Agnia memejamkan matanya sejenak, merasakan panas matahari yang menyengat kulitnya. Dia baru saja bangun, namun ada sesuatu yang sangat aneh. Dunia di sekelilingnya terasa berbeda—tak seperti dunia yang biasa dia kenal.
Suara bising dari jalan raya, riuh rendah kehidupan kota, dan hiruk pikuk orang-orang yang sibuk berlalu-lalang. Semua itu terdengar begitu jauh. Ketika dia bangkit, kakinya terasa lemah, dan pandangannya agak kabur. Kenapa aku merasa seperti ini? pikirnya, bingung.
Tubuhnya bergerak lebih lambat dari biasanya, seakan dia sedang dalam mimpi yang sulit untuk dibangunkan. Agnia meraba tubuhnya, merasa ada yang aneh. Ini bukan tubuhku. Ada sesuatu yang tak beres. Ketika tangannya bergerak ke wajahnya, ia menyentuh kulit yang lebih lembut, lebih halus daripada yang biasa ia rasakan. Rambut panjang yang tidak terikat tergerai hingga bahu. Ini... tubuh seorang gadis, tapi bukan tubuhnya. Dia sangat tidak suka dengan rambut panjang karena menurutnya itu akan sangat merepotkan tetapi sekarang dia meraba rambutnya yang panjang dari biasanya.
Dia menoleh ke cermin besar yang ada di depannya. Matanya terbuka lebar. Ini bukan aku. Wajah yang terpampang di cermin bukan wajah Agnia yang keras dan tomboy, melainkan wajah seorang gadis muda yang tampak cemas, bingung, dan sedikit lemah. Wajah dengan mata yang tampak kosong dan tidak berbicara banyak, seperti kehilangan sesuatu yang berharga.
Namun, apa yang lebih mengejutkan adalah identitas yang tiba-tiba terlintas dalam kepalanya. Seviana. Nama itu terdengar asing, tapi seperti bergaung dalam pikirannya, seolah-olah itu adalah identitas yang harus dia terima. Seviana—seorang gadis muda yang kini menjadi dirinya, atau lebih tepatnya, tubuh yang ia huni.
"Seviana... siapa dia?" Agnia bergumam pelan. Segalanya terasa seperti mimpi yang tak bisa dia jelaskan. Kejadian terakhir yang dia ingat adalah berkelahi dengan beberapa preman, sebuah perkelahian yang biasa dia menangkan. Tapi entah bagaimana, cahaya terang yang membutakan mengubah segalanya, mengubah hidupnya.
Mencoba untuk memahami apa yang sedang terjadi, Agnia memeriksa sekeliling kamar yang tampak mewah namun asing. Kamarnya sangat berbeda dengan tempat yang biasa dia tinggali—ini jauh lebih besar, lebih rapi, dan terkesan elegan. Di meja samping tempat tidur, ada beberapa barang berharga yang terletak rapi, termasuk beberapa foto keluarga yang tampaknya sangat dekat dengan pemilik rumah ini.
Di atas meja, ada sebuah foto besar yang menarik perhatiannya. Foto itu menunjukkan seorang wanita muda yang tersenyum dengan hangat, seorang pria yang tampaknya ayah Seviana, dan dua pria muda yang berdiri di samping wanita itu—mereka pasti adalah dua abang Seviana. Agnia mengerutkan dahi, menatap mereka dengan bingung. Ini keluarga Seviana, kan? Ia merasa ada ikatan kuat antara wanita itu dan dirinya, meski dia tak mengenal mereka.
Namun, satu hal yang jelas—Seviana bukanlah gadis biasa. Agnia tahu itu sekarang. Dia adalah anak seorang pengusaha kaya raya, seorang gadis yang harusnya hidup dengan segala kenyamanan. Tapi kenapa tubuh ini begitu lemah dan tak berdaya? Agnia mencoba berfokus, mencoba mengenali lingkungan sekitar, berharap untuk menemukan petunjuk tentang siapa Seviana sebenarnya.
Dengan langkah hati-hati, Agnia bergerak keluar dari kamar. Seiring dengan setiap langkah, perasaan tak nyaman semakin mendalam. Ini adalah dunia yang asing baginya, dan semuanya terasa begitu jauh dari kenyamanan yang dia kenal sebelumnya.
Ketika dia tiba di ruang tamu, pandangannya langsung tertuju pada sosok seorang pria yang sedang duduk di kursi panjang, tampak sibuk dengan laptopnya. Pria itu menoleh sebentar, mengamati Agnia yang berada di ambang pintu.
