Sebenarnya, apa itu keadilan?
Apakah itu ketika si kaya punya segalanya melainkan kebahagiaan, sedangkan si miskin sebaliknya?
Omong kosong macam apa itu. Kata siapa menjadi miskin menyenangkan? Dan kata siapa pula menjadi kaya tidak memberi kebahagiaan? Realita yang kulihat tidak seperti itu.
Aku ralat pertanyaanku kalau begitu. Apakah keadilan itu benar-benar ada? Atau hanya suatu kata palsu yang dibutuhkan seseorang yang lemah—termasuk si miskin itu? Kalau suatu hari si miskin menjadi kaya dan berlagak seenaknya (menurut si miskin yang lain), apakah dia masih akan berteriak tentang keadilan?
Jika ditilik lagi, apakah keadilan hanya dibutuhkan manusia (lemah)? Bagaimana dengan makhluk lain? Orang utan, harimau, serigala, rubah, lumba-lumba, dan hutan ribuan hektar? Apakah manusia tidak pernah berpikir bahwa kalaupun mereka lemah, ada makhluk lain yang lebih lemah karena dirugikan mereka?
Sudah ku bilang, manusia itu munafik. Tidak ada yang benar dan salah kalau tentang mereka. Melainkan tentang yang diuntungkan dan dirugikan.
Yah, aku mengerti setiap individu butuh makan. Makanan didapat dari individu yang lebih lemah. Harimau memakan rusa, lantas apakah dunia ini tidak adil pada rusa? Apakah kawanan rusa yang lain akan berteriak meminta keadilan dan menyerang balik si harimau? Jadi, dengan analogi itu, keadilan itu hanya dibutuhkan manusia lemah.
Manusia punya akal dan emosi. Mereka berteriak ketika marah, ketika mereka merasa dirugikan.
Sedangkan, bagi kami? Keadilan itu ada, hanya saja kami tidak membutuhkannya. Kami yang (berusaha) membuatnya ada. Kami tidak serakah seperti manusia, malahan kami yang harus membereskan kerusuhan yang mereka buat demi menjaga resistensi ekosistem alami bumi.
Jadi balik lagi, apa itu keadilan? Kami mendefinisikannya sebagai upaya menyadarkan mereka semua yang merasa dirinya kuat bahwa ada yang lebih berkuasa dari mereka, bahwa mereka akan mati pada akhirnya. We work to humbled them, at last, before the God choose to take our life too.
Namun pertanyaanku, apa benar kami tidak serakah dengan sesama kami? Segala bentuk penyimpangan takdir akan berujung pada kekacauan. Apabila saat itu tiba, Langit yang akan turun tangan membereskan semuanya.
Dan apakah itu disebut keadilan kalau pada akhirnya semua mati tak bersisa? Itu bukan ranahku untuk menjawab, itu urusan Sang Pencipta.
***
Gulungan gelombang bergradasi putih kebiru-biruan saling bertabrakan, menghasilkan deru yang menenangkan. Udara yang berhembus membawa aroma garam, membawa kesan segar yang menyenangkan. Sembari berbaring di atasnya, sentuhan butiran halus pada kulit terasa bagai permadani berbahan sutra.
Meski mata tengah terpejam, bukan hitam pekat yang terlihat, melainkan hitam yang mengabur. Terdapat warna putih di titik tengahnya yang membaur ke segala arah, membuatnya terlihat seperti penantian yang akan datang. Bagai pintu keluar yang akhirnya ditemukan setelah perjuangan panjang dalam labirin penuh rintangan. Matahari seperti sedang menunjukkan kekuatannya dalam menembus dinding kegelapan, dengan cahayanya yang membawa harapan. Oh Tuhan, apakah ini sur—
"Bikin puisi, Meg?"
Ck.
"Lah, sensi. Aku cuma nanya."
Megan hanya bisa menghela napas. Ayal membuka mata, topi pantai bermodel floppy yang Claire pakai berhasil menghalangi datangnya cahaya matahari yang sebelumnya Megan puja, membuat pandangannya menggelap karena bayangan dari si pemilik topi. Claire menunduk dan memandanginya heran. Dalam keterbatasan cahaya, Megan hanya dapat menangkap kedua netra berwarna ungu muda yang kini tengah menyala. Light-purple pearl core owner, mind and shadow controller.
YOU ARE READING
Cease and Desist
FantasyAlam ini bagaikan pesulap, kata seseorang. Bagaimana matahari memberi energi, bagaimana air mengalir dan memuaskan dahaga, dan bagaimana abu letusan gunung berapi dapat menyuburkan tanah, semua peristiwa yang terjadi di alam terasa bagaikan sihir...
