"IBU JAHAT SAMA AKU!! KENAPA AKU DILAHIRIN CUMA UNTUK MENDERITA?!! SIAPA YANG SAYANG SAMA AKU?? Siapaa.." ucapnya lirih.
"Siapa.. siapa yang tanggung jawab sama penderitaan aku? Aku gak berbuat apa apa tapi aku harus menderita??" gadis itu jatuh tersungkur di kasurnya. Ia marah dengan hidupnya, tak sesekali ia memukul kencang kepalanya untuk mengganti rasa sakit di dada yang hampir penuh.
***
Malam ini, Abel duduk di atas motor dan berhenti di bahu jalan sejenak untuk menenangkan pikirannya. Sudah sejam yang lalu ia cukup untuk menghabiskan waktunya hanya untuk memberikannya sedikit ketenangan, namun sepertinya tidak bekerja maksimal. Denting ponsel berbunyi dan ia tersenyum setelah mendapat kabar dari temannya, setelah itu ia bergegas pergi.
Caca mengajaknya untuk sekedar minum es krim di toko langganan mereka dengan tiba tiba. Sesampainya di lokasi, seperti biasa Caca belum hadir dan Abel hanya menarik nafas lalu pergi memesan es kesukaannya. Selang lima belas menit, Caca hadir dan membubarkan lamunan Abel yang sedari tadi menunggu sambil melamun.
"Woy Bell, dari mana emang lu?" sambarnya.
"Kaga, keliling bentar terus nyamper lu. Kebiasaan lu." cibirnya saat Caca selalu terlambat di setiap pertemuan.
"Ya sorry.."
Caca mulai memesan menu dan mereka akhirnya berbincang bersama. Caca adalah teman Abel sejak SMP dan masih bertahan hingga keduanya sudah kuliah. Pertemanan mereka bisa di anggap cukup awet, walau begitu memang sesekali akan ada perdebatan namun keduanya cukup fasih untuk menyelesaikan semua masalah dengan instan. Mereka juga cukup tahu satu sama lain, hampir tidak ada yang ditutupi.
"Emak lu lagi ya??" tanya Caca yang sepertinya sudah paham ketika melihat raut wajah Abel.
Abel menarik nafas kasar, "Gue cape aja, selalu ngadepin hal hal yang berulang."
"Emang tadi kenapa?"
"Bukan tadi, tapi kemarin. Gabisa gua jelasin kenapanya ke lo, tp intinya gue udah jelasin alasannya ke emak gue soal masalah ini, tapi dia ngiranya gue malah ngelawan. Gue cuma klarifikasi kalau yang ada di pikiran dia tuh salah Ca, tapi dia mikirnya gue ni anak gak tau aturan karna berani ngebantah dia. Gue harus diem gitu ketika gue tau bukan itu yang gue lakuin, itu bukan salah gue, dan gue pun gatau kenapa bisa terjadi?? Diem gituu??"
"Terus emak lu gimana?"
"Ya.. Gue tinggal, gua cabut kekamar. Pake earphone, full volume." jengkelnnya seraya meminum Es krim itu.
Caca terkekeh kecil, "Gue juga kemaren begitu lagi."
"Begitu kenapa?"
"Gua kemarin sore harusnya ambil londrian, tapi gua masih disuruh kaka gua buat bantuin masakkannya. Trus kata kaka gue, biar dia yang ambilin soalnya masakkannya lebih penting buat dia kasih ke pacarnya. Dia kaga bisa masak anjirr. Yaudah tuhh, gue kira aman kan. Eh pas pagi adek gua marah marah karna baju pramukanya kaga ada dikeranjang. Gua di bangunin emak gue, trus gue bilang aja kalo kaka yang mau ambil. Ternyata si bangsat ini kaga ambil, bego emang. Gue yang kena semprot sama emak gue, gue di omelin 'kan mama suru kamu bukan kaka'. Beh anjingggg! Pengen gua pecahin tu pala kaka gue." jelasnya.
Abel tertawa, "Ngakak anjirr, padahal dia yang salah tapi lu yang harus bertanggung jawab."
"Makanya gua kesel, mau gimana lagi? Nyatanya emang jadi gue yang tanggung jawab buat hal yang gue gak lakuin." ucap Caca.
"Kenapa ya, kita manusia selalu dikasih kesempatan untuk dapetin hal yang gak adil. Trus endingnya harus dimaafin lagi, sial." balas Abel.
"Iyaaa, gua juga ngerasa setiap gua dititik mau menang buat diri gua sendiri, kenapa pasti ada aja jatohnya. Let say, di ujung uda ada finish tapi ada aja cederanya dan akhirnya gua gak jadi pemenang itu."
"Pada akhirnya kita cuma bisa maafin kejadian itu, teru pura pura buta, dan lanjutin hidup lagi."
Mereka hanyut dalam pikiran masing-masing, namun bunyi notif ponsel Abel membangunkan keduanya.
