Di dunia yang mengenalnya sebagai sosok yang keras dan penuh ambisi, tidak ada yang tahu bahwa Duryodhana menyimpan sudut terrapuh di dalam hatinya. Sudut gelap tempat ia meratapi kehilangan Subhadra, wanita yang pernah menjadi poros hidupnya.
Ket...
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
˚˖𓍢ִ໋🦢˚
Tawa meledak dari dadaku, sebuah suara sinis yang memantul di dinding-dinding kayu bangunan sialan ini. Aku menatap wanita berjubah itu dengan tatapan meremehkan, seolah kalimatnya hanyalah lelucon paling hambar yang pernah kudengar di sepanjang pesisir Alethia.
"Membeliku?" aku mendengus, merapikan letak kain di bahuku dengan gestur yang masih menyisakan keanggunan seorang bangsawan. "Nona, sepertinya kau butuh udara segar. Kau tidak tahu siapa yang sedang kau ajak bicara."
Bagus. Dengan ini, ia pasti akan mundur.
Namun, seringaiku membeku ketika ia dengan gerakan tenang mengeluarkan sekantong koin emas yang berat dan menjatuhkannya ke tangan pria paruh baya di sampingnya. Denting logam mulia itu terdengar nyata, sebuah deklarasi bahwa ia tidak sedang bersenda gurau.
Glek!
Belum sempat aku memproses penghinaan ini, dua pria bertubuh besar mendekatiku dengan tangan terulur, siap 'mempersiapkanku'. Darahku mendidih. Aku menepis tangan mereka dengan kasar dan melangkah maju hingga wajahku hanya berjarak beberapa inci dari tudung hitam wanita itu.
"Hentikan kegilaan ini," bisikku dengan suara rendah yang biasanya sanggup membuat orang-orang berlutut. "Aku adalah Duryodhana. Yuvraj dari Hastinapura, pewaris sah takhta Kuru. Kau telah bertindak lancang melebihi batas yang bisa dimaafkan oleh hukum mana pun."
Krik... krik... krik...
Aku menunggu. Aku menunggu mereka jatuh tersungkur, memohon ampun, atau setidaknya pucat pasi karena menyadari mereka baru saja mencoba menjual harga diri seorang calon maharaja. Namun, kesunyian yang mengikuti kata-kataku justru lebih menyakitkan daripada tamparan.
Wanita di hadapanku tidak bergeming. Tak ada gemetar di jemarinya, tak ada keterkejutan dalam napasnya. Bahkan pria tua bangka pemilik tempat ini hanya menatapku dengan pandangan kosong, seolah 'Hastinapura' hanyalah nama sebuah desa terpencil yang tak pernah ada dalam peta sejarah mereka. Ternyata, keagungan bangsaku tidak lebih dari sekadar dongeng yang tak laku di ujung tempat ini.
"Yuvraj?" pria tua itu akhirnya bersuara, terkekeh kecil sambil menghitung koin. "Kau bisa mengaku sebagai dewa sekalipun di sini, Anak Muda, selama kau punya wajah yang bisa membuat para wanita merogoh kantong mereka sedalam ini."
Si Tua Bangka ini, benar-benar harus kuberi pelajaran.
Aku menyeret pria tua itu menjauh ke sudut ruangan, mencengkeram pundaknya dengan geram. "Dengar, Tuan. Kau tidak memiliki hak untuk menjual ku seperti tadi. Aku punya cukup emas untuk membeli seluruh bangunan kumuhmu ini beserta isinya. Aku tidak perlu menjual diriku demi kepingan logam kotor ini!"