Chapter XVII

13.2K 870 33
                                    

Ali menghempaskan tubuhnya di kasur. Ia memikirkan Prilly, apa ia salah tadi memperlakukan Prilly seperti itu? pikirnya.

"Ah, salah Prilly juga. Tadi kan Marsha udah jelasin ke gue" gumam Ali.

toktoktok

"Masuk."

"Eh, Li. Nih, gue bikinin jus jambu buat lo" suara Marsha. Marsha tadi minta singgah dulu di rumah Ali, katanya di rumahnya tidak ada orang. Terpaksa, Ali membawanya ke rumah.

"Iya Sha. Makasih" Ali mengambil gelas dari tangan Marsha.

"Oh iya, maaf ya gara2 gue, lo sama Prilly jadi berantem.." gumam Marsha.

"Ah, santai aja. Lagipula, itu jadi pelajaran juga buat Prilly." jawab Ali setelah meneguk jusnya.

"Li, kalo gue nginep disini boleh?" tanya Marsha dengan wajah memelas.

"Hah? Nginep?! sorry bukannya gue--"

"Please Li.." ujarnya lagi dengan puppy facenya.

"Huft. Yaudah deh, kebetulan keluarga gue lagi pada di rumah nenek gue" Ali menghela nafas pelan.

Marsha terpekik girang dalam hatinya.

"Let's start the game, ali" deliknya dalam hati.

***

"Ah, lagian si Ali bego juga ya Prill. Masa dia lebih percaya sama si Marsha jablay dibanding lo. Kan, ngga banget." ucap Michelle dengan muka ingin muntah. Michelle baru saja pulang dari puncak, sudah disambut dengan curhatan Prilly.

"Yahh, begitulah kak. Gue juga kesel sama Ali, apalagi sama Marsha. Lo tau kan, dulu gue sama dia nempel banget?" Prilly menghempaskan tubuhnya di kasur dan menjadikan paha Michelle bantal, Michelle mengelus sayang kepala Prilly. Baginya, Prilly sudah seperti adik kandungnya sendiri.

"Jangan cedih adik kecilkuu" ucap Michelle dengan suara seperti anak kecil.

"Gimana gue ga sedih kak? Pacar gue sendiri lebih percaya sama orang lain ketimbang gue.." prilly menghela nafas kasar.

"Udah ga usah dipikirin, gue tau banget Ali gimana. Ga mungkin dia lama2 giniin lo" Michelle mencoba menenangkan Prilly.

"Makasih kak" prilly pun langsung berhamburan ke pelukan michelle.

***

Cahaya matahari pagi mulai memasuki celah2 kamar Ali. Tunggu, sejak kapan Ali tidur bersama Marsha di satu ranjang? Bukankah Marsha tidur di kamar tamu?

Dibuka pelan selimut yang dipakainya. Astaga! Ali tidak memakai sehelai benang pun. Ali menoleh Marsha yang sama2 tidak memakai apapun, sama sepertinya. Ada apa ini? Kepala Ali merasa pusing entah kenapa. seingatnya, semalam ia baik2 saja.

Buru2 Ali berlari ke lemari dan memakai kaos hitam dan celana pendek sebawah lutut. Ali menuju ranjang dan mengguncang tubuh Marsha menyuruhnya agar bangun.

"Bangun lo" bentak Ali.

"Li.." gumam Marsha masih memejamkan matanya.

"Bangun!" pekiknya lagi

"Apaan sih Li?" jawab Marsha dengan kesal.

"Lo yang apaan. Kenapa lo jadi tidur di kamar gue, hah?" geram Ali

"Yaampun Ali.. Masa lo lupa? Semalem kan kita abis--"

"Abis apa? Lo ngaco banget. Gue ga ngapa2in ya sama lo, jangan ngaku2"

"Ali! Apaan sih?! Lo ga mungkin lupa kan soal semalem? Come on, berani berbuat, berani bertanggung jawab kan?" Marsha menyeringai licik.

"Sialan! Pergi lo, pergi!" teriak Ali mengusir Marsha dan melemparkan handuk agar Marsha memakainya.

ChanceTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang