubungan ga semudah itu sher" mendengar itu sherly mengangguk paham dan merangkul pundakku hangat.
"inget, aku selalu dukung kamu Ann, aku ga peduli sama si aji aji itu" ujar sherly dengan wajah serius membuatku kembali tersenyum dan melambaikan tangan kemudian pergi menaiki bus yang sudah menunggu.
Aku membuka ponsel, hanya untuk mengirim pesan kepada aji yang di maksud sherly tadi. Iya aji, namanya aji pradana, pacarku sejak 3 tahun yang lalu. namun lebih dari itu, kami sudah saling mengenal sejak duduk di bangku terakhir SMA, Makanya tidak heran kalau sherly terlihat sangat menyayangkan hubungan kami yang makin hari makin tidak jelas arahnya mau kemana.
"aji, sore ini jangan lupa ya, di kafe biasanya, aku udah otw" pesan singkat itu sudah terkirim lebih dari 55 menit yang lalu. Karena saat ini aku sudah duduk di kafe biasanya, memesan segelas vanila latte seperti biasanya, meneguknya sedikit demi sedikit sembari mengetik beberapa revisian di leptop kemudian beralih melihat langit yang makin gelap saat mata mulai terasa panas dan pikiran yang carut marut seperti biasanya.
semuanya berjalan seperti biasanya sampai notifikasi ponselku berbunyi dan menampilkan pesan masuk dari aji.
"Ann, maaf."
Satu bubble chat yang baru saja terkirim itu aku baca perlahan, namun isinya terlalu singkat untuk aku pahami apa maksud dibalik kata maaf itu.
Maaf karena baru bisa mengabari saat aku sudah menunggunya berpuluh puluh menit yang lalu? Maaf karena tidak bisa datang kali ini? Atau maaf yang lainnya?
Dulu, aji akan mengatakan "maaf, lama" dengan tubuh yang basah kuyup karena menerobos hujan demi mengantarkan seporsi mie ayam untuk menghiburku di malam yang dingin, tapi kini? Bahkan untuk memberi kabar saja rasanya sulit sekali.
"aji? Kenapa?" balasku, namun centang 2 yang tertera terus berwarna abu bahkan setelah 15 menit berlalu.
Kutekan tombol memanggil karena jujur saja aku khawatir. Sebenarnya tidak sekali aji membatalkan janji temu denganku tiga bulan terakhir ini, namun pasti dengan alasan yang jelas, tidak hanya kata maaf yang ambigu.
Lagi lagi panggilanku hanya sampai berdering dan tidak terjawab, tiga kali aku melakukan hal yang sama dengan hasil yang tidak berbeda.
Aku menyerah,
Mungkin dia ada urusan penting,
Mungkin hp nya mati
Atau mungkin yang lainnya?
YOU ARE READING
Before The Rain Ends
FanfictionSeberapa banyak pun aku membenci hujan, pada akhirnya ia tetaplah anugrah dari Tuhan. Begitupula kamu, seberapa jauh pun aku mencoba melupakan semua hal tentangmu, pada akhirnya kamu tetap berdiri disana--menungguku, dan menyambutku untuk pulang.
