Akui

2 0 0
                                        

Saat kau mengakui hal itu,

kata-katamu bagaikan sebilah pisau yang menghujam jantungku.

Pisau tersebut mengiris dan menyayat hati ini. Aku tak siap.

Aku tak siap untuk menerima itu. Ketika kau mengakui itu, seketika air mataku mengalir. Tidak deras, tetapi bisa membuat dada ini terpukul.

Aku sudah menyangkanya. Kau mengatakan hal tersebut, lalu kau memohon maaf. Aku hanya terdiam. Kemudian, kau bilang, semua terjadi di awal minggu dan kau telah mengakhirinya.

Namun, apakah aku harus mempercayai itu?

Aku memberikanmu sebongkah kepercayaan, tetapi sedikit dari bongkahan tersebut runtuh dengan sendirinya.

Aku memaafkanmu, sungguh.

Namun, apakah ini semua akan kulupakan? Mungkin, aku harus jatuh dan menghantam tanah agar kusanggup melupakannya.

M.R.

Silly MeWhere stories live. Discover now