1. Malam Berdarah

22 2 0
                                        

Langit malam itu kelam tanpa bintang, hanya ada angin yang mendesir halus seolah membisikkan kematian yang akan datang. Di sebuah gudang tua di pinggir kota, langkah kaki seorang pria berhenti, memandang korban terikat di depannya dengan pandangan yang sulit dijelaskan. Matanya yang dingin menatap tanpa emosi, seolah korban di hadapannya hanyalah sekedar boneka tanpa jiwa.

"Kamu pikir kamu bisa lari dariku?" suara pria itu pelan, nyaris berbisik, tapi sarat ancaman. Korban hanya bisa menangis, tubuhnya bergetar. Namun, sebelum pria itu melakukan langkah terakhirnya, bunyi sirine tiba-tiba mengoyak keheningan malam.

Lampu biru dan merah berputar cepat, memantul di dinding gudang yang gelap. Pria itu langsung menegang. Dia tak menyangka polisi akan menemukannya di tempat ini, malam ini.

Dan di sana, berdiri seorang wanita dengan seragam polisi, wajahnya penuh percaya diri meski di matanya ada ketakutan. Namanya Annisa, seorang polisi wanita yang telah lama memburu pria ini, meskipun dia sendiri belum mengetahui siapa sosok pembunuh yang sebenarnya. Baginya, ini hanyalah pekerjaan; sebuah misi untuk menangkap pembunuh berantai yang telah lama menghantui kota.

"Serahkan dirimu sekarang, atau aku tidak akan segan-segan menembak!" Annisa berteriak, pistolnya terarah pasti ke arah pria yang kini tampak tenang namun tak kalah mengintimidasi.

Pria itu hanya tersenyum tipis, lalu berkata, "Menarik. Sepertinya aku akhirnya bertemu lawan yang pantas."

Tanpa sepatah kata lagi, Annisa maju, siap untuk melumpuhkannya. Namun, pria itu, yang ternyata jauh lebih cepat daripada yang diperkirakannya, berbalik dan berlari keluar dari gudang, masuk ke dalam kegelapan malam. Annisa mengejarnya dengan napas tertahan, setiap langkahnya membawa dia semakin jauh ke dalam misteri yang selama ini tak pernah ia bayangkan.

Kejar-kejaran mereka berakhir ketika pria itu tiba-tiba berhenti di tepi jurang yang curam. Annisa menahan napas, jari-jarinya masih berada di pelatuk pistolnya.

“Kenapa kau berhenti?” tanya Annisa, bingung.

Pria itu menoleh, seolah-olah baru menyadari keberadaannya. "Kau pikir aku hanya seorang pembunuh?"

Annisa terdiam, tak bisa memahami maksud kata-katanya. Pandangan mereka bertemu, dan di sana, di dalam kedalaman matanya yang kelam, Annisa melihat sesuatu—sesuatu yang tak pernah ia lihat sebelumnya di mata para penjahat lain yang ia tangkap.

Cinta TerlarangWhere stories live. Discover now