Layar ponsel yang tergeletak di meja itu berkedip. Dia memandangnya dengan enggan. Dalam batinnya berkecamuk pilihan yang sama-sama tidak menyenangkan: angkat atau tidak. Dia terpaksa membuat keputusan.
Kalau diangkat, akan ada percakapan panjang yang tidak akan dia nikmati. Tapi, kalau tidak diangkat, nomor itu akan kembali menghubunginya. Hari itu, dia sudah melihat nama yang dikenalnya sudah lima kali menghubungi. Dia menghela napas panjang dan mengempaskannya dengan kasar.
"Halo," sapanya dengan nada yang dipaksakan agar terdengar ceria.
"Hei, kamu! Apa kabar? Astaga, aku sudah mencoba nelepon kamu lho sejak tadi, eh, nggak diangkat-angkat. WhatsApp aku juga nggak kamu balas-balas. Kenapa deh?" sahut suara di seberang dengan rentetan pertanyaan.
"Lagi ada kegiatan. Nggak sempat lihat HP," jawabnya, masih dengan nada ceria yang dia paksakan.
"Lho, sudah dapat pekerjaan? Kok nggak kabar-kabar?" tanya di seberang dengan nada penuh selidik.
"Kegiatan aja, biar nggak bengong," jawabnya. Dia masih menahan rasa enggan. Setiap percakapan dengannya selalu ditarik ke tema pekerjaan. Seolah, hanya itu satu-satunya tema penting di antara mereka.
Tidak ada suara di seberang. Dia juga diam. Rasanya, dia ingin menyudahi percakapan itu. Namun, dia tidak punya alasan kuat. Kegiatan? Kegiatan apa? Toh, dari tadi yang dia lakukan adalah mengklik judul film dan serial di berbagai macam layanan streaming yang terpampang di layar komputernya. Sesekali, dia memeriksa layanan chat dan surel.
"Kita udah lama ya nggak ngobrol atau ketemuan?" ujar suara di seberang sana.
"Iya," jawabnya enggan.
"Terakhir kali kita ketemu kapan ya?"
"Setahun lalu."
"Ah, masak? Kan kita ketemuan juga enam bulan lalu?"
"Nggak jadi."
"Oh, iya. Aku lupa. Waktu itu, aku dadakan batal emang. Maklum, tiba-tiba teman sekantorku pada ngajak ketemuan di restoran dekat mal yang gede itu. Enak lho tempatnya. Sejuk. Modelnya tuh kayak yang pakai saung-saung gitu. Makanannya enak-enak lagi. Aku juga nggak bisa nolak. Takutnya, entar aku dianggap sombong nggak mau kumpul-kumpul ama mereka. Kamu tahu kan gimana orang kantoran itu?"
"...."
"Kamu terus gimana waktu itu? Kan kamu udah nyampe duluan kan pas aku tiba-tiba gak jadi datang?"
"Pulang."
"Beneran pulang? Nggak kemana gitu? Nonton film atau apa gitu? Kan lumayan jauh dari rumah kamu itu tempat. Nggak capek apa motoran sejam terus langsung pulang? Paling enggak kan makan dulu kek di food court. Kamu kan suka makan di situ. Aku masih inget lho kamu selalu pesan makanan yang sama, mi ayam jumbo."
"Nggak."
Hening lagi. Dia benar-benar tidak nyaman dengan percakapan itu. Memang, enam bulan lalu mereka sempat janjian bertemu di sebuah mal. Mereka berencana mau makan bareng dan curhat. Tapi, rencana tinggal rencana.
Dia tiba di food court dengan perasaan senang. Senang bisa bertemu orang yang mengklaim akan selalu ada untuknya. Tapi, setelah 30 menit, si lawan bicara belum terlihat. Dia meneleponnya. Tapi, tidak diangkat. Dia mencoba meneleponnya lagi setiap 10 menit. Sampai setelah 1,5 jam kemudian, dia mendapatkan jawabannya.
Si lawan bicaranya itu membatalkan janjian itu karena dia sedang bersama teman-teman sekantornya yang mengajaknya makan siang bareng di sebuah restoran baru. Si lawan bicara tidak mengabarinya sejak sebelum dia berangkat. Padahal, dia sudah bertanya ke si lawan bicara dua jam sebelum dia berangkat ke mal dan si lawan bicara memberikan kepastian kalau mereka akan bertemu.
VOUS LISEZ
No Longer Priority
NouvellesSebuah panggilan telepon dari seseorang yang begitu dikenalnya membuat karakter utama ini ke-trigger. Dia enggan mengangkatnya, tapi tidak bisa menolaknya. Apa pun yang terjadi dalam percakapan itu hanya akan menyakiti hatinya.
