Perjalanan Ini Dimulai
“Setiap langkah dalam hidup adalah bagian dari takdir Allah yang telah ditentukan dengan hikmah.”
Al-Qur'an: "Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 216)
“Setiap langkah dalam hidup adalah bagian dari takdir Allah yang telah ditentukan dengan hikmah.”
Usiaku baru saja menyentuh angka dua puluh. Masa-masa penuh gairah dan semangat itu kulewati dengan tumpukan mimpi yang terus kurangkai. Hari-hariku dipenuhi rutinitas kuliah, belajar, dan tenggelam dalam lembaran-lembaran buku yang selalu mampu membawaku pada dunia baru
Keputusanku untuk melanjutkan studi di salah satu universitas Islam di Jakarta datang dari kecintaan yang mendalam pada bahasa Arab. Jurusan yang kupilih terasa begitu menyatu dengan jiwaku. Setiap pagi, aku menempuh perjalanan ke kampus menggunakan bus TransJakarta, menikmati hiruk pikuk kota yang seolah tak pernah tidur. Pulangnya, ibu atau ayah sering menjemputku, memberikan rasa hangat yang tak tergantikan.
Namun, kehidupan tak selalu berjalan sesuai rencana. Belum genap tiga bulan sejak perkuliahan dimulai, pandemi Covid-19 melanda. Perkuliahan yang semula penuh canda di ruang kelas berubah menjadi layar-layar dingin. Meski sulit, aku berusaha menikmati setiap prosesnya, meyakini bahwa semua ini pasti ada hikmahnya.
Di tengah kesibukanku, ada satu hal yang mulai menarik perhatianku. Ibu sering terlihat sibuk menelpon salah satu temannya. Awalnya, aku tak terlalu memedulikan hal itu, hingga suatu hari ibu menatapku dengan serius dan bertanya, “Kamu siap menikah?”
Pertanyaan itu mengejutkanku. Aku menatap ibu, mencoba mencari makna di balik ucapannya. Namun, aku memilih diam, memberi ruang baginya untuk menjelaskan lebih lanjut. Dengan nada lembut, ibu mulai bercerita tentang beberapa pria yang, menurutnya, layak menjadi pendamping hidupku. Di antara nama-nama yang disebutkan, ada satu yang membuat dadaku berdesir. Aku tak tahu mengapa, tapi mendengar ibu menyebut namanya, ada rasa yang sulit dijelaskan. Sosok itu, meski belum pernah kutemui, seolah menghadirkan kehangatan yang menenangkan. Ada sesuatu tentang dirinya yang langsung menyentuh hatiku.
Prosesnya pun dimulai. Ibu menyerahkan selembar kertas berisi format CV sederhana yang harus kuisi. Meski gugup, aku berusaha menuliskannya dengan hati-hati, memastikan setiap detail tertulis dengan benar. Setelah selesai, CV itu ditukar dengan CV calon yang akan dikenalkan padaku.
Jantungku berdebar-debar saat pertama kali membaca informasi tentang dirinya. Namanya sederhana, tapi ada sesuatu dalam deskripsi singkat itu yang membuatku penasaran. Ia tampak berwibawa, dengan latar belakang yang mengesankan. Namun, lebih dari itu, ada rasa tenang yang entah bagaimana terselip di antara kata-kata yang menggambarkan dirinya, akankah aku dapat bersamanya ?
Simak kisah cerita lanjutannya nanti di bab bab berikutnya..
YOU ARE READING
Ketika, Negeri 2 Nil Menjadi Saksi
Non-FictionTanah Yang Menguji Cinta dan Air Mata
