Prolog

71 3 0
                                        

Tahun ajaran baru telah dimulai. Semua murid yang memasuki waktu untuk berganti sekolah telah mendaftarkan diri ke sekolah yang mereka impikan. Adapun yang terpaksa masuk ke sekolah pilihan orang tuanya, karena namanya tergeser dari urutan di tempat sekolah mereka mendaftar.

Pagi ini, suasana di SMA Bumi Harapan yang terletak daerah pinggiran Kota Malang, terlihat sedikit ramai karena telah memasuki waktu masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) bagi murid kelas X yang akan di lakukan selama empat hari.

Kurang lebih ada tiga ratus lima puluh siswa baru yang terbagi menjadi sepuluh kelas di masa MPLS, yang nantinya akan melakukan beberapa kegiatan di sekitar sekolah. Mulai dari membuat mini vlog, outbound, menampilkan bakat minat, hingga room tour.

Di hari pertama, mereka melakukan apel pembukaan dengan kepala sekolah yang menjadi pembina. Dilanjutkan dengan mengisi form mengenai mata pelajaran yang sebelumnya mereka tempuh di SMP.

Di hari kedua, mereka melakukan room tour di area sekolah di bimbing oleh anggota OSIS yang setelahnya di lanjutkan dengan outbound. Hari ke tiga, setiap kelas wajib mengirimkan perwakilan untuk menampilkan bakat minat di panggung yang terletak di depan aula baru SMAN Bumi Harapan.

Viana celine, salah satu siswi dari kelas X-3 yang dipilih untuk menampilkan bakat minat bersama lima siswi lainnya untuk mewakili kelas mereka.

Viana Celine, panggil saja Vian. Dia asli orang Malang yang tinggal di Bumiayu. Awalnya, dia ingin melanjutkan pendidikan ke Adi Husada, SMK kesehatan yang terletak di Jalan Terusan Danau Sentani, Madyopuro yang masih terletak di area Malang. Namun tidak di restui oleh orang tuanya hingga kemudian di alihkan ke sekolah SMAN Bumi Harapan.

Meskipun awalnya terasa berat karena dia tidak bisa bersekolah di sekolah impiannya, namun apa boleh buat? Hidup harus terus berlanjut. Mau tidak mau dia harus tetap melanjutkan pendidikannya.

Siang ini, seluruh murid di kelas X-3 berkumpul membentuk lingkaran di tengah-tengah kelas. Mereka berdiskusi untuk menentukan siapa dan apa yang akan di tampilkan di bakat minat esok hari.

Pendamping kelas, panggil saja kak Dinda dan rekannya, kak Handri. Keduanya sempat bertanya, siapa saja yang mau mewakili kelas untuk tampil esok hari. Mereka semua diam tidak ada yang menjawab. Hingga Vian yang tingkat kepercayaan dirinya sangat amat tinggi dengan kesadaran penuh mengangkat tangannya.

"Saya bersedia kak," ujarnya yang dibalas senyuman oleh Kak Dinda.

"Ada yang lain?"

"Mungkin yang bisa menari atau apa gitu. Nggak usah malu-malu dek. Nggak apa-apa, angkat tangan aja."

"Saya sama Nana bisa nari kak," sahut Ara, salah satu murid di kelas itu.

"Oke, buat yang ingin ikut serta menampilkan bakat minat, sekarang kalian berkumpul jadi satu untuk berdiskusi. Sisanya membuat yel-yel ya," ucap kak Dinda sebelum pamit undur diri, meninggalkan kelas bersama kak Handri.

Vian bersama lima siswi lainnya berjalan ke arah depan kelas, duduk beralaskan lantai di dekat papan tulis. Dia mengedarkan pandangan, dan atensinya teralih pada salah satu siswi yang duduk bersama murid lain di dekat tembok. Sejenak, dia sedikit terpaku melihat kecantikan siswi itu. Lihat saja kulitnya yang putih, seputih susu. Wajahnya yang terlihat kalem serta tubuhnya yang termasuk langsing.

Gilaa, cakep bet tu anak, batinnya.

"Ini kita mau nampilin apa?" Tanya Ima, siswi yang ikut bergabung untuk menampilkan bakat minat.

