PHASE 0 : Prolog

6.4K 188 3
                                        

Tiap kali aku mendengar cerita tentang betapa romantisnya kedua orang tuaku, beberapa kali terbesit dalam benakku apakah aku akan mengalami hal yang sama. Tentu saja aku sadar kalau orang tuaku mungkin bagian dari cerita yang beruntung karena hingga kini masih berjalan manis. Dan tidak semua cerita memiliki akhir happy ending atau bahkan open ending.

Lalu bagaimana denganku? I still have no idea.

Aku bukan pemuja that kind-of-fairytale-love-story. Aku lebih suka cerita dengan ending realistis yang justru sering kali ditafsirkan sebagai sad ending.

Seperti sekarang ini. Dengan layar lipat yang terpangku beralas bantal—yang kutahu akan memperpendek usia blower-nya—air mataku sudah menggenang di pelupuk mata ketika menyaksikan Will tetap mengambil keputusan untuk mengakhiri hidupnya di saat hatinya telah penuh dengan Louisa. Padahal bisa saja kan Will mengambil pilihan lain dan tetap hidup dengan Louisa yang juga mencintainya dengan segala kekurangannya?

Nyatanya cinta tidak sesederhana itu, bung.

Usiaku 22 tahun sekarang dan aku sudah banyak menyaksikan beragam kisah cinta orang-orang. Mulai dari yang lugu seperti baru jatuh cinta, kelewatan dewasa sampai terkesan tak pantas, sampai yang membuatku bergidik hanya karena panggilan sayang mereka. Yup, hanya menyaksikan karena aku tidak pernah merasakan berada dalam suatu hubungan.

Oh tenang, aku normal. Aku juga pernah jatuh cinta. Cinta monyet pada kakak kelasku.

Fazran namanya. Saat itu aku masih SMP dan dia tersenyum sama rata pada kita semua, adik kelas bau kencur yang terpaksa menjalankan ospek. Hanya dia satu-satunya yang masih bisa tersenyum ramah dan tentu saja bukan hanya aku satu-satunya yang terpesona. Aku rasa sebagian besar dari kami setuju kalau sosoknya seperti malaikat yang berdiri di antara kakak-kakak kelas sok galak kala itu.

Tapi ini bukan tentang kisahku dan Fazran karena setelah dia lulus, hilang pula kabarnya. Terakhir kudengar dari teman lama, dia sudah memiliki kekasih dan kini bekerja di salah satu perusahaan konstruksi ternama.

Ini tentangku. Alinka.

Aku yang tidak tahu jatuh cinta dalam arti yang sesungguhnya, bukan sekadar terpesona. Aku yang tidak pernah merasakan berada dalam suatu hubungan yang orang-orang sebut pacaran sejak bernafas di bumi ini. Aku yang memulai kisah ini dengan sad ending film Me Before You. Dan Aku yang mengakhiri kisah ini dengan sesosok pria yang kutemui kala kujatuhkan pandangan pertama pada hoodie bertuliskan 'MIT'.

Once in a Blue Moon ✔️Historias para obsesionarse. Descúbrelo ahora