"Apa yang kamu lakukan, Seviana Agnia Fernand?" suara pria itu terdengar datar, seolah tidak ada minat atau perhatian dalam nada bicaranya. "Kenapa lama banget, udah waktunya berangkat sekolah. kamu tetap anak dari seorang pengusaha terkenal jadi Papa harap kamu tidak membuat malu nama keluarga karena menjadi anak yang tidak berguna sama sekali!"
deggg...
"Sakit sekali! ternyata namanya gadis ini juga ada namaku ditengahnya!" batin gadis itu.
Agnia menatap pria itu, merasakan jarak yang sangat jauh antara mereka. Ayah Seviana. Tapi rasanya, tidak ada kehangatan atau perhatian dalam matanya. Hanya ada kebosanan dan sedikit kesal. Tidak ada kasih sayang yang ditunjukkan, hanya perintah yang begitu biasa didengar oleh Seviana, yang tampaknya sudah terbiasa hidup dalam bayang-bayang keluarganya yang kaya namun dingin.
"Maaf, Pa," jawab Agnia pelan, berusaha meniru nada bicara Seviana yang selama ini dia dengar. Tidak ada kebanggaan atau semangat dalam suara itu, hanya suara seorang anak yang terbiasa mengabaikan dirinya sendiri.
"Ayo cepat, jangan bikin masalah. Dua abangmu sudah berangkat duluan," pria itu berkata tanpa menatap lebih jauh, seakan tak peduli.
Agnia hanya mengangguk dan berbalik, melangkah menuju ruang makan. Setiap langkahnya semakin terasa aneh, seolah dunia ini terlalu besar untuk dirinya yang merasa tidak punya tempat. Ketika dia menuruni tangga, matanya tak sengaja menangkap pemandangan luar rumah besar yang menakjubkan. Sebuah rumah besar dengan segala fasilitas mewah yang tak pernah ia impikan. Seviana hidup dalam kemewahan. Tapi dia tak pernah merasa seperti bagian dari dunia ini.
Di luar, sudah ada mobil mewah sudah terparkir di depan rumah itu yang sepertinya adalah mobil yang biasanya mengantarkan gadis ini. Ini adalah dunia yang berbeda. Dunia yang penuh dengan kemewahan, namun kosong tanpa kasih sayang.
Agnia tiba di sekolah, dan segala perasaan cemas dan bingung kembali menyergapnya. Di sini, Seviana adalah gadis yang tak pernah dianggap. Meskipun berasal dari keluarga kaya raya, dia selalu menjadi sasaran bully teman-teman sekolahnya, dianggap tidak lebih dari sekadar gadis culun dan tidak penting. Kepergian ibunya yang tragis meninggalkan kekosongan yang dalam, dan di keluarga ini, hanya ada dua abang yang tampaknya lebih diperhatikan.
Aku tidak bisa terus seperti ini, pikir Agnia dengan penuh tekad. Aku bukan Seviana, aku Agnia.
Tapi Agnia tahu, dia harus menyesuaikan diri. Begitu banyak yang salah dengan dunia ini, dan dia tidak akan tinggal diam. Di dunia yang menganggapnya tak lebih dari bayangan, Agnia akan menunjukkan bahwa dia bukan gadis yang lemah. ya! dia bertekad untuk mengubah semua pandangan orang terhadap tubuh gadis yang dia tempati ini. Dia akan tunjukkan bahwa dia sama sekali tidak akan merasakan sedih walaupun keluarganya selalu acuh kepada dirinya.
Di dunia ini yang penuh dengan kekayaan dan penghinaan, Agnia akan mengguncang semuanya. Aku akan mengubah hidup ini. Seviana! aku tak tahu ini kehidupan apa dan kau siapa! "Aku tidak membaca novel atau menonton apapun tetapi kenapa aku bisa masuk ke dunia yang sama sekali tidak aku kenali ini?" pertanyaan itu tetap saja memenuhi kepala wanita yang masih berpenampilan culun itu. ya! setidaknya Agnia harus
Dengan langkah penuh tekad, Agnia memasuki gerbang sekolah, siap menghadapi dunia yang sama sekali baru, dunia yang akan segera mengetahui bahwa dia bukanlah gadis yang tak berarti. Dia adalah Agnia, dan dunia ini harus siap menghadapinya.
ESTÁS LEYENDO
Transsmigrasi Agnia
FantasíaAgnia, seorang gadis tomboy yang hidup keras di tengah kerasnya kehidupan, tahu betul bagaimana rasanya bertahan hidup dengan segala keterbatasan. Dibesarkan dalam kemiskinan, ia tak kenal kata menyerah. Keuletannya di dunia nyata membuatnya tegar m...