"Aku bisa nge-dance. Kalian ada yang bisa nari juga kan? Gimana kalau nanti di mix aja? Tari sama modern dance, pasti keren!"
Vian tersenyum, menatap teman barunya satu persatu.

Akhirnya mereka berenam berdiskusi akan menampilkan apa untuk esok hari. Karena waktu yang mepet, mereka setuju dengan usulan Vian untuk menampilkan modern dance dan tari tradisional. Tidak menghafal dari awal, mereka memilih untuk menampilkan apa yang sebelumnya sudah mereka hafal.

Mereka memiliki waktu luang di sekolah yang tentu mereka manfaatkan untuk latihan. Hanya sedikit dari gerakan yang akan di tampilkan, karena malu juga di perhatikan oleh teman-teman yang lain.

Setelah merasa pas dengan apa yang akan mereka tampilkan, mereka berdiskusi kembali mengenai kostum yang akan di gunakan untuk esok hari.

.......

Tak terasa waktu cepat berlalu. Mentari sudah terbit. Setelah bersiap, Vian dengan segala barang bawaannya siap berangkat menuju sekolah. Sesampainya di kelas, dia melihat para rekan yang nanti akan tampil bersamanya sudah bersiap.

Sebelumnya, mereka sudah sepakat untuk berangkat pagi agar bisa latihan bersama. Mereka memulai latihan yang di awali dengan modern dance. Kebetulan untuk intro, mereka akan menampilkan dance Flower- Jisoo, dilanjut dengan dance Maria-Hwasa yang ditampilkan solo oleh Vian. Setelah itu, dilanjut dengan tari tradisional, dan yang terakhir dance anime Star T Rain.

Dengan rasa gugup yang menguasai, mereka berjalan menuju aula untuk melaksanakan kegiatan pertunjukan bakat minat. Setelah semua kelas duduk berjejer rapi, acara pun segera dimulai.

Penampilan demi penampilan telah selesai, hingga saat mendekati urutan kelas X-3, mereka di beritahu bahwa satu pertunjukan sebelum kelas mereka adalah penampilan terakhir karena waktu yang mepet. Vian dan para rekannya menghela nafas lega. Setidaknya itu bisa mengurangi rasa gugup mereka dan mereka bisa latihan nanti sepulang sekolah.

Namun, mereka di buat panik saat ternyata kelas mereka di panggil. Dengan kaki yang sedikit gemetar, Vian, Ima dan yang lainnya maju ke depan menuju panggung.

Menarik nafas sejenak, dia kemudian memberi kode agar musik di nyalakan. Lagu Flower pun mulai terdengar. Mereka menampilkan seperti apa yang mereka lakukan sewaktu latihan. Sama seperti ketika latihan dikelas. Ketika lagu Maria-Hwasa terdengar, semua yang menonton bersorak dan bertepuk tangan, membuat rasa percaya diri mereka kembali.

Penampilan pun berlanjut hingga musik berhenti. Suara riuh tepuk tangan terdengar memenuhi langit-langit aula. Dengan bangga, Vian dan rekannya yang lain bergandengan tangan, kemudian membungkukkan tubuh mereka sebagai ucapan terimakasih.

Mereka tidak menyangka kelas mereka akan menjadi pemenang. Juara kedua, pertunjukan bakat minat yang diumumkan pada ke-esokan harinya.

.......

Tidak terasa, empat hari telah berlalu yang otomatis kegiatan MPLS telah selesai dilaksanakan. Para guru dan murid melakukan apel penutupan, diikuti oleh gemuruh tepuk tangan yang menandakan bahwa mereka telah resmi menjadi murid SMAN Bumi Harapan.

Mereka semua akan memulai kegiatan belajar dan mengajar pada hari Senin, minggu depan. Kelas selama MPLS pun akan diacak untuk menentukan kelas tetap mereka selama setahun kedepan. Disinilah kisah ini akan dimulai. Pagi Di Bumi Pertemuan menandai  awal dari kisah persahabatan yang akan  bersemi di SMAN Bumi Harapan.

.

.

.

Malang, 7 April 2026.

Pagi Di Bumi Pertemuan Historias para obsesionarse. Descúbrelo ahora