CHAPTER I- RAPOT

14 3 0
                                        

Wangi masakan dari dapur menyebar ke seluruh penjuru rumah, menambah semangat pada pagi yang cerah. Mahesh dengan seragam putih abu-abunya berjalan ke ruang makan dengan langkah percaya diri, dan jangan lupa senyuman yang tak pernah luntur dari wajahnya. Mahesh berhenti di depan kaca yang berada di dekat ruang makan sambil sesekali memuji ketampanannya.

"Udahlah tuh, pecah nanti kaca kalau kau berkaca terus." Ucap Gania, berjalan melewati Mahesh yang masih sibuk dengan dunianya sambil membetulkan posisi dasinya.

Mahesh menyisir rambutnya sambil berucap bangga, "Cih, sebegitu tampannya kah aku, sampai-sampai kaca ini akan pecah karena pesonaku."

"Yang bener aja." Gania dan Buk Lila tertawa terbahak-bahak sambil menyusun nasi goreng, tak lupa Buk Lila memukuli Gania.

Artha yang berada di belakang Gania refleks menutup hidungnya saat mencium gas beracun yang keluar tanpa permisi itu.

"Buset, baunya kayak bangke tikus," ucap Mahesh yang masih setia berada di depan kaca sambil menutup hidungnya.

Pak Heru yang baru datang langsung berlari ke jendela. Buru-buru Pak Heru membuka jendela sambil berucap, "Haduh, Gania. Kalau mau kentut lihat-lihat tempat dong."

"Ya maaf, namanya juga hukum alam," ucap Gania tanpa merasa bersalah.

"Hukum alam apanya," ucap Buk Lila sambil menutup hidungnya.

"Gimana mau dapat nilai bagus kalau kamu sering kentut sembarangan." ucap Pak Heru sambil berjalan ke meja makan.

Gania menatap tak suka pada Pak Heru sambil berucap, "Gak ada hubungannya ya, Pa."

Mahesh menyumpal mulut Gania yang masih terus mengoceh dengan tisu. "Mulut kau bau comberan, aku lapar."

Gania mencubit lengan kakaknya dengan kuat sampai-sampai Mahesh meringis. Gania mengeluarkan tisu yang ada di dalam mulutnya lalu berucap, "Mulut kau tuh yang busuk."

"Udah lah we, nanti telat pula kita ambil rapot," ucap si bungsu yang sudah duduk manis dengan seragam putih dongkernya.

Pak Heru selaku kepala keluarga memimpin doa sebelum sarapan bersama.

"Akhirnya sunyi juga," batin Artha.

Mahesh dan Pak Heru saling menatap dan memberi kode untuk saling melempar lelucon garing.

"Kenapa ikan gak bisa bawa motor?" tanya Pak Heru tiba-tiba.

"Kenapa tuh?" tanya Mahesh dengan senyum jahilnya menatap Artha yang wajahnya kembali kusut.

"Karena gak punya SIM," jawab Pak Heru sambil tertawa. Mahesh menatap datar Pak Heru lalu menepuk bahu Gania.

"Jangan bikin aku kentut, plis," ucap Gania menahan tawa.

"Pa, garing," ucap si bungsu.

"Gak asik ah," balas Pak Heru.

"Udah yuk pergi, pertama kita ke sekolah adek ya." ucap Buk Lila sambil pergi menuju kamarnya.

***

Sepanjang perjalanan menuju sekolah Artha, Pak Heru dan Mahesh masih saja melempar candaan khas bapak-bapak itu.

"Nyari apa, Mbak?" tanya Mahesh saat melihat Gania seperti mencari barang.

STORY OF KELUARGA FREAK Stories to obsess over. Discover now