We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

1. Kincir Angin Tak Pernah Berhenti

13 1 0
                                        

Angin berembus lembut, memutar baling-baling kincir angin yang tua namun tetap indah. Aku berdiri di sini, di depan kincir angin yang selalu kita sebut rumah. Tempat ini, penuh cerita, kenangan, dan harapan yang dulu kita bangun bersama.

"Kamu ingat, kan, bagaimana dulu kita selalu duduk di sini?" gumamku pelan, seakan berbicara padamu yang entah di mana kini.

Kamu selalu suka duduk di bawah bayang-bayang kincir ini, menikmati angin yang seolah berbisik menenangkan. Suara kincir yang berputar, kadang lambat, kadang cepat, selalu menemani percakapan kita. Kita berbicara tentang hari-hari, tentang mimpi, dan tentang akhir yang tak pernah kita bayangkan akan tiba secepat ini.

Tempat ini begitu tenang. Dingin yang menyelimuti seolah menjadi pelukan terakhir darimu, membuat setiap hembusan angin terasa seperti kehadiranmu yang masih nyata di sini. Rumah kita, rumah yang selalu kita rindukan, masih sama. Meski hanya aku yang kembali, tempat ini tetap menjadi rumah bagi kita.

"Aku tahu, kamu ingin aku bahagia," bisikku, menatap baling-baling kincir yang terus berputar.

Di sinilah segalanya berakhir, tapi juga di sinilah aku selalu ingin kembali. Tempat ini adalah akhir sekaligus awal. Meski kamu telah pergi, kincir angin ini tetap menjadi saksi dari segala yang pernah kita alami. Ini rumah kita, dan akan selalu menjadi rumah.

Aku berdiri di sini, menghirup udara yang sama, merasakan kedamaian yang dulu kita bagi bersama. Meski aku sendirian sekarang, kincir ini tetap berputar, dan rumah ini tetap utuh.

Di sini, kamu tetap ada. Selalu.

Cerita-Cerita yang TertinggalStories to obsess over. Discover now