Prolog

1.2K 26 0
                                        

❣Happy Reading!

•••

"Bosen banget deh," celetuk Sultan sambil mengerucutkan bibir tebalnya.

David yang ada di samping Sultan otomatis menengok ke sebelahnya, "iya nih, gue juga bosen. Lusa mau nggak liburan?" saran David, "yang lain gimana?" lanjutnya, melihat satu persatu temannya.

"Ayo. Tapi lu yang bayar ya, Dav." canda Mingyu, yang langsung mengundang banyak tawa dan David memasang ekspresi yang tak bersahabat.

"Gue serius ini, pada mau nggak liburan? Lusa 'kan udah selesai ujian, waktunya healing." kata David, sorot matanya menunjukkan untuk tidak lagi bercanda.

"Ayo deh, Dav. Tapi liburan kemana?" nimbrung Wishaka yang sedari tadi membaca buku novel dengan kacamata minusnya bertengger di pangkal hidung.

"Ke Bali aja gimana? Gua bisa minta bantuan temen yang ada di Bali buat nyewa Villa," ujar Vino.

Wishaka, Miguel, Sultan dan David mengangguk setuju dengan ucapan Vino.

"Gua obrolin dulu sama orangnya, kalo dia nyewain Villa buat kita liburan. Gua kasih tau."

•••

Jam£t prem+ium

Anda

Kata temen gua, dia mau sewain Villanya.
Kebetulan dia punya Villa yang udah lama kosong.

Sultan.
Yey, jadi liburan!!

David Abhimanyu.
Daebak! Sampe di Bali, ke pantai kuy.

Bang Shaka (Wishaka).
Tinggal packing barang-barang buat lusa.

Bang Miguel.
Jinjja?!! Nggak sabar mau liburan!

Vino yang membaca balasan dari para temannya, hanya tersenyum simpul.

Iya, benar pesan dari Wishaka. Vino harus sudah mempersiapkan barang yang ia perlukan saat liburan, sebelum datangnya lusa.

Tapi, ia sekarang terlalu malas untuk merapikan barang. Tak apa 'kan kalau sedikit bermalas-malasan?

Juga hari ini sudah larut malam, tidak mungkin ia mempersiapkan keperluannya saat rasa kantuk sudah menghampiri. Bisa-bisa Vino malah memasukkan barang-barang yang tidak dibutuhkan ke dalam koper.

Toh, mereka berangkat liburan di hari Jumat.

•••

Hari Jumat telah tiba. Di sebuah asrama-- tempat tinggal para lima pemuda laki-laki, pagi-pagi sudah pada sibuk mencari barang yang mereka butuhkan. Ada yang mengeluh karena tidak ketemu barang yang diperlukan, juga ada yang bermain game di ponsel, dan yang sedari tadi mondar-mandir mencari obat-obatan atau vitamin.

Padahal dari jauh-jauh hari, Wishaka sudah mengingatkan untuk menyiapkan keperluan buat liburan. Tetapi teman-temannya asyik dengan dunia sendiri, sehingga hanya mengiyakan perkataan yang dilontarkan oleh Wishaka.

Disaat yang lain masih sibuk mencari benda, ia-- Wishaka terbawa arus dengan sebuah aplikasi permainan yang ada di ponsel miliknya.

"Bang Shaka, bantuin gue cariin barang, jangan main game aja!" gerutu Sultan. Wajahnya sudah terlihat kesal dan lelah, karena tidak menemukan benda yang ia cari.

"Kalo gua ngomong tuh dilakuin! Pas mau pergi 'kan pada repot sendiri," geram Wishaka.

Miguel yang tak sengaja mendengar, hanya berdecak sebal. Merutuki dirinya sendiri tidak menuruti ucapan Wishaka.

•••

1 jam dihabiskan hanya untuk ke bandara. Dikarenakan saat menuju ke bandara, banyak kendaraan yang ingin berpergian, alhasil mereka berlima terjebak macet.

"Gila, tadi macet parah," lirih David, beruntung ia dan teman-temannya bisa keluar dari kemacetan.

"Iya, bisa-bisa selamanya stuck di jalanan itu." balas Sultan.

•••

Wishaka, Miguel, Sultan, Vino dan David sudah sampai di Bali. Tentu saja mereka ingin cepat-cepat sampai ke Villa untuk beristirahat.

Vino yang mengarahkan perjalanan selama menuju ke Villa.


•••

"Vin, lu yakin ini Villa yang pengen kita tempati?" tanya Wishaka, ia tidak yakin dengan yang sekarang dilihatnya. Villa tersebut tampak angker, dan err.. mengerikan.

Vino menganggukkan kepala dengan yakin, "iya, bener Villa nya yang ini. Udah yuk masuk ke dalem, capek gua." ia mendahului teman-temannya, seraya membawa koper miliknya sendiri.

Sultan dan Miguel saling bertatapan dengan perasaan cemas dan takut. Tetapi, mereka berdua tetap mengikuti Vino dari belakang.

Walaupun bangunan Villa itu masih lengkap, David rasanya ingin pulang saja. Penyesalan selalu ada diakhir.












Pasalnya, Villa tersebut berada dipinggiran hutan. Dan tidak ada satupun perumahan warga, hanya ada satu Villa.

Harus membutuhkan waktu berjam-jam untuk sampai ke perumahan warga sekitar.

•••

To Be Continued

Follow author chikisayeon

Vote + comment jangan lupa ya guys!

HELP ME || SeventeenWhere stories live. Discover now