Adhinatha Radif akan selalu dilihat, sementara Tatjana Pitaloka hanya dapat melihat. Namun, kata sebagian orang, takdir memang suka mempermainkan manusia.
"You spoke, and the wind changed the very first day" — tsunami | niki
***
Tatjana melangkah perlahan menyusuri koridor sekolah yang mulai lengang. Tangan kirinya memegang beberapa buku sambil sesekali mengecek jam tangan di pergelangan kanan. Sementara pikirannya berkeliaran, memikirkan tugas yang menumpuk dan kelas berikutnya yang sepertinya akan berjalan membosankan, seperti biasanya.
Matahari siang menyelinap melalui jendela-jendela besar di sepanjang lorong, menciptakan bayangan di lantai yang berkilauan. Sementara itu, sepatu kanvasnya sesekali menimbulkan suara pelan saat menyentuh lantai ubin yang dingin.
Namun, tiba-tiba, sebuah hantaman keras di bahunya membuyarkan lamunan Tatjana. Sekumpulan murid perempuan berlarian dari arah berlawanan, menerobos dirinya tanpa sedikit pun memperhatikan. Membuat dirinya hampir saja terhuyung sedikit ke samping.
Mereka sama sekali tidak melambat, apalagi meminta maaf. Sebaliknya, mereka melesat melewatinya, seakan-akan ada sesuatu yang lebih mendesak di depan sana.
Tatjana mengerutkan kening, menggosok pelan bahunya yang terasa nyeri. "Apaan sih buru-buru banget," gumamnya dalam hati, kesal.
Koridor yang sebelumnya sepi kini dipenuhi bisikan dan langkah cepat murid-murid yang, seperti sekumpulan gadis tadi, tampaknya bergegas menuju lapangan. Tatjana berdiri diam di tengah koridor, menatap punggung mereka yang semakin menjauh.
Mereka sepertinya sedang terburu-buru, tapi ke mana?
Penasaran, Tatjana mengarahkan pandangannya mengikuti langkah mereka yang cepat, dan melihat bahwa mereka semua bergerak menuju lapangan basket yang terletak di bagian tengah sekolah.
Rasa ingin tahu mulai merayap di benaknya. Tatjana mulai memperlambat langkahnya dan berjalan perlahan ke arah yang sama, meski ia tahu bahwa kelasnya ada di sisi lain.
Saat mendekati area lapangan, suara riuh rendah semakin jelas terdengar. Semakin banyak siswa yang berkumpul di sekitar lapangan basket, semuanya tampak antusias menyaksikan sesuatu.
Tatjana berhenti beberapa meter dari kerumunan, memilih untuk mengamati dari kejauhan. Di sana, di tengah lapangan, tim basket sekolah tengah berlatih. Mereka bergerak dengan cepat, memainkan bola dengan mengesankan.
Tatjana melihat beberapa siswi yang tadi menabraknya sekarang sudah bergabung dengan kelompok lainnya, bersorak dan bersenda gurau. Mata mereka tertuju pada para pemain yang berkeringat di lapangan.
Mata Tatjana laku menyapu barisan pemain di lapangan, sebagian wajahnya dikenalnya meski tak terlalu akrab. Pandangannya akhirnya tertuju pada sosok tinggi yang bergerak lincah di tengah lapangan—seorang pemain yang wajahnya begitu familiar.
Sosok itu sering terpampang di mading sekolah. Dikenal sebagai ketua tim basket yang selalu diandalkan sekolah dalam setiap pertandingan. Tapi, seperti biasa, Tatjana selalu lupa namanya.
Tatjana teringat betapa seringnya wajah laki-laki itu muncul di berbagai poster kegiatan sekolah. Namun, nama itu tetap luput dari ingatannya.
"Siapa sih namanya?" bisiknya pada diri sendiri, mencoba mengingat namun sia-sia.
Tatjana masih terdiam, matanya tanpa sadar tertuju kembali pada sosok ketua tim itu. Di tengah dirinya yang sedang merenung, tenggelam dalam pikirannya sendiri. Tiba-tiba suara familiar memanggilnya dari belakang.
"Tatjana! Gue cariin ih daritadi! Ngapain di sini? Yuk, ke kantin, gue udah laper!" ajak Kania—sahabatnya, dengan antusias.
Tatjana menoleh lalu tersenyum tipis. "Oh, iya. Ayo," jawabnya lalu menurunkan pandangannya dari lapangan dan kembali fokus pada Kania.
Namun, sebelum beranjak, Tatjana melirik sekali lagi ke arah lapangan. Dia kemudian menghela napas dan mengikuti Kania menuju kantin.
Dan dalam sekejap, rasa penasarannya hilang begitu saja. Tersapu oleh pikiran akan makan siang yang telah menunggunya hari itu.
———————————
A.N: Selamat datang di cerita baru (lagi) dari aku. Jujur aku tuh terlalu banyak ide yang mau dituangkan dan sayang banget kalau ga aku realisasikan. Jadi, here it is!
Cerita romansa yang penuh dengan narasi yang bisa bikin kalian senyum-senyum and won't fail to make you guys have butterflies in your stomach!
Terima kasih sudah membaca, semoga suka dengan cerita baru dari aku ini.
Xoxo, Di <3
— MOOD BOARD —
Tatjana Pitaloka Naiaraputri
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Adhinatha Radif Chandrakeshwari
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.