----🥇⚡️🌎🧠----
Langit sore keemasan memudar menjadi kelabu, seolah sedang bersedih atas sesuatu yang tidak disebutkan namanya. Deru ombak menyapu pesisir pasir pantai dengan suara yang menenangkan, seolah sedang membisikkan rahasia yang tidak bisa dimengerti siapapun.
Seseorang berdiri di sana, sendirian... dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana. Sepasang sepatu tua nya sudah basah terkena ombak, tapi dia tidak bergerak.
Pemuda itu menatap luasnya laut dengan wajah datar, dia berusaha menikmati suasana pantai yang berisik namun mampu membawa perasaan yang menenangkan, hembusan angin terus-menerus menerpa wajahnya, menerbangkan sedikit helai rambut di dahinya.
Ekspresinya memang datar tapi dia tidak bisa menutupi rasa sedih yang dia rasakan, kedua matanya yang sembab dan merah serta bibirnya yang pucat enggan untuk tersenyum.
Di tangannya, tergenggam selembar kertas usang yang lipatannya sudah hampir sobek. Tinta hitam yang luntur mengaburkan sebagian kata-kata yang memenuhi bagian satu kaca itu, tapi ada satu paragraf yang masih utuh, seolah sengaja diabadikan.
Kak Alby... Maaf, aku nggak kuat nahan semuanya lagi. Tapi, aku seneng bisa jadi adikmu. Terus maaf juga karena aku nggak jujur dari awal. Andai... waktu bisa diulang ya kak, aku harap kita bisa mulai dari awal. Sebelum semuanya hancur, kayak sekarang.
Tak jauh di belakangnya, seseorang anak kecil sedang bercanda dengan kakak perempuan dan kedua orang tuanya. Pemuda itu mengamati interaksi mereka berempat dalam diam, hingga perasaan itu tak bisa lagi dia tahan.
Tubuhnya merosot jatuh bersamaan dengan air matanya yang mengalir deras, dia jatuh bersimpuh di atas pasir sambil memandang hamparan ombak. Sesekali dia memukuli dadanya karena rasa sesak yang tidak bisa diutarakan, mulutnya ingin berteriak tapi suaranya tidak bisa keluar.
"Kenapa aku gagal melindungi mereka?" gumamnya sangat pelan.
Orang-orang di sekitarnya mulai memperhatikannya tapi tak seorang pun yang berani mendekati pemuda itu, dia terus menangis hingga air matanya tak bisa lagi keluar.
"Maaf...." Gumamnya berkali-kali.
Entah sudah berapa lama dia menangis di sana, yang pasti air matanya sudah tidak bisa keluar walaupun dia masih ingin menangis. Pandangannya naik untuk menatap hamparan laut dengan tatapan kosong.
"Beri aku kesempatan untuk bisa mengubahnya Tuhan, kumohon hanya pada-Mu...." Batinnya.
Drtt....
Pemuda itu mengusap wajahnya kasar lalu mengeluarkan ponsel hitam dari saku jas hitam yang sedang dia kenakan, nama Saadan muncul di layar hingga tombol hijau ditekan.
"...."
"Lu di mana?" Tanya seseorang dengan nyaring dari balik telepon.
Alby menutup mata perlahan, suara Saadan terdengar goyah seperti mencoba untuk tetap tenang padahal bisa dipastikan dia sangat panik sekarang.
"Lu nyari udara doang lama banget, banyak yang harus diurus tau ini...." Hening sebentar, "Kak?"
"Kak Alby?! Nggak lucu asli!"
Alby menghela napas panjang, sebelum suara rendahnya keluar seperti bisikan halus di tengah deru ombak.
"Aku di sini. Dan... semua akan baik-baik aja." Alby menarik napas panjang, matanya mulai merah dan air mata berkumpul seolah bisa jatuh kapan saja.
"Kalau bukan hari ini, mungkin nanti. Tapi kamu tenang aja, semua akan indah pada waktunya, Dan."
Suasana kembali hening, hanya terdengar suara ombak. Begitu pun dari arah Saadan, dia terdiam.
"Lu ngomong apaan sih?! Lu dimana sekarang, hah?!" Suara Saadan seperti naik dua oktaf.
Alby tersenyum kecil, pipinya sudah basah dengan air mata.
"Maafin gue yaa kalau buat lu marah... makasih juga udah jadi adik yang paling ribut dan sayang sama gue."
"Ombak! Itu suara ombak! Bodo amat gue gak mau dengerin omongan lu. Kita ketemu sekarang lu di...."
Tut....
Panggilan diputus secara sepihak. Alby mematikan daya ponselnya dan membuangnya ke pasir putih dibelakangnya, jauh dari air.
Dengan tatapan putus asa, dia melangkah pelan ke arah ombak yang makin naik, seperti sedang mengamuk.
Tepat saat air mencapai lututnya, langkahnya terhenti.
Ada sesuatu di bawah yang melilit kaki kanannya, Alby menunduk dan menarik benda itu keluar air, sebuah tali berbahan kulit yang kasar.... dan sebuah jam pasir.
Kacanya basah terkena air, ada retakan kecil di satu sisinya dan anehnya warna pasir itu berkilau seperti berlian.
"Ini..." Alby mengernyit saat menyadari pasir-pasir biru itu bergerak naik, melawan gravitasi.
----🥇⚡️🌎🧠----
YOU ARE READING
Volare
Teen FictionVolare adalah kata kerja dalam dalam bahasa Latin dan bahasa Italia yang berarti terbang, sedangkan dalam bahasa Spanyol berarti Saya akan terbang. Tapi yang kumaksud bukan berarti seorang manusia bisa terbang layaknya seekor burung, kalian bisa men...