"Duhh, gua lupa lagi ngabarin cowo guee." panik Abel.
"Oon, emang dia dimana?"
"Kantor, pulang jam 11 malem katanya, gua lupa kasih tau kalo gua mau cabut anjir."
"Yaudah lahh, dia juga sering gitu kan." ejek Caca.
"Sialan, bener lagi."
Setelah itu mereka bercanda dan tertawa bersama, seolah tak ada luka yang menempel di antara mereka. Abel merasa sedikit lebih ringan, mungkin karena tawa Caca, atau mungkin karena malam ini, ia tidak sendirian.
***
Pagi, Tangerang.
Hari ini, gadis itu berencana pergi ke perpustakaan kampus untuk mencari beberapa referensi jurnal dengan Leo, pacarnya. Ia segera mandi, lalu menggantung handuk di tempatnya seperti biasa.
Saat hendak keluar dari kamar mandi, dahinya mengerut melihat sebuah ponsel tergeletak di atas mesin cuci di sudut ruangan.
Ia mengembuskan napas panjang. "Ini pasti kebiasaan Bapak, bawa HP sambil pup," gumamnya pelan.
Tanpa berpikir panjang, ia mengambil ponsel itu. Layarnya masih menyala dan tidak terkunci. Rasa penasaran yang selama ini ia pendam kembali muncul. Jemarinya mulai membuka beberapa aplikasi, mencari sesuatu yang diam-diam selalu ia takutkan.
Tiba-tiba sebuah notifikasi baru muncul dari kontak bernama 'Bang Ucup'. Abel terdiam sejenak. Entah dorongan apa yang menguasainya, ia membuka percakapan itu.
Matanya membelalak. Dadanya seakan diremas begitu membaca isi pesan tersebut. Bang Ucup bukanlah Ucup. Di balik nama itu, tersembunyi perempuan yang selama ini menjadi selingkuhan ayahnya.
Abel terduduk lemas di lantai kamar mandi. Tubuhnya bergetar, sementara napasnya terasa berat. Kekhawatiran yang selama ini hanya hidup di dalam pikirannya, akhirnya berubah menjadi kenyataan.
Ia segera menyeka air matanya. Dengan tergesa-gesa, ia keluar dari kamar mandi, takut ayahnya datang lebih dulu dan menyadari ponselnya sempat dibuka. Tanpa membuang waktu, Abel meraih ponselnya sendiri lalu memotret setiap percakapan yang menjadi bukti.
"Ibu harus tahu," gumamnya lirih.
Abel telah selesai mandi, dan segera bersiap dengan pakaiannya. Tanpa berkata apa pun, ia segera bergegas keluar rumah. Ia merasa sesak dan butuh udara segar untuk menenangkan pikirannya. Belum saatnya ia bongkar pikirnya, waktunya akan tiba nanti.
Saat tiba di kampus, Abel sedikit jengkel. Pasalnya, Leo seharusnya menjemputnya pagi ini. Namun lagi-lagi, Leo kesiangan. Dan lagi-lagi, yang bisa Abel lakukan hanyalah memaafkan kekasihnya itu.
Dua jam berlalu. Abel masih fokus menatap buku-buku referensi di hadapannya, tetapi pikirannya terus bercampur aduk. Bayangan tentang ibunya, ayahnya, dan Leo yang tak kunjung datang membuat kepalanya terasa penuh. Cukup melelahkan.
"Hai, Sayang. Maaf ya aku baru datang. Tadi aku kesiangan," ucap Leo yang tiba-tiba muncul dari belakang Abel.
Abel menarik napas pelan saat Leo mengambil kursi di sampingnya. "Kamu selalu begitu. Janji jam berapa, datangnya jam berapa. Alhasil aku udah sampai kampus sendiri."
"Maaf ya, Sayang. Abis ini kita beli es krim, yuk?"
Abel terkekeh kecil, meski terdengar lebih seperti sindiran. "Tukang es krim juga kayaknya udah muak lihat kita. Soalnya tiap kamu minta maaf, sogokannya pasti es krim."
Leo hanya nyengir. "Iya deh, nggak lagi. Sekarang yuk makan dulu, aku lapar."
Sekali lagi Abel mengembuskan napas jengah. Pada akhirnya ia tetap menuruti ajakan Leo untuk makan. Entah sudah berapa kali ia mendengar kata maaf keluar dari mulut kekasihnya. Rasanya, kata itu perlahan kehilangan makna ketika terus diucapkan, tetapi kesalahan yang sama tetap terulang.
#ThanksForReading
#VoteAndComment
#aGvastories
KAMU SEDANG MEMBACA
Maaf
Fiksi UmumSemua orang berhak mengucapkan maaf, tapi gak semua orang bisa mendapatkan "Maaf". • • [DILARANG : MENGIKUTI, MENGCOPAST, MENIRU, DLL✖ KARNA INI ADALAH ASLI PIKIRAN SENDIRI. TERIMAKSIH & GBU]✌🍃
