PROLOG

302 58 31
                                        

Welcome to my story💀

Kalian ke sini lewat gang mana?

Btw.. ini cerita pertamaku yang setelah sekian abad ada di draf, akhirnya dengan modal nekat akhirnya berani untuk di publish kan.

⚠️
Jika ada kesamaan nama tokoh, adegan atau hal lain semacamnya itu hanya ketidaksengajaan semata. Karena cerita ini murni berasal dari otak setengah sengklek ku ini. Hehe😁

Happy reading🤙

.

.

.

"Heh, cupu! gue udah peringatin ya sama lo, di kelas kita yang berhak mendapatkan nilai paling tinggi itu cuman gue, jadi stop caper ke guru-guru dengan nilai hasil contekan lo itu!"

" Tampang kayak lo sama sekali gak pantas untuk di apresiasikan, mending lo ngaca deh sana, mata minus kayak gitu sok-sok mau ngelangkahin gue!"

"Bahkan dari dulu Yang pantas ikut olimpiade itu gue, bukan elo!"

"Lo nyontek kan, lo kan miskin, mana mampu bayar uang les kek gue, gue pinter wajar, karena gue belajar dengan modal, nggak kayak lo!" sembur Dina beruntun dengan tuduhannya.

Arza pun tersenyum menanggapi itu.

"Gue nggak nyontek, justru karena gue pintar jadi gue nggak perlu belajar lebih atau les privat segala, kalo nilai gue tinggi dari lo, berarti lo yang bodoh, bahkan sudah les sekalipun nggak bisa nandingin gue, berarti lo bodohnya memang murni," ujar Arza tenang.

"SIALAN LO!!" teriak Dina tiba-tiba menyerang Arza kesetanan mengacak-acak muka Arza dengan beruntun, bahkan perlakuannya itu membuat kacamata sekaligus wig berwarna hitam bulat yang dipakai Arza seketika lepas dan membuat penyamarannya terungkap.

Dina yang menyadari itu semua sontak mundur beberapa langkah melihat tampang asli Arza yang sebenarnya, tampan namun mempunyai mata merah tajam dan menakutkan. bahkan terlihat taring panjang di kedua sisi kanan kiri giginya.

Gadis itu terlihat ketakutan, dan merasa kalau ini bukan pertanda baik untuknya, sosok Arza yang dihadapannya sekarang memiliki aura yang beda, sangat berbeda dengan yang sebelumnya. Bahkan terlihat tidak seperti Arza yang dia kenal.

Baru beberapa langkah berniat kabur, tangannya pun sudah dulu di cekal oleh Arza.

"Lo udah liat muka asli gue, itu berarti ini adalah pemandangan indah terakhir yang lo lihat." ujar Arza dengan senyum smirk yang menakutkan.

Setelahnya tangan Dina pun di tarik paksa kearah pojok dinding perpustakaan dengan tubuh yang terkunci oleh Arza. Memberontak sebesar apapun tenaga tidak akan bisa mengalahkan kekuatan Arza saat ini, dia benar-benar sudah dikuasai oleh nafsu akan santapan darah gadis didepannya kini. Sedari awal dia memang sudah mati-matian menahan untuk tidak memangsa gadis itu, namun sepertinya perlakuan sama omongan Dina barusan membuat dia makin tidak bisa mengontrol keinginannya untuk menghisap darah gadis itu detik ini juga.

Dengan sekali tancapan taringnya, Dina mulai kehilangan kesadarannya. Sebelum semuanya benar-benar gelap, gadis itu masih sempat mengucapkan satu patah kata.

'Vampir'


Next..

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Oct 10, 2024 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

ARKHANZAWhere stories live. Discover now