PROLOG

13 1 0
                                        

“Yang pergi biarlah pergi, yang datang biarlah datang. Tapi jika seseorang yang telah pergi datang kembali,
aku harus apa?”

Jeha

***

Jakarta.

Rasanya tidak ada yang lebih runyam dari padatnya lalu lintas di kota metropolitan satu itu. Jalan rayanya penuh oleh kendaraan yang berlalu-lalang, sementara tepi jalannya penuh oleh manusia yang saling senggol bahu acuh tak acuh. Semua orang sibuk memikirkan diri mereka masing-masing, mencari cara untuk bertahan hidup esok hari. Bahkan di kala hujan pun, pekerjaan sudah bagaikan penentu hidup dan matiㅡtidak ada yang memilih untuk melangkahkan kaki, bahkan untuk berhenti sejenak di tepi.

"Aduh!"

"Eh, sorry! Gue buru-buru!"

Kubiarkan pekerja kantoran itu berlari meninggalkanku, bahkan setelah ia menyenggolku hingga terjatuhㅡ enggan memperpanjang urusan. Tanpa ada seorang pun yang peduli, kucoba untuk beranjak dengan sedikit tertatih, membiarkan tungkaiku yang mulai biru akibat terbentur aspal menuntun jalanku menuju sebuah gang yang dipenuhi oleh berbagai toko kelontong dan kedai.

Ada tempat seperti ini di Jakarta, rupanya. Jadi kangen Bandung.

Ah, Bandung ....

Ada dua kubu manusia yang memiliki penilaian berbeda soal Kota Kembang satu itu. Yang meromantisasi dan yang tidak, dan akuㅡbisa dibilangㅡadalah salah satu orang yang masuk ke dalam kubu yang meromantisasi. Tentu ada alasan khusus, seperti jutaan orang lainnya yang memiliki alasan tersendiri untuk menganggap Bandung sebagai kota yang istimewa. Alasanku? Simpel saja, sebetulnya.

Karena dia berasal dari sana.

Ah. Dia, dia, dia lagi yang kupikirkan.

Baru saja aku merutuk dalam hati sebelum suara seorang wanita paruh baya membuyarkan lamunanku.

"Hei, Nak, ngapain bengong di sana?! Sini neduh, basah kuyup kamu!"

Kudongakkan kepala ke arah seorang wanita paruh baya yang tengah berdiri di ambang pintu, sementara tangannya menahan pintu kedai agar tetap terbuka. Dengan keadaan basah kuyup, kulangkahkan kakiku lebih cepat dari sebelumnya, menghiraukan rasa sakit yang kurasakan tiap melangkah. Hingga akhirnya aku tiba, memutuskan untuk singgah sementara di kedai milik wanita paruh baya tersebut.

“Ya ampun, Nak. Kamu basah kuyup begini." Wanita paruh baya itu berujar lirih, netranya menatap rupaku yang sudah seperti gelandangan dengan penuh rasa khawatir. Di saat yang bersamaan, pintu kedai tertutup rapat, membunyikan lonceng yang menggantung tepat di atasnya. "Sebentar ya, saya ambilkan handuk kecil di lantai atas."

Buru-buru aku menggeleng. Kehadiranku yang basah kuyup di kedai ini sudah cukup merepotkan.

“Ah, tidak usah, Bu. Nanti juga kering bajunya.”

"Kamu seperti memakai pakaian yang baru saja selesai diputar di mesin cuci. Kalau menunggu sampai kering, nanti keburu masuk angin.” Wanita paruh baya itu menentang, sementara tangannya merapikan sebuah sofa di sudut ruangan. “Tunggu di sini, saya ambilkan handuknya sebentar.”

"Tapi, Buㅡ."

Tak ingin mendengar penolakan lain dariku, wanita paruh baya itu sudah lebih dulu melangkahkan kakinya untuk menaiki tangga, mengambil handuk di lantai atas seperti apa yang ia katakan sebelumnya.

Sadar kalau sudah tidak punya kesempatan untuk menolak, kuputuskan untuk menduduki sofa yang disiapkan oleh wanita paruh baya tadi. Kuedarkan pandanganku menyapu seisi kedai, mengamati sudut demi sudut dengan seksamaㅡsebuah kebiasaanku sejak kecil, jika aku menemukan suatu hal yang begitu indah untuk dipandang.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Nov 09, 2024 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Dari Jeha, Untuk HajuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang