Secret Romance in Paris (Chanbaek)

44 1 0
                                        

Buruknya cuaca, guncangan di pesawat, serta pendaratan yang tidak mulus nyaris meremukkan setiap inci tulang Chanyeol. Ia bukanlah seseorang yang menyukai perjalanan jauh. Park Chanyeol adalah orang yang cukup apatis akan segala hal di sekelilingnya. Entah apa yang telah ia lakukan di kehidupan lampau hingga mendapatkan sebuah kemujuran seperti ini.

Menikah tak pernah sekali pun menjadi prioritas dalam hidup. Ia menyukai sebuah keleluasaan tanpa komitmen. Well, tidak sampai ia menemukan lelaki yang beberapa jam lalu tengah melepas kepergiannya dengan hati berat. Lelaki yang mengisi harinya dengan ribuan warna hingga tak mengijinkan sekelumit kejenuhan mengambil alih. Ialah yang telah mengenalkan Chanyeol pada sesuatu seperti cinta; perasaan tak terdefinisi yang memiliki banyak makna di balik susunan lima huruf.

Chanyeol mendambakan sesuatu yang luar biasa untuk pernikahan mereka. Ia percaya bahwa sesuatu yang sakral takkan datang untuk yang kedua kali. Biar bagaimanapun, pernikahan mereka harus berakhir dengan sebuah impresi mendalam. Sesuatu yang takkan terseka oleh waktu, pun selalu dikenang oleh orang-orang di sekitar mereka.

Sungguh, Park Chanyeol bukanlah seseorang yang seperti ini sebelum ia berjumpa dengan si Calon Suami. Lelaki itu selalu menyebutnya belahan jiwa, bahkan calon suaminya muak mendengar dua kata tersebut, tetapi Chanyeol terlampau menggemarinya.

Tujuan utama dari ketibaannya di Paris adalah untuk menimba inspirasi bagi tema pernikahan mereka kelak. Ia sejatinya hanya memiliki waktu dua bulan dan tak cukup mudah baginya untuk mendapatkan ijin dari sang Calon Suami. Alasan Chanyeol tak membawanya ikut serta adalah lantaran ia ingin menyimpan momentum tersebut untuk masa bulan madu mereka. Ia telah membeli dua lembar tiket keberangkatan ke London untuk hadiah pernikahan.

Dengan satu kopor mungil, ia melangkah terseret menuju gerbang keluar bandara, kantong hitam mendekorasi mata letihnya. Kulit wajah Chanyeol nampak kucam, seakan-akan seluruh tenaganya terkuras tandas. Ia kemudian meletakkan kopor di atas alat x-ray dan berjalan memasuki alat sensor tubuh. Bunyi bising lantas meringking hingga Chanyeol terperanjat. Ia meneleng ke kanan dan ke kiri, mendapati salah seorang petugas bertubuh pendek tengah merapat ke arahnya. Ia tidak tersenyum, tidak pula bertampang ramah.

"W-what's wrong?" tanya lelaki tinggi tersebut sembari merentangkan kedua lengan. Keningnya mengernyit linglung tatkala si Petugas memeriksanya sekali lagi dengan alat sensor yang ia pegang.

Alat tersebut mengeluarkan bunyi yang sama ketika melewati bagian pinggang Chanyeol.

"Please remove your belt, Sir." ujarnya datar. Suaranya terdengar normal. Jika saja ia menunjukkan sedikit keramahan.

"Oh, sure." Ujarnya Chanyeol cepat, menuruti perintah si Petugas.

"Now would you stand in the middle of the detector again?"

Chanyeol memutar kedua bola mata, namun masih mendengarkan ucapan lelaki tersebut. Nyatanya, alat itu tetap berbunyi hingga sebuah umpatan tanpa sengaja meluncur dari celah kedua bibirnya. Ia melirik lelaki di hadapannya sembari mendelik. Papan nama yang tersemat menciptakan dua susunan kata. Dalam kejengahan lelaki itu sempat terkejut bahwa si Petugas adalah orang Korea, sama seperti dirinya.

"Can you speak Korean, Mr. Byun?" tanya Chanyeol, dengan kemampuan berbahasa Inggris terbatas. Sekadar berkelakar, ia pula membawa dua macam kamus di dalam tas ranselnya.

"Tentu saja," jawab Baekhyun sembari mengangguk acuh tak acuh. Ia meminta Chanyeol kembali menghampirinya dan mengulangi ritual sebelumnya. Alat sensor dalam tangannya berbunyi tepat di saku celana kanan Chanyeol. Membuat Baekhyun tak berpikir panjang untuk segera meraba bagian tersebut.

"Hei, apa yang kau lakukan? Apa kau sudah gila?"

Baekhyun menghentikan kegiatannya dan menatap Chanyeol dengan pandangan menikam. "Apakah ini perjalanan pertama anda menggunakan transportasi udara, Tuan?"

Secret Romance in ParisStories to obsess over. Discover now