Pagi itu, Nadia berdiri di depan gerbang kampus dengan perasaan campur aduk—antusiasme, gugup, dan sedikit ketidakpastian. Ini adalah hari yang telah lama ia tunggu-tunggu, hari pertama sebagai mahasiswa. Ia memandang bangunan-bangunan megah di depannya, merasakan aura penuh energi dari para mahasiswa yang lalu-lalang di sekitar kampus. Dunia baru yang menantinya ini penuh dengan kemungkinan, dan Nadia bertekad untuk mengeksplorasi setiap sudutnya. Sejak SMA, Nadia selalu bermimpi untuk bergabung dengan organisasi yang membawanya lebih dekat dengan alam. Kenangan masa kecilnya yang penuh petualangan di hutan bersama kakeknya selalu membekas dalam ingatannya. Di sana, di antara pepohonan dan suara burung, Nadia menemukan ketenangan dan kebahagiaan yang tidak bisa ia temukan di tempat lain. Karena itulah, saat mendengar tentang organisasi MAPALA di kampus ini, ia tahu bahwa itu adalah jalannya.
Nadia berjalan melewati kerumunan mahasiswa baru lainnya, mencari-cari stan organisasi yang menarik minatnya. Sesekali, ia tersenyum kecil pada beberapa wajah ramah yang ia temui, namun pikirannya tetap fokus pada tujuannya, menemukan MAPALA. Setelah beberapa saat, matanya akhirnya tertuju pada sebuah stan yang dikelilingi oleh foto-foto petualangan di alam liar—pendakian gunung, rafting di sungai deras, dan ekspedisi gua. Hatinya melonjak, inilah yang ia cari.
"Selamat datang di MAPALA!" suara hangat menyapanya saat ia mendekat. Nadia menoleh dan melihat seorang pria berpenampilan sederhana dengan senyum ramah di wajahnya. "Aku Ardi, salah satu anggota MAPALA. Kamu tertarik bergabung?"
Nadia mengangguk, merasa semangatnya menyatu dengan atmosfer di sekitarnya. "Ya, aku Nadia. Aku selalu suka petualangan di alam. MAPALA sepertinya tempat yang sempurna untukku."
Ardi tersenyum, jelas senang mendengar jawaban Nadia. "Kamu tidak salah pilih. MAPALA bukan hanya tentang petualangan, tapi juga tentang mencintai dan melindungi alam. Kami di sini karena kami percaya bahwa alam adalah bagian penting dari hidup kita, dan kita punya tanggung jawab untuk menjaganya."
Kata-kata Ardi mengena di hati Nadia. Ada ketulusan dalam cara Ardi berbicara, seolah setiap kata datang dari pengalaman yang mendalam. Nadia merasakan ikatan yang langsung terbentuk, seakan ia menemukan seseorang yang memiliki pemahaman yang sama tentang kecintaan pada alam. Setelah mengisi formulir pendaftaran dan mendapatkan jadwal orientasi, Nadia merasa bahwa hari pertamanya di kampus ini dimulai dengan sempurna. Ia sudah memulai langkah pertamanya menuju kehidupan kampus yang selalu ia impikan—penuh dengan petualangan, tantangan, dan kesempatan untuk menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri. Saat meninggalkan stan MAPALA, Nadia tak bisa menahan senyum. Hari pertama ini tidak hanya memperkenalkannya pada dunia baru, tetapi juga membuka pintu menuju masa depan yang penuh dengan kemungkinan. Ia tahu bahwa perjalanannya baru saja dimulai, dan ia siap untuk menghadapi segala tantangan yang akan datang.
YOU ARE READING
Distilasi Rasa
RomanceNovel ini adalah kisah tentang cinta, idealisme, dan perjalanan menemukan diri sendiri. Nadia dan Ardi saling mencintai, tetapi terpisah oleh perbedaan pandangan hidup yang mendalam. Ardi, seorang aktivis yang gigih, semakin tenggelam dalam perjuang...
