Satu

21 2 5
                                        

Bima menatap rumah yang berdiri megah dengan jarak beberapa meter dari rumah lainnya. Bangunan itu sudah tidak ditinggali selama sepuluh tahun, tapi tetap tampak terawat. Rumah itu masih sama. Menimbulkan kenangan hangat sekaligus pahit bagi Bima.

Perpaduan warna putih dan soft beige di bagian depan, berbaur dengan berbagai tanaman hias dalam pot gantung di kedua sisi bangunan. Halaman luas yang dulunya memuat satu ayunan kini ditanami rumput yang dipangkas rapi.

Bima bertanya-tanya apa memori lamanya yang sudah sepuluh tahun ini telah mengkompensasi banyak hal, atau bangunan itu dari dulu memang indah.

Mobil yang dia naiki menderum pelan saat memasuki garasi tepat di samping kanan rumah. Garasi itu ada di lantai satu, dan berfungsi sebagai basement.

Bima masih ingat saat dia sering bermain petak umpet dengan kakaknya di sana. Kadang dia bersembunyi di kabinet bawah, membuat susunan selang air, pompa ban, dan entah apa lagi tergeletak dan berserakan. Kadang dia bersembunyi di bawah mobil.

Nita, sang kakak, selalu berhasil menemukan Bima kecil. Sayangnya, begitu giliran mereka dibalik, Bima selalu gagal menemukan Nita.

Yah, setiap sudut rumah ini memang penuh kenangan.

Bima membuka pintu belakang mobil sambil mendesah pelan. Dia mengikuti Ayah ke bagasi, tanpa berkata-kata membantu mengangkat beberapa tas.

Banyak sekali yang harus dibereskan. Padahal besok, dia sudah masuk sekolah. Dan jadwalnya bertepatan dengan Penilaian Tengah Semester!

"Bima nggak boleh istirahat dulu aja, ya?" Bima merajuk, berharap mendapat kelonggaran.

Bunda-lah yang berdecak. "Ayah dibantu dulu dong, Sayang. Masa angkat-angkat semua sendiri."

"Nita masuk dulu ya, Bunda. Lima menit lagi ujian online, nih!" Tanpa menunggu persetujuan, kakak perempuan Bima ngeloyor masuk begitu saja. Tangannya melambai-lambai, menunjukkan layar HP yang hitam padam.

"Bohong tuh, Bun! Alesan!" Bima menyahut, suaranya nyaring. Tentu saja Bunda langsung menegurnya.

Dengan bibir mengerucut, Bima tetap terjebak membantu Ayah. Bukan berarti dia tidak ikhlas, atau enggan menjadi anak berbakti. Dia cuma nggak suka Nita selalu berhasil lepas dari tanggung jawab serupa. Dan orangtua mereka selalu saja membiarkannya!

Selama kurang lebih dua jam, Bima membantu Ayah menurunkan semua koper dan kardus dari mobil. Kemudian, mereka menata barang-barang itu satu per satu. Bunda sibuk mengarahkan letak barang-barangnya. Ayah hanya diam menurut, sedangkan Bima sibuk mengeluh.

"Aku tuh nggak masalah dimintain tolong, Bunda. Tapi kenapa harus pindah dua hari sebelum ujian tengah semester, sih? Aku kan masih capek, masih pengen santai-santai dulu." Bima merebahkan diri di lantai yang dingin. Kakinya menendang-nendang udara. Ayah terkekeh melihatnya, sementara Bunda mengomel karena khawatir baju Bima kotor terkena debu.

Yah, siapa yang peduli. Bima sudah melakukan perjalanan tiga jam keluar kota ke rumah lamanya. Kausnya gerah terkena keringat. Ketambahan debu bukan hal yang perlu dikhawatirkan.

"Nggak boleh izin ikut susulan gitu, Bunda?" tanya Bima, polos.

Bunda hanya menggeleng tegas sebelum menarik napas, pasrah dengan negosiasi Bima yang sepertinya tidak akan berakhir.

Untungnya, Bunda mengizinkan Bima istirahat setelah membersihkan diri. Urusan packing bisa mereka lanjutkan nanti.

***

Bima terbangun setelah mendengar sayup-sayup suara dari luar kamar. Kesadarannya belum penuh ketika pintunya mendadak terbuka. Daun pintunya menabrak dinding dengan keras, bersamaan dengan Nita yang berjalan ke arah ranjangnya.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Nov 08, 2024 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

[BL] Strings of FateStories to obsess over. Discover now